Label di berkas lama itu sederhana dan tegas: bunuh diri. Tapi setelah melihat altar di rumah kosong itu, Damar tak bisa lagi membaca kata itu tanpa curiga. Kalau Suara membunuh Maryam karena ikut menggugurkan keadilan keluarganya, maka pertanyaan yang sebenarnya bukan siapa korban berikutnya, melainkan apa yang sebenarnya terjadi pada Sari. Karena di situlah segalanya bermula — di kematian seorang perempuan yang oleh sebagian orang disebut bunuh diri, dan oleh keluarganya disebut pembunuhan yang ditutupi.
Damar memulai dari arsip koran lagi, lalu beralih ke yang lebih sulit dijangkau: manusia. Lewat sumber Mbak Rini dan beberapa nama dari daftar buruh lama, ia menyusun jalan menuju mereka yang dulu bekerja bersama Sari di PT Mukti Sandang dan masih tinggal di kota. Kebanyakan menolak bicara begitu mendengar nama pabrik itu. Pintu ditutup. Telepon dimatikan. Sepuluh tahun ternyata tidak cukup untuk menumpulkan rasa takut.
Tapi satu orang mau menemuinya. Seorang perempuan tua bernama Bu Tini, bekas rekan kerja Sari di bagian pemintalan, yang kini berjualan jamu gendong di pasar pagi. Damar menemuinya di los pasar yang sempit, di antara aroma kunyit dan asam jawa.
"Kamu siapa, sebenarnya?" tanya Bu Tini, matanya menyipit curiga. "Wartawan? Polisi?"
"Bukan keduanya, Bu," kata Damar jujur, atau sejujur yang ia berani. "Saya cuma ingin tahu kebenaran soal Sari. Saya rasa ada yang tidak beres dengan kematiannya, dan orang-orang membayar untuk itu sekarang."
Sesuatu di wajah Damar, mungkin keletihan yang tak bisa ia sembunyikan, membuat Bu Tini melunak. Ia menuang segelas jamu, menyodorkannya, lalu bicara dengan suara rendah, sesekali melirik kiri-kanan.
"Sari itu perempuan baik, Nak. Pekerja keras. Setelah pabrik mulai goyah, dia jadi salah satu yang berani. Dia tahu sesuatu — soal uang pesangon yang dipotong, soal pembukuan yang dimainkan. Dia bilang ke saya, dia simpan bukti. Dia mau buruh dapat hak mereka." Bu Tini menelan ludah. "Lalu dia mati. Katanya bunuh diri. Tapi Nak, perempuan yang minggu lalu masih semangat melawan, yang punya anak yang dia sayang setengah mati, tiba-tiba bunuh diri? Saya tidak percaya. Tidak akan pernah percaya."
Damar mencondongkan tubuh. "Apa ada yang Anda lihat? Sesuatu yang Anda tahu tapi tidak Anda katakan saat itu?"
Bu Tini diam lama, menatap gelas-gelas jamunya seolah mencari keberanian di sana. "Malam sebelum dia ditemukan mati, saya lihat ada orang datang ke rumahnya. Mobil bagus, bukan punya orang sekitar sini. Saya tidak lihat jelas wajahnya. Tapi keesokan paginya, Sari sudah tidak ada." Suaranya nyaris berbisik sekarang. "Waktu polisi datang, saya mau bilang soal mobil itu. Tapi suami Sari, Wibawa, dia sudah lebih dulu menuntut, dan dia diancam. Saya dengar dari mulut ke mulut, siapa pun yang bicara akan kena. Ada pengacara hebat dari pihak pabrik yang bisa membalikkan semua. Saksi yang melawan malah dibuat seperti pembohong. Saya takut, Nak. Saya punya anak juga waktu itu. Jadi saya diam. Sampai sekarang."
Pengacara hebat dari pihak pabrik yang bisa membalikkan semua. Damar memegang gelas jamu yang tiba-tiba terasa pahit. Bu Tini tidak tahu siapa pengacara itu, dan Damar tidak akan memberitahunya. Tapi setiap kata perempuan tua itu menambah lapisan pada gambar yang makin jelas dan makin mengerikan. Sari mungkin tidak bunuh diri. Sari mungkin dibungkam karena ia memegang bukti. Dan kematiannya dibingkai ulang menjadi bunuh diri oleh sebuah mesin — perusahaan, saksi yang ditekan seperti Maryam, dan seorang pengacara yang memastikan keluarga yang menuntut malah dibuat tampak seperti pembohong.
"Anaknya," kata Damar pelan. "Anak Sari. Anda kenal dia?"
Bu Tini mengangguk perlahan, matanya berkaca. "Anak yang malang. Dia ada di rumah malam itu, Nak. Anak sekecil itu. Saya tidak tahu apa yang dia lihat. Tapi setelah ibunya mati, matanya berubah. Anak-anak tidak punya mata seperti itu." Ia menggeleng. "Saya tidak pernah berani menemuinya. Saya malu. Saya yang diam waktu seharusnya bicara."
Damar pulang membawa beban yang lebih berat dari sebelumnya. Ia datang mencari kebenaran tentang Sari, dan ia menemukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: kebenaran itu memperkuat alasan Suara. Setiap fakta yang ia gali membuat pembalasan itu terdengar makin masuk akal, makin pantas, makin sulit dilawan dengan kata-kata. Dan di tengah semua itu berdiri seorang anak yang malam itu ada di rumah, yang mungkin melihat ibunya direnggut, lalu menyaksikan dunia menyebut kematian itu sebagai pilihan ibunya sendiri. Damar mengerti sekarang, dengan dingin yang menjalar sampai ke tulang, bahwa ia tidak sedang memburu monster. Ia sedang memburu anak yang dunia ciptakan dari ketidakadilan, dan salah satu tangan yang menciptakannya adalah tangan ayahnya sendiri.