Rangga menyebut nama itu lewat telepon dengan nada hati-hati seseorang yang tahu ia membuka pintu yang tak bisa ditutup lagi. "Perekam mini yang Anda temukan di kamar Anda dulu. Forensik selesai. Tidak ada sidik jari yang berguna. Tapi nomor seri masih utuh. Saya lacak distributornya."
Damar mencengkeram ponsel. Perekam itu — benda kecil hitam yang telah mendengar setiap bisikannya ke foto ibunya — adalah benang yang sejak dulu ia sesali tak sempat ia periksa sendiri. Kini benang itu bergerak.
"Distributornya cuma kirim ke beberapa toko elektronik di kota," lanjut Rangga. "Saya sudah kunjungi semua. Empat toko. Tiga tidak punya catatan penjualan unit dengan seri itu — biasanya barang begini dibayar tunai, tidak dicatat. Tapi satu toko, di kawasan pasar lama, punya CCTV yang menyimpan rekaman tiga bulan ke belakang. Dan tanggal penjualan unit itu cocok dengan periode sebelum Anda menemukannya."
Damar berdiri begitu cepat kursinya nyaris terguling. "Bapak punya rekaman orang yang membelinya?"
"Saya punya rekaman seseorang membeli sesuatu di konter itu pada tanggal yang cocok," kata Rangga, dengan kehati-hatian yang sengaja. "Itu tidak sama. Bisa orang lain, bisa transaksi lain. Tapi ini petunjuk paling dekat yang kita punya ke wajahnya. Datang ke kantor. Anda kenal kota ini, kenal orang-orangnya. Mungkin Anda lihat sesuatu yang petugas saya lewatkan."
Di kantor, Rangga memutar rekaman di layar komputernya. Kualitasnya buruk — kamera tua, sudut tinggi, hitam putih berbintik. Toko elektronik sempit. Konter di pojok. Dan seseorang, sosok lelaki, masuk dari kanan layar.
Damar mencondongkan tubuh sampai hidungnya hampir menyentuh layar. Sosok itu mengenakan jaket gelap dengan tudung, kepala sedikit menunduk, seolah ia tahu di mana setiap kamera berada dan menghindarinya dengan kebiasaan yang sudah terlatih. Tangannya menunjuk barang di etalase. Membayar tunai. Mengantongi sesuatu. Lalu berbalik dan keluar, tudung tak pernah turun, wajah tak pernah menghadap kamera lebih dari sepersekian detik.
"Putar lagi," kata Damar, suaranya kering. "Pelan."
Rangga memutar ulang. Pada satu titik, saat sosok itu berbalik untuk keluar, kepalanya terangkat sedikit — mungkin untuk melihat pintu, mungkin refleks. Dan selama satu, dua frame, sebelum tudung dan bayangan menelannya kembali, garis rahang dan setengah profil wajah tertangkap cahaya neon toko.
Damar menahan napas. Lelaki muda. Itu yang ia tangkap. Bukan tua. Bukan Wibawa yang seumuran ayahnya. Lelaki muda, mungkin akhir dua puluhan, awal tiga puluhan — seusia Damar sendiri. Rahang tegas. Sesuatu di postur itu, di cara ia bergerak tanpa membuang satu gerakan pun, presisi yang sama dengan puntung rokok yang ditata berjajar, dengan kain yang ditutupkan rapi di mata korban.
"Itu dia," bisik Damar. "Itu anak Wibawa."
"Itu mungkin dia," koreksi Rangga, tapi nadanya sendiri tidak yakin pada koreksinya. "Kita tidak bisa identifikasi dari ini. Tidak ada wajah penuh. Tidak ada nama. Saya akan kirim ke lab untuk perbaikan citra, tapi jangan berharap banyak." Ia menatap Damar. "Tapi setidaknya sekarang kita tahu satu hal. Dia muda. Sebaya Anda."
Damar menatap sosok beku di layar itu, bayangan berkapuk tudung yang telah masuk ke kamarnya, mendengar bisikannya, mengikuti langkahnya selama berminggu-minggu. Untuk pertama kalinya, monster di telepon punya bentuk. Bukan wajah — belum. Tapi tubuh, gerak, usia. Seseorang yang nyata, dari daging dan tulang, yang berjalan di kota yang sama, bernapas udara yang sama. Dan entah kenapa, mengetahui Suara itu manusia, semuda dirinya, jauh lebih menakutkan daripada saat ia hanya suara di udara.