Damar mencetak satu frame dari rekaman itu — setengah profil yang tertangkap cahaya — dan menempelkannya di tengah dinding kamarnya, di antara semua benang dan nama. Lalu, malam demi malam, ia mulai terobsesi.
Ia menatap gambar buram itu sampai matanya perih. Garis rahang. Lengkung alis. Bentuk telinga yang separuh tertutup tudung. Ia mencoba mencocokkannya dengan setiap wajah yang ia punya: foto-foto buruh dari arsip koran, foto reuni yang ditemukan Lana, bahkan wajah orang asing yang ia papasi di jalan. Tidur jadi barang langka. Ia membawa cetakan itu ke mana-mana di saku, mengeluarkannya di lampu merah, di warung, di studio, membandingkannya dengan kerumunan.
"Mar." Lana menangkap pergelangan tangannya suatu sore di warung Bang Toni, saat Damar untuk ketiga kalinya mengeluarkan cetakan lusuh itu dan memindainya ke wajah-wajah pelanggan. "Kamu lihat dirimu gak? Kamu mulai curiga sama semua orang."
"Karena dia bisa siapa saja," kata Damar, suaranya lebih tajam dari yang ia maksud. "Dia sebaya kita, Lan. Dia bisa orang yang barusan beli rokok di depan kita. Dia bisa duduk dua meja dari sini sekarang."
Lana menatapnya lama, cemas. "Atau kamu udah capek sampai kamu lihat dia di mana-mana padahal dia gak di mana-mana." Ia menurunkan suaranya. "Gambar itu buram banget, Mar. Itu bisa setengah laki-laki muda di kota ini. Kamu yakin itu beneran dia? Atau kamu yakin karena kamu butuh yakin?"
Pertanyaan itu menusuk, karena Damar sudah menanyakannya sendiri pada dirinya, berkali-kali, di jam-jam ketika otaknya cukup jernih untuk meragukan. Bagaimana kalau sosok bertudung itu hanya pembeli biasa? Bagaimana kalau seluruh keyakinannya dibangun di atas dua frame buram yang otaknya yang putus asa paksa jadi wajah musuh? Suara cukup pintar untuk tahu Damar akan melacak perekam itu. Cukup pintar, mungkin, untuk mengirim orang lain membelinya — umpan, sengaja tertangkap kamera, sengaja muda dan bertudung, untuk membuat Damar mengejar bayangan yang salah. Persis seperti Bayu. Persis seperti korban kedua yang tak pernah ada.
Malam itu, di studio dengan teknisi pengganti yang asing dan pendiam, telepon datang seperti biasa.
"Kamu menemukan rekaman tokonya," kata Suara, dan ada sesuatu yang baru di nadanya — bukan pujian kali ini, melainkan kehati-hatian, seperti seseorang yang menjaga jarak. Atau begitu Damar mengira ia mendengarnya. "Kamu pikir itu aku."
"Itu kamu," kata Damar. "Aku tahu itu kamu."
Hening sejenak. Lalu Suara, pelan: "Apa yang membuatmu yakin, Damar? Sebuah bayangan? Sebuah rahang? Berapa banyak lelaki di kota ini yang punya rahang seperti itu?" Jeda. "Aku bisa saja itu aku. Atau aku bisa saja seseorang yang kubayar untuk masuk ke toko itu, supaya kamu menghabiskan minggu-minggumu menatap wajah yang salah, sampai kamu tak bisa lagi mempercayai matamu sendiri. Mana yang benar? Kamu tidak akan pernah tahu. Itulah hadiahnya."
Saluran terputus, dan meninggalkan Damar dengan sesuatu yang lebih buruk dari ketidaktahuan: keraguan yang ditanam dengan sengaja. Suara tidak menyangkal, tidak mengakui. Ia hanya mengubah satu petunjuk nyata jadi cermin retak, di mana setiap pantulan bisa benar atau bisa jebakan. Damar menatap cetakan buram di dinding kamarnya malam itu, dan untuk pertama kalinya tidak tahu apakah ia sedang menatap wajah pembunuh, atau wajah orang asing yang dipakai untuk membuatnya gila. Dan tidak tahu, ia mulai mengerti, adalah penjara yang paling rapat dari semua.