PoV Raka
Di apartemen, aku membuka pesan yang selama beberapa hari hanya kubaca sendirian. Kalimat pertama mengancam keselamatan Selira. Kalimat kedua menyebut anak. Sebelum mendengar pengakuan di ruang besuk, aku sudah mencurigai hubungan kami. Sesudahnya, ancaman itu terasa lebih dekat, tetapi rasa takut yang bertambah tidak membuat bukti baru.
Aku menelepon Bagas dan meminta waktu untuk memberikan laporan. Kali ini aku tidak datang sekadar bertanya kepada bekas rekan kerja. Aku membawa ponsel, mencatat kapan dua pesan diterima, dan menuliskan jawaban yang pernah kukirim pada pesan pertama.
Bagas membacanya di meja pemeriksaan. 'Kenapa baru sekarang kamu melaporkan lengkap?'
'Kupikir kalau bergerak diam-diam, aku bisa menemukan orangnya sebelum dia tahu.'
Mendengar jawabanku sendiri membuat tengkukku panas. Aku ingin menambahkan alasan lain: takut mengacaukan penempatan anak, takut nomor itu hilang, takut Selira semakin panik. Semua benar sebagai perasaan. Tidak satu pun membenarkan keputusan menanggung ancaman itu seorang diri.
'Kamu memberi dia waktu, Rak.'
'Aku tahu. Catat kapan aku menerimanya. Jangan pakai tanggal hari ini seolah baru masuk.'
Bagas menyuruhku menjelaskan setiap kejadian berurutan. Kapan aku datang ke kantor, siapa yang kutemui, siapa yang mengetahui bahwa aku memeriksa kontrak. Aku menyebut hal yang kulakukan sendiri dan membedakannya dari dugaan tentang orang yang mengawasi. Pesan yang datang setelah pertemuan tidak otomatis membuktikan seseorang di kantor membocorkan percakapan kami.
Ketika petugas lain masuk untuk mencatat laporan, aku mengulang semuanya dari awal. Ponsel diperiksa sesuai kebutuhan pendokumentasian. Aku menyimpan tanda terima dan nomor yang bisa dihubungi untuk tindak lanjut. Belum ada nama pengirim hari itu.
'Soal anak, jangan cari alamat lewat teman,' kata Bagas ketika pemeriksaan selesai. 'Bicarakan pengamanan dengan yang benar-benar mengasuh. Kalau ada informasi baru, sampaikan melalui petugas yang menangani.'
'Aku akan memberi tahu ibunya juga.'
Kalimat itu seharusnya sederhana. Namun aku menyadari betapa sering aku menganggap melindungi seseorang berarti memilih sendiri kabar apa yang sanggup ia tanggung. Dulu aku menyembunyikan penghinaan keluarga di belakang alasan tidak ingin memperpanjang masalah. Sekarang aku hampir mengulanginya dengan alasan menyelamatkan Selira dari rasa takut.
Sebelum siang, jawaban awal tentang pemisahan sel datang melalui saluran pendampingan. Ada catatan mengenai gesekan di blok serta pertimbangan memisahkan Selira sementara. Namaku tidak tercatat sebagai peminta. Identitas penulis laporan blok dan uraian kejadian masih harus diperiksa dalam pengaduan yang berbeda.
Aku membaca surat itu dua kali. Ini belum menjelaskan seluruhnya, tetapi cukup untuk membetulkan dugaan tentang campur tanganku. Aku menyiapkan salinan untuk Selira, kemudian meminta jadwal menyampaikan dua perkembangan tersebut.
Di luar tempat fotokopi aku berhenti cukup lama, memeriksa lembar mana yang boleh dibawa ke ruang besuk. Nama orang yang menerima laporan tercetak jelas. Itu terasa lebih meyakinkan daripada janji akan segera dibereskan, tetapi aku tetap tidak tahu kapan penyelidikan menemukan hasil. Aku mencoret kalimat aman yang sempat kutulis pada ringkasan untuk Selira. Petugas telah menerima laporan; keselamatan belum bisa dibuktikan hanya dari stempel penerimaan.
Lalu aku menelepon kembali bagian pendampingan, meminta supaya Selira bisa mengajukan pertanyaan langsung dalam kunjungan petugas pengasuhan berikutnya. Orang di ujung telepon mencatat permintaan itu. Aku memberikan nomor laporan, tidak menyebut dugaan tentang ibu atau Livia, dan mengakhiri percakapan setelah memastikan siapa yang perlu dihubungi Selira. Pekerjaan kecil itu membuatku sadar betapa banyak pertanyaan bisa diajukan tanpa harus menyebut kedekatanku dengan siapa pun.
Di ruang besuk, aku memulai dari hal yang paling mungkin membuatnya marah. Aku meletakkan salinan pesan yang sudah diperiksa petugas bersama berkas kunjungan hukum di sisi mejaku dan membacakan kedua ancaman. Selira memegang tepi kursi.
'Itu sudah ada sebelum Arsa dibawa dinas?'
'Ya.'
'Dan waktu aku minta kamu mencari kabarnya, kamu belum bilang?'
'Belum. Aku salah memilih menangani sendiri.'
Ia memalingkan wajah. Aku menunggu, merasa setiap suara dari luar ruang terlalu keras. Selira mengambil air, tetapi meletakkannya lagi tanpa minum.
'Aku tidak butuh kamu selalu datang dengan jawaban,' katanya. 'Aku perlu tahu kalau anakku disebut dalam ancaman. Kalau tidak, bagaimana aku menjawab petugas yang merawat dia?'
'Sekarang sudah dilaporkan. Aku bawa nomor laporannya. Aku juga akan menyampaikan kepada dinas melalui petugas penanganan. Tidak perlu menyebarkan lokasi Arsa untuk menjelaskan ancaman itu.'
'Aku yang ikut diberi penjelasan. Jangan pembicaraan tentang dia hanya berputar antara kamu, Bagas, dan orang dinas.'
Aku mencatat permintaannya. Selira meminta melihat tanggal pesan dan tanggal laporan. Ia membacanya dengan rahang mengeras. Aku tidak menyentuh tangannya atau meminta ia percaya bahwa aku bertindak demi kebaikannya.
'Ada pesan lain?'
'Tidak ada sampai sebelum aku masuk ke sini. Kalau ada, aku laporkan dan kabari kamu.'
Baru setelah pertanyaannya selesai, kuperlihatkan jawaban tentang sel. Ia membaca bagian yang menyebut pemisahan sementara dan mengusap kertas dengan ibu jari. Lama ia tidak bicara.
'Jadi waktu Wulan menyindir kamar hadiah, petugas sendiri punya catatan soal gesekan?'
'Ada catatan. Belum lengkap tentang bagaimana ditulis. Pengaduanmu diperlukan supaya yang terjadi padamu juga masuk, termasuk ucapanmu sendiri.'
'Aku tetap mau mengadu.'
Ia menyebut jadwal berikutnya, meminta bantuan menyusun kronologi tanpa mengambil alih suaranya. Ketegasannya membuatku lega sekaligus malu. Aku datang membawa dua kertas yang semestinya sudah lebih awal ia terima. Ia mengubahnya menjadi pekerjaan yang harus kami selesaikan, sementara aku masih tergoda meminta pengampunan karena sudah terlambat.
Ketika petugas membuka pintu, Selira berdiri dengan kedua salinan di tangan. Sebelum pergi ia menatapku lagi.
'Kalau kamu takut, bilang. Jangan mengubah takutmu menjadi keputusan untukku.'
Aku mengangguk. Sesudah ia menghilang di koridor, aku tetap duduk sampai petugas memanggil. Di luar gedung, aku menghubungi petugas dinas yang telah memverifikasi pendampinganku. Kali ini aku tidak menunggu sampai tahu nama pelaku. Aku menyampaikan laporan yang ada kepada petugas penanganan perkara itu dan meminta agar ibunya disertakan dalam pembicaraan berikutnya.