Petunjuk itu membawa Damar ke tempat yang paling tidak ia duga: sebuah pemakaman umum di pinggir kota, di lereng yang ditumbuhi rumput gajah dan pohon kamboja tua. Surat lama Wibawa yang ia temukan dua malam sebelumnya menyebut satu kalimat yang terus berputar di kepalanya. "Aku akan menyusulmu kalau semua sudah lunas." Kalau. Bukan sudah. Berarti, saat menulis itu, Wibawa masih hidup. Tapi sejak kapan? Dan sampai kapan?
Damar memarkir motornya di gerbang besi yang sebagian catnya mengelupas. Penjaga makam, seorang lelaki kurus dengan caping lusuh, menatapnya curiga ketika Damar menyebut nama Sari. Buruh PT Mukti Sandang. Mati sepuluh tahun lalu. Penjaga itu mengerutkan dahi, lalu mengangguk pelan, seakan nama itu memang pernah singgah di telinganya bertahun-tahun lalu dan tak pernah benar-benar pergi.
"Yang itu," kata penjaga, menunjuk dengan dagunya ke sudut paling jauh, blok yang jarang dilewati pelayat. "Tapi sebelahnya juga ada. Suaminya, kalau gak salah. Baru beberapa tahun ini."
Tengkuk Damar mendingin. Ia mengikuti penjaga itu menyusuri jalan setapak yang berlumut, melewati nisan-nisan yang miring dimakan waktu. Di sudut yang ditunjuk, dua gundukan tanah berdampingan. Nisan pertama: nama Sari, tahun lahir, tahun mati sepuluh tahun lalu. Hurufnya pudar, dimakan lumut, tapi masih terbaca.
Nisan kedua membuat napas Damar tercekat. Wibawa. Tahun matinya tertera jelas di sana: tiga tahun lalu. Tiga tahun. Wibawa sudah mati tiga tahun sebelum telepon pertama itu masuk ke studio.
Damar berlutut di depan dua nisan itu, lututnya basah oleh embun pagi yang belum kering. Ia menatap angka di nisan Wibawa berkali-kali, seakan menunggunya berubah. Tidak berubah. Tiga tahun. Itu berarti, ketika Suara menelepon di malam pertama, mengaku menutup mata korban "sebagai kebaikan", Wibawa sudah lama berada di dalam tanah ini, di samping istrinya, di bawah dua nisan yang tak punya satu pun bunga.
Selama berminggu-minggu Damar membayangkan Wibawa sebagai dalang. Lelaki tua yang patah hati, yang kesedihannya membeku jadi rencana, yang menggerakkan semuanya dari balik bayang. Tapi nisan ini menjawab pertanyaan yang ia takuti. Wibawa tidak menggerakkan apa-apa. Wibawa hanya menulis surat-surat penuh dendam yang tak sempat ia tunaikan, lalu mati membawanya. Yang menelepon Damar, yang menutup mata korban, yang menempelkan perekam di bawah laci kamarnya, yang menata puntung rokok berjajar rapi di kaki menara air, bukan ayah. Anaknya.
Anak laki-laki pendiam bermata dingin yang disebut tetangga itu. Anak yang dulu sekolah di SMK dekat gang lama. Anak yang tumbuh sambil menyaksikan ayahnya menulis surat-surat itu, mengoceh sendiri di rumah yang ditinggalkan dua kali, bersumpah membuat semua yang bersalah membayar. Anak yang, ketika ayahnya mati tanpa sempat membayar utang itu, mengambil alih buku besar dendam keluarga seakan itu warisan yang harus ia tagih sendiri.
Damar berdiri perlahan, lututnya kaku. Ia menatap dua gundukan tanah tanpa bunga itu, dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia merasakan sesuatu yang asing di dadanya. Bukan takut. Bukan amarah. Sesuatu yang lebih dekat dengan iba, yang membuatnya benci pada dirinya sendiri karena merasakannya. Sari mati. Wibawa mati menanggung luka yang tak pernah disembuhkan keadilan. Dan di antara dua nisan ini, ada seorang anak yang tumbuh sendirian dengan tanah ini sebagai satu-satunya tempatnya pulang.
"Pak," Damar menoleh ke penjaga makam yang masih menunggu di jalan setapak. "Anaknya pernah ke sini? Ada yang merawat makam ini?"
Penjaga itu mengangguk pelan. "Ada. Laki-laki muda. Datangnya gak tentu, kadang tengah malam, sampai saya tegur. Gak pernah bawa bunga. Cuma duduk lama, ngomong sendiri. Bersihin rumput, terus pulang." Ia menggaruk tengkuknya. "Orangnya dingin. Saya tegur baik-baik, dia cuma nengok. Matanya itu, Mas… kayak gak ada apa-apa di dalamnya."
Damar menatap rumput di sekitar dua nisan itu. Bersih. Lebih bersih dari makam-makam di sekitarnya yang ditumbuhi ilalang. Seseorang merawatnya. Seseorang yang datang tengah malam, duduk lama, bicara sendiri ke dua gundukan tanah, lalu pulang ke entah mana untuk menyiapkan korban berikutnya. Bisikan ke makam, pikir Damar dengan dingin yang menjalar ke ujung jarinya. Sama seperti aku berbisik ke foto ibuku.
Ia mengeluarkan ponsel dan memotret dua nisan itu, tangannya nyaris tak gemetar lagi. Lalu ia mengetik pesan ke Iptu Rangga. "Pak. Wibawa sudah mati tiga tahun lalu. Saya di makamnya sekarang. Pelaku bukan dia. Pelaku anaknya, dan dia masih datang ke sini." Ia menekan kirim, lalu berdiri sejenak lebih lama, memandang dua nisan tanpa bunga itu.
Selama ini ia mengejar hantu seorang ayah. Ternyata yang ia buru adalah seorang anak, sama sepertinya. Anak yang menanggung dosa orang tua. Dan untuk pertama kalinya, Damar merasa ia tidak sedang menatap monster di kejauhan, melainkan ke sebuah cermin yang gelap.