Damar tidak tidur seharian. Sirene yang datang terlambat semalam telah membawanya ke kantor polisi, lalu memulangkannya dengan kepala yang penuh nama-nama yang tak ingin ia kenali. Rangga menahannya sampai pagi, mengambil keterangan, memfoto kertas tulisan tangan yang berhasil mereka temukan tersangkut di rumput. Tapi tidak ada satu pun dari prosedur itu yang menyentuh inti yang membakar Damar dari dalam: nama pengacara PT Mukti Sandang adalah nama keluarganya sendiri.
Sepanjang siang ia berbaring menatap langit-langit rumah singgah, mengulang kalimat di kertas itu seperti doa yang salah. Tanyakan pada dirimu di mana ayahmu sepuluh tahun lalu. Ia tidak perlu bertanya. Ia tahu. Ayahnya pengacara. Ayahnya pergi di tahun pabrik itu mati. Dua fakta yang selama ini berdiri terpisah di ruang-ruang berbeda dalam kepalanya, kini saling menemukan dan mengunci seperti dua bagian jebakan.
Menjelang sebelas malam, Damar bangkit. Rangga sudah menempatkan petugas di depan rumah singgah, dan jelas tidak ingin ia ke mana-mana. Tapi Suara sudah berjanji: tengah malam, frekuensi yang sama. Dan satu-satunya frekuensi yang sama adalah Lentera Malam.
"Saya harus siaran, Pak," kata Damar lewat telepon, menahan suaranya agar tetap rata. "Dia akan menelepon. Itu satu-satunya jam saya bisa mendengar dia. Bapak mau saya diam di sini sementara dia bicara ke kota dari frekuensi saya?"
Rangga terdiam lama di ujung sana. "Saya kirim dua orang ke studio. Penyadapan jalan lagi. Tapi kali ini kamu tidak keluar dari ruangan itu sampai saya bilang. Mengerti?"
Studio menyambutnya dengan keremangan yang sama seperti tiga tahun terakhir, tapi malam ini lingkaran kuning lampu meja itu terasa seperti lampu interogasi yang diarahkan ke dirinya sendiri. Pak Hasan sudah ada, wajahnya berkerut cemas. Dua petugas berpakaian preman duduk di ruang belakang, di samping perangkat penyadapan yang mengeluarkan dengung pelan.
"Anda mendengarkan Lentera Malam," kata Damar ke mikrofon, dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. "Saya Damar. Kalau Anda belum bisa tidur juga malam ini, kita senasib."
Lagu lama mengalun. Penelepon biasa datang: seorang perawat yang baru pulang jaga, seorang pemuda yang ditinggal kekasihnya. Damar melayani mereka dengan setengah jiwanya, sementara setengah lagi terpaku pada jam digital di sudut layar yang merayap pelan menuju angka yang ia takuti.
Pukul dua belas lewat tujuh menit. Garis merah menyala.
Damar menatap Pak Hasan. Jempol terangkat. Penyadapan aktif. Ia menarik napas dan membuka saluran tertutup.
"Aku di sini," kata Damar.
"Aku tahu." Suara datar itu, tenang seperti selalu. "Kamu selalu di situ. Itu yang aku suka darimu, Damar. Kamu tidak lari. Banyak orang akan lari setelah malam seperti tadi."
"Apa maumu sekarang?" Damar mencengkeram tepi meja. "Kamu sudah bilang siapa ayahku. Kamu sudah menang. Apa lagi?"
"Menang?" Ada sesuatu di nada itu, hampir seperti kekecewaan. "Kamu pikir ini soal menang? Tidak. Aku belum menagih apa pun. Aku baru memberitahumu bahwa ada tagihan. Itu beda, Damar. Sangat beda."
Damar menelan ludah. Di ruang belakang ia tahu petugas itu menatap layar, mengejar sinyal yang akan kembali lenyap ke sisi barat kota.
"Aturan lama sudah selesai," lanjut Suara. "Korban pertama, petunjuk, korban kedua yang tidak pernah ada — itu semua hanya untuk membawamu sampai ke titik ini. Sampai kamu tahu siapa dirimu di cerita ini. Sekarang permainan yang sebenarnya dimulai, dan aturannya cuma satu: ini bukan tentang orang asing lagi. Ini tentang dosa ayahmu, dan setiap orang yang ikut menguburnya sepuluh tahun lalu."
"Ayahku pergi," kata Damar, dan ia membenci betapa kecil suaranya terdengar. "Aku tidak tahu di mana dia. Aku tidak bicara dengannya sepuluh tahun. Apa pun yang dia lakukan, itu bukan aku."
"Aku tahu," kata Suara, dan kelembutan yang muncul justru paling menusuk. "Itulah yang membuat ini menarik. Kamu tidak bersalah, Damar. Sama seperti aku dulu tidak bersalah. Kita berdua anak yang mewarisi sesuatu yang tidak kita pilih. Bedanya, kamu mewarisi dosa, dan aku mewarisi luka." Jeda. "Dengarkan baik-baik, karena ini aturanmu sekarang. Aku akan menunjukkan padamu siapa saja yang ikut membunuh keadilan keluargaku. Satu per satu. Dan kamu akan menyaksikan apa yang harus terjadi pada mereka. Kalau kamu cukup cepat, kamu mungkin bisa menyelamatkan satu dua. Kalau tidak, kamu hanya akan menjadi saksi, persis seperti tugasmu di radio ini. Mendengarkan. Menyaksikan."
"Aku tidak akan—"
"Kamu sudah," potong Suara pelan, kalimat yang sama yang pernah ia ucapkan. "Kamu sudah jadi bagian dari ini sejak kamu lahir dengan nama keluarga itu." Napas teratur itu melambat. "Tidurlah, Damar. Besok kamu akan butuh tenaga. Sampai jumpa tengah malam berikutnya, di frekuensi yang sama."
Saluran terputus. Dari ruang belakang, salah satu petugas keluar sambil menggeleng. Sisi barat kota lagi. Tidak presisi. Hilang.
Damar menatap mikrofon, lalu jendela kaca, lalu kegelapan kota yang tidur tanpa tahu bahwa di sebuah studio kecil, sebuah tagihan sepuluh tahun baru saja dibuka kembali. Ia mengerti sekarang bahwa Suara tidak akan pernah berhenti. Permainan yang dijanjikan itu nyata, dan ia berdiri di tengahnya bukan sebagai pemain, melainkan sebagai harga yang dipertaruhkan.