Petugas pengaduan datang membawa lembar kosong. Aku semula berharap kertas itu sudah berisi pertanyaan yang tinggal kujawab. Ketika ia memintaku menceritakan kejadian dari awal, aku mengerti mengapa ruang ini terasa lebih menakutkan daripada percakapan dengan Raka.
Namaku, perkiraanku tentang hari, tempat Wulan berdiri, dan kalimat-kalimat yang bisa kuingat dicatat satu per satu. Aku menerangkan bahwa sebelumnya ia beberapa kali mempermalukanku di hadapan tahanan lain. Pada kejadian terakhir ia menyebut Arsa dijemput dinas dan mengejek selku sebagai kamar istimewa.
'Kamu menjawab apa?' tanya petugas.
Aku menatap pensil di tangannya. 'Saya bilang punya orang yang menjamin saya aman. Saya bilang kalau dia menyebut anak saya lagi, yang kena bukan saya.'
Petugas berhenti menulis. 'Itu ancaman balasan?'
'Saya ingin dia takut. Saya tidak punya orang yang saya suruh melakukan apa-apa. Saya juga tidak tahu dasar pemindahan sel waktu bicara begitu.'
Mengakuinya membuat dadaku sesak. Aku khawatir kalimat itu menghapus seluruh keteranganku tentang Wulan. Sebelum aku sempat membela diri lagi, petugas meminta aku melanjutkan apa yang terjadi sesudahnya.
'Dia diam. Lalu pergi ketika petugas membawa makan. Saya mengajukan permintaan bertemu kuasa hukum setelah itu.'
Aku menyebut Ratna sebagai orang yang mengetahui keadaan di blok lama, tetapi mengatakan ia baru datang sesudah percakapan terakhir dengan Wulan. Petugas menggarisbawahi perbedaan itu. Ia tidak akan menuliskan Ratna sebagai saksi yang menyaksikan sesuatu yang tidak dilihatnya.
'Saya boleh membaca sebelum tanda tangan?'
'Justru harus dibaca. Kalau ada yang tidak sesuai, katakan.'
Ia membalik kertas ke arahku. Pada satu baris tertulis aku mengetahui Raka mengatur pemindahan. Aku menunjuk kalimat itu dan meminta kata mengetahui diganti dengan menduga. Petugas memeriksa catatan awal, mengoreksi, lalu memintaku membaca lagi dari bagian pertama.
Ada bagian yang belum terisi tentang apa yang kuharapkan dari pengaduan. Aku sempat ingin menulis supaya Wulan merasakan kesepian di sel sendiri. Keinginan itu membuatku menatap ranjang di belakang. Aku tahu rasanya dihukum oleh pikiran sendiri tanpa penjelasan, dan aku tidak ingin menjadikan pengalaman itu permintaan balas dendam.
'Saya ingin dia berhenti membawa anak saya untuk mempermalukan saya. Dan saya ingin petugas menjelaskan kenapa saya dipisah,' kataku.
Petugas menuliskan dua kebutuhan tersebut. Aku meminta ia membacakan lagi bagian terakhir karena hurufnya mulai sulit kuikuti. Setelah mendengarnya, aku menambahkan bahwa aku juga bersedia menerangkan gertakanku kepada pihak yang memeriksa. Kertas itu menjadi lebih lengkap, sekaligus lebih sulit kupakai untuk mengatakan bahwa hanya Wulan yang pernah berusaha menakut-nakuti orang.
Aku tidak menyadari betapa lama pekerjaan itu berlangsung sampai suara pembagian makan terdengar di koridor. Perutku lapar, tetapi tanganku lebih tenang saat menerima pena. Ada tempat untuk mengatakan bahwa aku pernah ketakutan sekaligus keliru. Pengaduan ini tidak mengharuskanku menjadi orang yang selalu menjawab dengan benar.
Sesudah tanda tangan, petugas menerangkan bahwa keterangan pihak lain akan diperiksa. Aku meminta supaya Wulan tidak dibiarkan mendatangiku sendiri sambil membicarakan anak. Ia mencatat permintaan itu sebagai kebutuhan yang harus diteruskan ke petugas blok, tanpa menjanjikan bahwa hasil pengaduan bisa selesai hari itu.
Ratna mendapat izin menemuiku sebentar pada siang hari. Ia tetap di luar jeruji, membawa kabar bahwa dirinya akan dimintai keterangan terpisah.
'Aku tidak tahu kamu menulis apa,' katanya. 'Nanti aku cerita yang kuingat sendiri.'
'Jangan bilang aku selalu diam. Waktu itu aku sudah balas.'
'Aku tahu dari kamu. Itu bisa kamu terangkan sendiri.'
Aku mengangguk. Ada rasa lega karena ia tidak menawarkan menyusun cerita yang membuatku terlihat lebih baik. Ratna menunjuk makanan yang belum kusentuh dan bertanya apakah aku akan mengadukan nasi dingin juga. Aku tertawa pendek sebelum menyadari bunyinya. Rasanya aneh mendengar suaraku sendiri bisa selain menangis atau berbisik.
Sore hari, Wulan lewat bersama beberapa tahanan dari blok lama. Langkahnya melambat ketika melihatku. Aku berdiri untuk mengambil air, bukan mendekati pintu. Ia menyebut namaku dengan nada yang sudah kukenal.
'Sekarang pakai laporan?'
Aku menoleh. Semua jawaban yang tajam terasa siap di lidah. Aku bisa menyebut catatan tentang pemisahan, membiarkannya mengira pengaduan itu sudah menghasilkan hukuman. Aku ingat kertas yang baru kutandatangani dan menahan suara sampai cukup datar.
'Kalau ada yang mau kamu terangkan, terangkan kepada petugas.'
Wulan tertawa kecil. 'Berani karena ada yang nulis buat lo.'
Petugas yang berjalan di belakang rombongan memintanya terus bergerak. Wulan hendak menoleh lagi, tetapi diminta melanjutkan perjalanan. Aku memperhatikan sampai mereka melewati tikungan, lalu meletakkan gelas dengan tangan yang gemetar.
Aku ingin merasa telah menang, namun tubuhku belum mengerti bahwa kejadian itu sudah selesai. Aku duduk dan menghitung napas perlahan. Ketika petugas kembali memeriksa lorong, aku memanggilnya. Aku menyampaikan ucapan Wulan barusan dan mengatakan aku takut ia akan kembali malam nanti.
Petugas mencatat waktunya, kemudian menanyakan apakah ada ancaman lain yang belum kusebut. Aku menggeleng. Kali ini aku tidak menambah tafsir agar terdengar lebih berbahaya. Sindiran itu cukup menyakitkan tanpa perlu kuubah menjadi janji serangan.
Malamnya, sebelum lampu diredupkan, aku mengambil kertas catatan Arsa. Kabar dari pengasuh tetap terpisah dari urusan Wulan. Aku menulis pertanyaan baru untuk dinas: apakah benda dari rumah yang dikenal anak bisa dibawa melalui pengasuh. Aku ingin mengirim sesuatu yang bisa menenangkannya tanpa menjadikan Bu Rini pembawa rahasia.
Sesudah itu aku merapikan surat pengaduan pada sisi lain bantal. Dua kertas itu tidak menyelesaikan penahanan, tetapi masing-masing memuat tindakan yang telah kulakukan hari ini. Aku tidak perlu lagi menunggu Raka memastikan semua hal sebelum berani mengatakan kebutuhanku.
Menjelang tidur, bunyi langkah di lorong membuatku membuka mata. Petugas lewat, memeriksa pintu, lalu melanjutkan tugas. Wulan tidak datang. Aku membiarkan bunyi itu menjauh dan mengulangi pada diriku sendiri bahwa aku sudah meminta bantuan yang bisa diperiksa. Jika besok ada masalah, aku masih bisa melapor tanpa menciptakan orang kuat di belakang punggungku.