Surat-surat Wibawa kini berbicara dengan suara yang berbeda di kepala Damar. Sebelumnya ia membacanya seperti membaca ancaman dari musuh. Sekarang, dengan tanggal kematian di nisan itu terpatri di benaknya, ia membacanya seperti membaca wasiat yang diserahkan dari satu generasi dendam ke generasi berikutnya.
Ia menghampar fotokopi surat-surat itu di lantai kamar rumah singgah. Tulisan tangan Wibawa tidak rapi seperti tulisan Suara. Hurufnya goyah, miring, ditekan terlalu keras sampai kertasnya berlubang di beberapa tempat. Tulisan orang yang menulis dengan tangan gemetar oleh sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Tapi di sela-sela kemarahan itu, ada kalimat-kalimat yang ditujukan bukan pada musuh, melainkan pada seseorang yang lebih muda.
"Kalau Bapak tidak sempat, kamu yang harus ingat. Jangan biarkan mereka tidur nyenyak. Mereka membunuh ibumu dengan diam mereka. Pengacara itu, hakim itu, orang-orang pabrik itu. Mereka semua menandatangani kematian ibumu di atas kertas, lalu pulang ke rumah masing-masing dan tidur. Jangan biarkan mereka tidur, Nak."
Damar membaca itu tiga kali. Jangan biarkan mereka tidur, Nak. Dan kini, sepuluh tahun kemudian, seseorang membunuh dan menelepon penyiar radio tengah malam, jam yang tepat ketika orang seharusnya tidur. Lentera Malam. Acara untuk para insomnia, untuk orang-orang yang tak bisa terlelap. Suara memilih frekuensi itu bukan secara acak. Ia memilihnya karena ia sendiri tak pernah bisa tidur lagi, dan ia ingin memastikan tak seorang pun yang bersalah bisa tidur juga.
Bayangan itu menyusup ke dada Damar dan menetap di sana. Seorang anak, mungkin masih belasan ketika ibunya mati, duduk di samping ayah yang perlahan kehilangan akal. Mendengar ocehan dendam itu malam demi malam sampai dendam itu jadi satu-satunya bahasa yang ia kenal. Lalu ayah itu mati pula, meninggalkannya sendirian dengan dua makam dan satu daftar nama yang belum lunas. Anak itu tidak punya warisan apa pun selain itu. Tidak ada uang, tidak ada keluarga, tidak ada masa depan. Hanya daftar nama dan kalimat ayahnya yang menggema: jangan biarkan mereka tidur.
Damar menarik napas dan menulis di kertas dindingnya, di bawah semua catatan korban dan calon korban yang sudah ia petakan. Pelaku = anak Wibawa & Sari. Meneruskan rencana ayah. Bukan memulai, melanjutkan. Lalu ia berhenti, pena menggantung di udara, karena kalimat berikutnya yang muncul di benaknya membuat perutnya mengencang.
Aku juga anak yang menanggung dosa orang tua.
Ia dan Suara berdiri di dua sisi dari satu garis yang sama. Suara adalah anak korban, mewarisi dendam ayahnya. Damar adalah anak pelaku, mewarisi rasa bersalah yang bahkan tak ia ketahui ada sampai beberapa minggu lalu. Ayah Suara menulis daftar nama untuk diburu. Ayah Damar menandatangani kertas yang membunuh ibu Suara, lalu menghilang, meninggalkan Damar untuk menanggung tagihannya. Dua ayah. Dua anak. Satu utang.
Itulah, sadarnya dengan dingin, kenapa Suara tidak langsung membunuhnya. Kenapa Suara malah menelepon, mengundang, bermain. Karena bagi Suara, Damar bukan sekadar target di daftar. Damar adalah cermin. Suara ingin Damar mengerti, ingin Damar merasakan persis apa yang ia rasakan: dipilih oleh nasib untuk menanggung sesuatu yang bukan perbuatannya. "Untuk menggantikan," begitu kata surat di menara air itu. Suara tidak ingin Damar mati. Suara ingin Damar menjadi dirinya.
Ponselnya bergetar. Lana. "Mar, kamu di mana? Pak Hasan nelpon aku, katanya kamu gak masuk dua malam. Kamu gak apa-apa?"
Damar menatap ponsel itu, lalu menatap surat-surat di lantai. Suara hangatnya, yang selama tiga tahun ia pinjamkan ke seluruh kota, terasa jauh sekarang, seperti milik orang lain. "Aku gak apa-apa, Lan," katanya, dan bahkan ia mendengar betapa datarnya suaranya sendiri. Datar. Presisi. Seperti suara yang ia takuti.
Ia menutup telepon sebelum Lana sempat menjawab, dan duduk lama di antara surat-surat seorang ayah yang sudah mati, di kamar yang bukan miliknya, dengan kesadaran yang tumbuh perlahan dan menakutkan bahwa garis antara pemburu dan yang diburu, antara dirinya dan Suara, jauh lebih tipis dari yang pernah ia kira.