Ada sebuah kotak kardus yang Damar bawa dari satu kontrakan ke kontrakan lain selama sepuluh tahun tanpa pernah benar-benar membukanya. Kotak itu kini ada di rumah singgah, di sudut lemari, di bawah tumpukan pakaian. Pagi setelah siaran, dengan tangan yang lebih gemetar daripada saat ia menaiki menara air, Damar mengeluarkannya.
Selama bertahun-tahun ia menyimpan kotak itu seperti menyimpan luka yang tak boleh disentuh. Di dalamnya ada sisa-sisa kehidupan yang ia tinggalkan saat pindah ke kota ini umur sembilan belas: rapor SMP, beberapa buku, foto-foto yang sebagian sudah pudar. Dan di dasar kotak, dibungkus kantong plastik yang sudah menguning, ada barang-barang ibunya yang ia selamatkan setelah pemakaman — termasuk dokumen-dokumen lama yang ia tak pernah punya keberanian membaca.
Damar duduk di lantai dan membuka kantong itu. Bau lama menyeruak, bau kertas yang tersimpan terlalu lama, bau masa lalu. Ia mengeluarkan lembar demi lembar dengan hati-hati. Akta kelahirannya. Buku nikah orang tuanya. Dan di sana, di buku nikah itu, nama ayahnya tertulis lengkap dengan tinta yang sudah memudar.
Nama itu. Nama keluarga yang ia bawa di KTP-nya sendiri, di papan nama studio, di setiap pembukaan siaran. Selama ini ia menganggapnya hanya bagian dari dirinya, sesuatu yang netral, sesuatu yang tak bermakna apa-apa. Tapi sekarang nama itu menatap balik dari kertas tua dengan beban sepuluh tahun yang baru ia ketahui.
Ia tidak pernah menyebut ayahnya. Tidak di radio, tidak pada Lana, tidak bahkan pada foto ibunya yang ia bisiki tiap malam. Saat penelepon lain bercerita tentang ayah yang keras atau ayah yang mereka rindukan, Damar selalu menjawab dengan suara hangat dan netral, lalu memutar lagu. Ayahnya adalah ruang kosong yang ia jaga tetap kosong, karena yang ia ingat dari ruang itu hanya kepergian, dan ibunya yang menangis diam-diam di dapur, dan tagihan-tagihan yang datang setelah lelaki itu hilang.
Ia membongkar lebih dalam. Sebuah KTP lama ayahnya, kedaluwarsa bertahun-tahun lalu, entah bagaimana tertinggal di kotak ibunya — mungkin ibunya menyimpannya, mungkin sengaja, mungkin tidak. Di KTP itu tercantum profesi: tidak ditulis "pengacara", melainkan "wiraswasta", samar seperti biasa. Tapi alamat lamanya tercantum, sebuah alamat di kota ini, di kawasan yang dulu dekat dengan pusat-pusat perkantoran. Damar memotret KTP itu dengan ponselnya, tangannya nyaris tak bisa fokus.
Ia teringat satu hal yang selama ini ia kubur. Saat ia kecil, ayahnya pernah punya kantor kecil dengan papan nama. Ia ingat samar-samar duduk di ruang tunggu sempit menunggu ayahnya selesai bicara dengan orang-orang berwajah cemas. Ia tidak pernah tahu pekerjaan apa itu. Anak kecil tidak bertanya. Lalu ibunya sakit, lalu ayahnya makin jarang pulang, lalu suatu hari ayahnya tidak pulang sama sekali, dan ibunya tidak pernah menjelaskan.
Damar menyandarkan punggung ke dinding. Selama ini ia menyangka ayahnya hanya lelaki pengecut yang lari dari istri sakit dan anak kecil. Itu cukup menyakitkan untuk dijadikan luka seumur hidup. Tapi kini luka itu punya lapisan baru yang jauh lebih dalam: ayahnya tidak hanya lari dari keluarganya sendiri. Sebelum lari, ia merampas keadilan dari keluarga lain. Dari Sari. Dari Wibawa. Dari seorang anak laki-laki yang kini bicara datar di telepon tengah malam.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Rangga, menanyakan keberadaannya. Damar membalas singkat, lalu menatap kembali tumpukan kertas di lantai. Ia tahu apa yang harus ia lakukan, dan ia takut melakukannya. Selama sepuluh tahun ia memilih tidak tahu, karena tidak tahu lebih mudah dipikul. Tapi Suara sudah merampas kemewahan itu darinya. Sekarang ia harus menelusuri jejak lelaki yang namanya ia bawa tapi tak pernah berani sebut — ke mana ayahnya pergi, apakah ia masih hidup, dan apa persisnya yang ia lakukan sepuluh tahun lalu sehingga seorang anak tumbuh menjadi pembunuh yang menelepon frekuensinya.
Ia memasukkan KTP lama dan buku nikah itu ke tasnya. Di dasar kotak, foto kecil tergeletak terbalik. Damar membaliknya. Dirinya, kecil, digendong ibunya, dan di belakang mereka samar terlihat sosok lelaki yang wajahnya sudah pudar oleh waktu sampai nyaris tak berbentuk. Ayahnya. Wajah yang bahkan tak bisa ia ingat dengan jelas. Wajah yang, ia sadari dengan dingin, mungkin justru lebih dikenal oleh Suara daripada oleh dirinya sendiri.