Selama berhari-hari, korban pertama hanya berupa kata bagi Damar — "perempuan", "mayat di gudang utara", sosok tanpa wajah yang kematiannya membuktikan bahwa Suara tidak berbohong. Tapi sejak ia tahu permainan ini berpusat pada dosa pabrik, satu pertanyaan menggerogotinya. Kalau Suara memilih korbannya dari mereka yang "bersalah" atas keadilan keluarganya, lalu siapa perempuan pertama itu? Apa salahnya?
Damar tidak bisa bertanya pada Rangga secara terbuka tanpa harus menjelaskan obsesinya. Maka ia memilih jalan lain. Ia menelepon Lana.
"Mar, kamu di mana? Kamu aman?" Suara Lana langsung penuh kecemasan begitu mengangkat.
"Aku aman, Lan. Dijaga polisi." Damar menahan diri agar tidak menumpahkan semuanya sekaligus. "Aku butuh bantuanmu. Kamu masih kenal Mbak Rini yang dulu kerja di tabloid lokal itu, kan? Yang sering liput kasus kriminal?"
Lewat Lana, Damar menyusun jalan ke arah identitas korban pertama. Bukan lewat polisi, melainkan lewat jaringan kabar warga, wartawan kecil, dan kasak-kusuk yang merembet dari rumah ke rumah. Identitas korban gudang utara memang sudah keluar beberapa hari setelah penemuan, tapi tidak menjadi berita besar — hanya seorang perempuan, dan kota cepat melupakan perempuan yang mati di tempat sepi.
Namanya Maryam. Usia empat puluhan. Dan saat Damar mendengar pekerjaan terakhirnya dari sumber Mbak Rini, perutnya mengencang. Maryam adalah bekas pegawai administrasi di PT Mukti Sandang. Dulu, di masa pabrik masih hidup, ia bekerja di bagian personalia.
Damar menghabiskan sore itu di sebuah warung dekat tempat tinggal terakhir Maryam, berpura-pura sebagai kerabat jauh yang baru tahu kabar duka. Para tetangga bercerita dengan suara rendah. Maryam perempuan pendiam yang tinggal sendiri. Tidak punya musuh yang mereka tahu. Tapi seorang ibu tua yang berjualan gorengan menyebut sesuatu yang membuat Damar berhenti mengunyah.
"Mbak Maryam itu dulu sempat dipanggil ke pengadilan, Mas. Waktu ada gugatan buruh yang istrinya meninggal itu. Lama sekali, sepuluh tahunan lalu. Dia jadi saksi dari pihak pabrik. Saya ingat karena dia sempat cerita, katanya dia disuruh ngomong begini-begitu. Dia kelihatan tertekan waktu itu. Habis itu dia pindah-pindah terus, jarang keluar rumah."
Saksi dari pihak pabrik. Damar menatap gelas tehnya. Maryam bukan korban acak. Maryam adalah salah satu yang ikut menutup keadilan keluarga Sari. Salah satu nama dalam putusan yang baru ia baca di perpustakaan — keterangan saksi yang dianggap hakim sebagai bukti. Keterangan yang membantu menggugurkan gugatan. Keterangan yang mungkin diberikan di bawah tekanan, di bawah arahan, mungkin di bawah arahan seorang pengacara yang fasih dan dingin.
Korban pertama bukan awal, Damar. Kalimat di kertas itu kembali. Sekarang ia mengerti separuh artinya. Maryam adalah orang pertama dari sebuah daftar — daftar mereka yang ikut berdosa sepuluh tahun lalu. Suara tidak membunuh sembarang perempuan untuk membuktikan dirinya. Ia membunuh seseorang yang spesifik, seseorang yang pantas dalam logika gelapnya, lalu menelepon Damar untuk mulai mengikat anak sang pengacara ke dalam pembalasan.
Dan menutup matanya supaya dia tidak melihat — itu satu-satunya kebaikan yang bisa kuberikan. Damar dulu mengira itu hanya kalimat sakit jiwa. Sekarang ia bertanya-tanya apakah itu sesuatu yang lebih jahat: belas kasihan terukur dari seseorang yang menghukum, bukan dari seseorang yang membenci secara membabi buta. Suara membunuh dengan perhitungan, dengan rasa adil yang menyimpang, bahkan dengan semacam upacara.
Damar pulang dengan kepala penuh. Ini menohok lebih dalam dari dugaannya bukan karena Maryam orang baik yang tak bersalah — justru sebaliknya. Maryam punya andil. Dan itu membuat Damar takut pada dirinya sendiri, karena untuk sekejap, satu detak yang membuatnya mual, ia memahami logika Suara. Maryam ikut membunuh keadilan. Suara membalasnya. Garis tipis antara keadilan dan pembalasan itu mulai kabur di matanya, dan ia tahu, itulah persis yang diinginkan Suara: membuatnya berdiri cukup dekat sampai bisa melihat dunia dari tempat sang pembunuh berdiri.
Malam itu ia menulis satu nama di lembar baru, dengan huruf yang ditekan kuat sampai pena nyaris menembus kertas. Maryam — saksi pabrik — KORBAN PERTAMA. Lalu di bawahnya, garis kosong yang panjang. Daftar yang baru saja dimulai.