Iptu Rangga memutar pulpennya lebih lambat dari biasanya pagi itu, dan Damar membaca itu sebagai tanda bahwa sesuatu telah berubah di kepala polisi itu. Mereka duduk berhadapan di ruang yang sama tempat dulu Rangga memandangnya seperti memandang pencari sensasi. Di meja, terhampar fotokopi putusan pengadilan, salinan kertas menara air, dan catatan Damar tentang Maryam.
"Jadi Anda bilang," kata Rangga pelan, "korban gudang utara, Maryam, adalah bekas saksi dalam perkara perdata sepuluh tahun lalu. Saksi yang membantu menggugurkan gugatan keluarga Sari. Dan pengacara yang membela perusahaan saat itu adalah ayah Anda."
Damar tidak menjawab. Ia hanya menatap putusan di meja, di mana nama keluarganya tercetak hitam.
Rangga meletakkan pulpennya. "Saya sudah cek. Maryam memang ada dalam berkas perkara itu sebagai saksi pihak tergugat. Itu bukan rekaan Anda." Ia menghela napas. "Saya minta maaf untuk pertemuan pertama kita, Pak Damar. Saya kira Anda salah satu dari orang-orang yang suka membesar-besarkan. Ternyata Anda menemukan benang yang bahkan tim saya belum tarik."
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Damar merasakan sesuatu yang menyerupai lega. Akhirnya ada orang dengan lencana yang mendengarkannya bukan sebagai orang gila, melainkan sebagai saksi kunci. "Berarti Bapak percaya sekarang. Ini bukan pendengar iseng. Ini orang yang membalas dendam keluarga, dan dia punya daftar."
"Saya percaya ada pola," kata Rangga hati-hati, dan kehati-hatian itu membuat Damar waspada. "Tapi justru karena polanya jelas, saya harus jujur pada Anda tentang sesuatu, dan Anda tidak akan suka mendengarnya."
Rangga mencondongkan tubuh. "Coba lihat ini dari kursi saya. Ada serangkaian peristiwa yang berpusat pada satu kasus lama. Korban-korban yang muncul semuanya terhubung ke kasus itu. Dan siapa satu-satunya orang yang, sejak awal, selalu tahu lebih dulu? Yang menerima telepon pelaku? Yang tahu soal menara air sebelum siapa pun? Yang sekarang tahu identitas korban pertama sebelum tim saya menyelesaikan verifikasi?" Ia berhenti. "Anda, Pak Damar. Dan di atas semua itu, Anda adalah anak dari pengacara yang ada di pusat kasus lama ini."
Damar merasa darahnya turun. "Bapak pikir saya—"
"Saya tidak berpikir apa-apa," potong Rangga, mengangkat tangan. "Saya kenal Anda cukup untuk percaya Anda korban di sini, bukan pelaku. Tapi pekerjaan saya bukan soal apa yang saya percaya. Soal apa yang bisa dibuktikan. Dan dari luar, tanpa konteks, susunan fakta ini menunjuk ke Anda persis seperti menunjuk ke pelaku yang sebenarnya. Bayangkan kalau atasan saya, atau jaksa, melihat berkas ini tanpa kenal Anda."
Kata-kata itu mendarat di Damar seperti air dingin. Ia teringat kalimat Suara: kamu mewarisi dosa. Ternyata dosa itu tidak hanya soal nama keluarga atau rasa bersalah. Dosa itu punya bentuk hukum. Ia bisa diseret ke kursi tersangka oleh logika fakta yang sama yang ia gunakan untuk memburu Suara.
"Dia merancang ini," kata Damar pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Dia menelepon saya, bukan polisi. Dia memberi saya petunjuk, supaya saya selalu tahu lebih dulu. Dia memasang perekam di kamar saya, supaya kalau diperiksa, semua jejak mengarah ke kehidupan saya. Dia tidak cuma menyeret saya jadi saksi. Dia menyiapkan saya jadi kambing hitam."
Rangga menatapnya lama, dan dalam tatapan itu ada pengakuan diam-diam bahwa Damar benar. "Itu sebabnya, mulai sekarang, kita kerja sama. Anda lapor setiap langkah Anda ke saya. Setiap temuan, setiap telepon, setiap pesan. Bukan supaya saya bisa mengawasi Anda — meski sebagian atasan saya akan menganggap itu. Tapi supaya ada catatan resmi bahwa Anda kooperatif, bahwa Anda korban yang membantu, bukan pelaku yang menyembunyikan." Ia mengembalikan pulpennya ke jari, memutarnya sekali. "Pelaku ini pintar, Pak Damar. Dia membangun jebakan dalam jebakan. Cara satu-satunya kita keluar adalah lebih sabar dari dia. Dan kesabaran adalah keahlian dia, bukan keahlian kita."
Damar mengangguk, tapi di dalam, sesuatu mengeras. Rangga mendengarkannya sekarang, dan itu hal terbaik yang terjadi sejak telepon pertama. Tapi di balik kelegaan itu, ia memahami betapa rapuhnya tanah tempat ia berdiri. Satu langkah salah, satu korban yang ia capai terlambat, satu kebetulan yang terlihat buruk — dan benang yang menghubungkannya dengan Suara sebagai saksi bisa berubah menjadi tali yang mengikatnya sebagai tersangka. Suara tidak perlu membunuhnya. Suara cukup membuat dunia percaya bahwa Damar-lah pembunuhnya.