Malam itu Damar tidak bisa tidur, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, bukan ketakutan akan masa depan yang membuatnya terjaga, melainkan tarikan ke masa lalu. Ancaman terhadap Lana, kecurigaan kota, tekanan polisi—semuanya berakar di satu tempat yang sudah bertahun-tahun ia kunci rapat: ayahnya, dan kota kecil di kaki gunung tempat ia dilahirkan. Kalau ia ingin mengerti Suara, ia harus mengerti dari mana ia sendiri berasal.
Ia mengeluarkan dompetnya, menarik foto hitam putih ibunya dari balik KTP. Wajah yang tersenyum lembut, sudah usang oleh sentuhan bertahun-tahun. Dulu ia akan berbisik kepadanya. Kini ia tahu ada yang mendengar—Rangga telah menemukan dan menyita perekam itu sebagai bukti, tapi Damar tak pernah benar-benar yakin tak ada yang lain. Maka ia hanya menatap foto itu dalam diam, dan membiarkan ingatan datang.
Ia ingat rumah masa kecilnya. Halaman dengan pohon jambu. Ayahnya yang sering pulang larut, membawa map-map tebal, berbicara di telepon dengan suara serius yang tak pernah Damar pahami. Ayahnya seorang pengacara—itu Damar tahu—tapi ayah seperti apa yang membela pabrik melawan janda buruh, itu yang tak pernah ia tanyakan, karena anak kecil tidak bertanya hal-hal seperti itu. Ayahnya hanya ayah. Sosok besar yang kadang mengusap kepalanya, lebih sering tidak ada.
Lalu sesuatu muncul dari kedalaman ingatan, sesuatu yang tak pernah ia hubungkan dengan apa pun sebelum malam ini. Sebuah sore, ia mungkin berusia sebelas atau dua belas tahun, sebelum ibunya sakit. Ada orang-orang datang ke rumah mereka. Bukan tamu biasa. Seorang lelaki dan seorang perempuan, pakaian sederhana, wajah lelah. Mereka berdiri di teras, tidak diizinkan masuk. Lelaki itu bicara keras, suaranya pecah, memohon dan marah bergantian. Damar ingat dirinya mengintip dari balik gorden, ingat ibunya menariknya menjauh dari jendela, ingat ayahnya keluar dengan wajah dingin dan berkata sesuatu yang membuat lelaki itu terdiam, lalu pergi dengan bahu yang runtuh.
Dan di belakang lelaki itu, separuh bersembunyi di balik kakinya, ada seorang anak. Anak laki-laki, sebaya Damar, mungkin sedikit lebih muda. Pendiam. Tidak menangis, tidak berteriak seperti ayahnya. Hanya berdiri diam dan menatap. Menatap Damar yang mengintip dari balik gorden. Mata yang dingin, tenang, terlalu tenang untuk anak seusianya—mata yang tidak akan Damar ingat seumur hidupnya kalau saja malam ini tidak memaksanya menggali.
Damar duduk tegak di kasur, jantungnya berdebar keras dalam keheningan kamar. Wibawa. Sari. Mereka pernah datang ke rumahnya. Memohon pada ayahnya. Dan anak itu—anak pendiam bermata dingin yang dikatakan nenek tetangga, anak yang tumbuh dengan dendam ayahnya—anak itu pernah berdiri di teras rumah Damar, menatapnya melalui kaca jendela, dua bocah yang dipisahkan oleh gorden dan oleh dosa orang tua mereka.
Mereka pernah berpapasan. Sekali, bertahun-tahun lalu, sebelum salah satu dari mereka tahu nama yang lain, sebelum salah satu dari mereka tahu permainan ini akan ada. Damar di dalam, di pihak yang menang, di rumah yang hangat. Anak itu di luar, di teras, di pihak yang kalah, di dingin. Dan mungkin—pikiran ini membuat perut Damar dingin—mungkin di detik itulah benih dendam tertanam. Bukan saat Sari mati. Bukan saat gugatan kandas. Tapi saat seorang anak menatap anak lain melalui kaca dan mengerti, dengan kejernihan kanak-kanak yang kejam, bahwa dunia membagi orang menjadi yang di dalam dan yang di luar.
Damar menggenggam foto ibunya erat-erat. Selama ini ia mengira dirinya pendengar yang dipilih secara acak oleh seorang pembunuh. Lalu ia mengira dirinya anak dari orang yang berutang nyawa. Kini ia mengerti sesuatu yang lebih dalam dan lebih menyakitkan: ia bukan orang asing bagi Suara. Mereka berbagi satu sore, satu teras, satu kaca jendela. Suara sudah mengenal wajahnya sejak mereka kanak-kanak. Dan selama bertahun-tahun sesudahnya, sementara Damar lupa dan tumbuh dan menjadi suara hangat yang menenangkan kota, anak di teras itu tidak pernah lupa. Ia mengingat. Ia menunggu. Dan ia merancang, dengan kesabaran seorang yang sejak kecil sudah belajar bahwa keadilan tidak datang—ia harus dibuat sendiri.
Di luar jendela, kota tidur. Damar menyelipkan foto ibunya kembali ke balik KTP, dan untuk pertama kalinya tidak berbisik apa pun. Ia hanya duduk dalam gelap, menatap ke arah teras yang sudah lama tak ada, dan mencoba mengingat wajah anak itu—wajah yang, ia tahu sekarang, sudah pernah ia lihat.