Damar tidak tidur sampai matahari membakar tirai tipis di rumah singgah. Di lantai, dua lembar foto yang ia cetak di warnet kemarin tergeletak bersebelahan, dan ia menatap keduanya seperti menatap dua wajah yang menolak ia damaikan.
Foto pertama dari arsip persidangan: ayahnya, mengenakan jas yang terlalu rapi, berdiri di depan gedung pengadilan dengan map di tangan, dagu terangkat, senyum tipis seorang yang menang. Foto kedua dari koran lama, buram dan bergerigi: Wibawa, dengan kemeja kusut, mulut terbuka di tengah teriakan yang tak terdengar, satu tangan menggenggam selembar kertas yang Damar kini tahu adalah surat penolakan gugatan. Dua ayah. Satu yang merampas, satu yang dirampas. Dan di antara keduanya, dua anak laki-laki yang tak pernah saling kenal sampai salah satu dari mereka menelepon di tengah malam.
"Aku tidak memilih ayah itu," bisik Damar pada foto ibunya, yang ia letakkan di meja kecil, bersandar pada gelas. Ia sudah berhenti pura-pura bahwa kebiasaan ini hanya untuk dirinya. Ada telinga lain yang mungkin mendengar, dan kini ia bicara setengah untuk ibunya, setengah untuk siapa pun yang menyimak. "Kamu juga tidak memilih dia, kan, Bu? Kamu cuma mencintainya sebelum kamu tahu dia bisa melakukan hal seperti itu."
Ia bangkit, menempelkan kedua foto itu ke dinding kamarnya yang sudah penuh benang, garis, dan nama. Di tengahnya, ia menarik garis dengan spidol dari wajah ayahnya ke wajah Wibawa. Garis itu, ia sadari, bukan hanya garis kasus. Itu garis warisan. Ayahnya menanam dosa; Wibawa menyimpannya jadi bibit; dan seseorang yang lahir dari Wibawa kini menyiramnya jadi pohon yang buahnya kematian. Damar berdiri di ujung garis itu sendiri. Anak dari penanam dosa, dipilih untuk menanggung panen.
Ia mencoba memasuki kepala dua orang itu, satu per satu. Ayahnya — Damar nyaris tak punya kenangan utuh tentangnya, hanya potongan: bau rokok kretek, suara mengetik mesin tik larut malam, telepon-telepon berbisik yang selalu berhenti saat Damar masuk ruangan. Anak kelas dua SMP saat itu tidak tahu bahwa bisikan-bisikan itu sedang menjual nyawa seorang buruh perempuan demi honor yang membayar uang sekolahnya. Damar merasa mual setiap kali memikirkan itu. Seragam SMP-nya, mungkin, dibeli dengan keadilan Sari.
Lalu Wibawa. Damar tidak pernah bertemu lelaki itu, tapi ia bisa membayangkannya dari kesaksian-kesaksian tetangga yang ia kumpulkan. Lelaki yang setiap pagi pergi ke kantor pengacara, ke kantor polisi, ke kantor wartawan, membawa map yang sama, menceritakan kisah yang sama, dan ditolak dengan cara yang sama. Sampai map itu lecek, sampai suaranya habis, sampai tetangga mulai menutup pintu kalau melihatnya datang. Keadilan yang tak datang, kata Suara di telepon dulu, bisa mengubah seseorang. Damar kini mengerti kalimat itu bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai keterangan klinis. Itu otobiografi.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Lana: "Mar, kamu makan belum? Jangan kurus-kurusin diri buat orang yang gak pantes." Damar tersenyum tipis, lalu senyum itu hilang. Lana tidak tahu separuh dari apa yang ada di dinding ini. Damar sengaja menjaganya tidak tahu. Karena makin banyak yang Lana tahu, makin menarik ia bagi Suara.
Ia kembali menatap dua foto itu. Sebuah pertanyaan yang sejak semalam menggerogotinya akhirnya ia izinkan keluar, pelan, ke udara kamar: kalau ayahnya yang membuat anak Wibawa jadi pembunuh, apakah itu berarti Damar juga punya benih yang sama? Darah yang sama mengalir di keduanya — di anak korban, dan di anak pelaku dosa. Bedanya cuma di sisi mana garis itu jatuh.
"Aku tidak akan jadi seperti dia," kata Damar. Ia tidak yakin apakah ia bicara tentang ayahnya, atau tentang Suara, atau tentang keduanya yang dalam kepalanya mulai meleleh jadi satu bayangan.
Pukul sebelas, Rangga mengirim pesan singkat: ada perkembangan, datang ke kantor sore ini. Damar memandang dua foto itu untuk terakhir kali sebelum mengambil jaket. Di pintu, ia berhenti. Sesuatu mengganjal. Ia kembali, mencabut foto ayahnya dari dinding, dan membaliknya menghadap tembok. Bukan karena ia tak mau melihatnya. Tapi karena ia tak mau, hari ini, mulai memandang dunia dari mata lelaki itu. Itu, ia tahu, persis cara Suara ingin ia berpikir. Dan untuk pertama kalinya sejak permainan dimulai, Damar memilih untuk tidak menurut.