Damar kembali ke rumah kosong bekas keluarga Wibawa di siang bolong, saat gang itu paling ramai dan paling kecil kemungkinannya seseorang bisa mengintainya tanpa terlihat. Ia sudah memberi tahu Rangga ke mana ia pergi, sesuai kesepakatan; seorang petugas mengikutinya dari jarak yang cukup. Tapi Damar memintanya menunggu di mulut gang. Ia ingin masuk sendiri.
Rumah itu lebih buruk dari ingatannya. Atap sebagian runtuh, jendela menganga tanpa kaca, dan ilalang sudah menelan hampir seluruh halaman. Pintu depan terkunci dari dalam atau macet oleh karat, tapi salah satu jendela samping cukup rendah untuk dipanjat. Damar menahan napas dan masuk.
Bagian dalam rumah berbau lembap dan debu, bau tempat yang ditinggalkan dua kali — sekali oleh keluarga yang hancur, sekali lagi oleh waktu. Ruang tamu kosong, hanya menyisakan bekas perabot di lantai berdebu, persegi-persegi lebih bersih tempat lemari dan kursi dulu berdiri. Cicak berlarian di dinding yang catnya mengelupas seperti kulit terbakar. Damar bergerak hati-hati, senter ponselnya menyapu setiap sudut.
Sebagian besar rumah itu seperti yang ia bayangkan: reruntuhan tanpa kehidupan. Tapi saat ia masuk ke kamar paling belakang, sesuatu mengubah hawanya. Kamar itu kecil, mungkin dulu kamar anak. Dan tidak seperti ruangan lain, kamar ini bersih. Bukan bersih seperti rumah berpenghuni, melainkan bersih seperti tempat yang dirawat dengan sengaja, di tengah reruntuhan yang dibiarkan membusuk.
Lantainya disapu. Debu yang menyelimuti seluruh rumah lain tidak menumpuk di sini setebal seharusnya. Dan di salah satu sudut, di atas sebuah meja kayu kecil yang masih utuh, ada sesuatu yang membuat tengkuk Damar meremang.
Sebuah bingkai foto. Berdiri tegak, kacanya dilap sampai bening. Di dalamnya, foto seorang perempuan tersenyum lembut. Damar mendekat. Ia belum pernah melihat wajah Sari, tapi ia tahu dengan pasti inilah dia — ibu dari Suara, buruh yang mati dan keadilannya dikubur. Di depan bingkai itu, ditata berjajar dengan presisi yang sudah ia kenal, ada benda-benda kecil: sebatang lilin yang sudah meleleh dan dinyalakan ulang berkali-kali, beberapa kuntum bunga kertas yang menguning, dan sebuah jam tangan perempuan yang sudah berhenti berdetak.
Altar. Bukan altar keagamaan, melainkan altar kenangan. Sebuah sudut yang dirawat seseorang yang masih datang ke reruntuhan ini, secara berkala, bertahun-tahun setelah semua orang lain melupakannya.
Damar berdiri membeku. Seseorang masih datang ke sini. Anak itu — atau siapa pun Suara sekarang — masih kembali ke rumah tempat ibunya mati, menyalakan lilin, mengganti bunga, menjaga sudut kecil ini tetap hidup sementara membiarkan sisanya runtuh. Itu bukan tindakan monster. Itu tindakan seseorang yang patah. Dan justru itu yang membuat Damar lebih takut daripada ancaman apa pun, karena seseorang yang sanggup mencintai sedalam ini juga sanggup membenci sedalam ini.
Ia memeriksa sekeliling altar dengan hati-hati, tidak menyentuh apa pun, sadar bahwa Suara akan tahu kalau ada yang berubah — seseorang yang menata puntung rokok berjajar pasti akan menyadari satu kuntum bunga yang bergeser. Di dekat lilin, ada bekas tetesan lilin yang masih relatif segar. Baru. Beberapa hari, paling lama. Suara datang ke sini baru-baru ini, mungkin di sela-sela ia merancang malam-malam telepon itu.
Damar memotret altar itu dari kejauhan tanpa lampu kilat, lalu mundur. Ia tahu ia harus melaporkan ini ke Rangga. Tempat ini bisa diawasi. Suara akan kembali, cepat atau lambat, untuk merawat altarnya. Untuk sesaat, harapan menyala dalam diri Damar: di sinilah mereka bisa menangkapnya.
Tapi saat ia memanjat keluar lewat jendela dan menghirup udara siang yang panas, harapan itu memudar menjadi sesuatu yang lebih kompleks. Ia tidak hanya menemukan jebakan untuk lawannya. Ia menemukan kesedihan lawannya, yang dirawat seperti barang suci. Dan Damar tahu, dengan kepastian yang menekan dadanya, bahwa di balik suara datar tanpa gemetar itu, di balik perekam dan kartu sekali pakai dan perhitungan yang dingin, ada seorang anak yang setiap beberapa hari kembali ke ruang tempat dunianya hancur, untuk menyalakan lilin bagi seorang ibu yang keadilannya dirampas oleh ayah Damar.