Ruang keluarga dari bangunan rumah milik seorang aktor terkenal bernama Devian Nathan, telah dihuni oleh sang Tuan Rumah.
Lelaki ini baru saja menyegarkan diri, dengan membasuh seluruh tubuh di kamar mandi. Kemudian, menghilangkan kelelahan akibat seharian harus beraksi di depan kamera, dengan cara menyandarkan raga pada sofa yang tersedia.
Kesempurnaan bertambah, ketika ia meresapi kenikmatan dari benda yang hanya dapat dirasakan asapnya saja.
Baru saja ia ingin merenungkan nasib diri, seorang pria datang menghadap dan lekas menyampaikan beban lain. Devian menyambut dengan tatapan malas, mendapat balasan senyum cibiran dari lelaki yang sudah merampungkan ayunan kakinya.
Setelah pria itu duduk pada sofa yang hanya dapat menampung satu raga saja, ia menyodorkan sebuah map kepada Devian.
"Ga bisa besok aja gitu, kamu bawa kerjaan ini?" Namun, Devian menerima benda itu, hingga akhirnya, ia membuka lipatan penutup map berwarna kuning yang sudah berada dalam genggaman kedua tangannya.
"Aku udah kehabisan alasan buat nolaknya," sahutnya, membawa wajah tanpa acuh yang membuat Devian berdecak kesal.
Devian tak lagi menyahut dengan kata, manakala ia meresapi makna dari setiap kata yang tertulis pada kertas dalam genggamannya.
Kemudian, "Apa ini kontrak pengajuan buat bintang iklan dari dia?" Sebelum usai membaca, Devian mengutarakannya.
"Ya. Nyonya Amelia memang gigih. Padahal, udah sering aku tolak, tapi, dia masih punya cara buat maksa." Lagi, lelaki ini berekspesi acuh tak acuh.
Devian terkesan begitu kesal, ia dengan kasar melempar map itu ke atas meja. "Harusnya, kamu tolak langsung!"
"Aku masih pikirkan keuntungannya." Karenanya, ada sesuatu yang ingin Reyhan cegah.
Yaitu ....
"Hei, Tuan Manager. Udah kubilang, aku jadi artis itu bukan terobsesi sama hasilnya." Sudah sering kali Devian mengatakan alasan kepada sahabatnya.
Namun, Reyhan hanya ingin mempergunakan kesempatan emas ini, untuk membuat Devian bahagia. Ia mengetahui kisah tragis dahulu kala, ketika Devian masih belia.
Lalu, "seenggaknya, kamu bisa dapat keputusan. Udah lima tahun kamu begini, tujuan kamu masih belum tercapai. Itu tandanya, kamu kurang berusaha. Siapa tau, kontak sama Nyonya Amelia pembuka jalannya."
"Kamu gila? Aku ga mau bintangi produk khusus buat wanita." Devian berkata setengah berteriak, menyerukan keinginan yang enggan mendapat sanggahan.
"Siapa bilang obat wajah cuma buat wanita? Banyak, kok, laki-laki yang pake juga." Reyhan kian memaksakan, membuat Devian menatapnya dengan sorotan kelam.
"Aku ga termasuk dari yang banyak itu." Devian kian dibuat jengkel, ia hendak beranjak meninggalkan lelaki yang menatapnya dengan sorotan cibir.
"Coba aja dulu, biar hidupmu ga monoton." Namun, lantunan suara dari mulut Reyhan, berhasil membuat Devian membalikkan badan.
"Reyhan, udah kubilang, tujuanku jadi terkenal cuma buat mencari keluargaku yang hilang," kata Devian melembut. Sebab, merasa, cara pamungkas yang dapat dilakukan hanyalah dengan permohonan.
"Ya, tapi, mana hasilnya? Malah yang ada, Tuan Brawijaya yang datang menemuimu, 'kan?"
"Itu memang kesalahanku. Tapi, aku juga udah berusaha biar dia ga terus mencariku." Lagi, alasan yang sama selalu Devian berikan kepada sahabatnya.
"Dev, ingat ini! Suatu saat, kamu pasti butuh ayahmu. Sekarang aja, buat perilisan film baru, kamu butuh sponsor yang kuat. Dan itu, cuma ayahmu yang bisa."
"Lebih baik aku terima tawaran Nyonya Amelia, daripada harus berurusan sama laki-laki itu."
"Ck ... ck ... ck ...." Di sela decakan lantangnya, Reyhan menggeleng tajam. Namun, seketika bibirnya melengkung, mendapati kemenangan dari alasan yang diutarakan Devian. "Kalo gitu ...." Ia menjeda kata, ketika tangannya meraih map dari atas meja. Tanpa berbicara, lelaki ini menyodorkannya kembali kepada sahabatnya.
Devian mendorong kasar tangan yang mengacung itu, sambil melotot, ia berkata, "aku ga bisa terima kerjaan yang ga sesuai sama keinginanku!"
Reyhan dibuat kewalahan.
Memang, seorang Devian Nathan yang terkenal keras kepala.
Bahkan, kabar tentang lelaki itu telah menyebar ke seluruh penjuru negara. Bahwa, pria ini terkenal akan keangkuhannya, yang selalu menolak kerja sama.
Namun, hal itulah yang membuat Devian Brawijaya membuang nama besar ayahnya, menjadi Devian Nathan.
"Mending ... kamu baca dulu lampirannya. Kalo kamu masih ga tertarik sama penawaran terakhirnya, aku akan nyerah buat bujuk kamu." Reyhan tersenyum penuh kemenangan. Namun, dibalik lengkungan bibir itu, ia menyimpan kekhawatiran.
Karena, perjanjian yang tertera di balik kertas tak bergaris yang kini berada di tangan Devian itu, tidak akan menggugah hati sahabatnya.
Sebelum menyerahkan kepada Devian, Reyhan telah menela'ahnya terlebih dahulu. Ia pun mengemban keraguan.
Sebab ....
Lelaki yang sudah kembali duduk pada tempat penampung raganya saat lalu, berkata, "wanita ini, benar-benar pembisnis sejati. Dia udah perhitungkan semuanya. Kamu yakin aku akan tertarik lihat keuntungan yang berat sebelah begini?"
"Huh ...," lenguhan rancu meluncur untuk membalas penjabaran alasan Devian. Kemudian, ia menatap tajam wajah sahabatnya. "Kamu harusnya mau bantu sedikit, dia itu janda. Dia cuma punya satu anak, anaknya juga ga tau sekarang di mana."
"Reyhan." Lagi, Devian dibuat jengkel. Sebelum berbicara, ia memijat ringan pelipisnya. "Itu bukan urusanku." Lantas, melayangkan senyum paksaan yang dibalas oleh gelengan saja.
"Ya udah!" Reyhan merebut paksa map dari tangan sahabatnya. "Kalo kamu emang udah ga mau, aku ga bisa berbuat sesuatu." Kemudian, ia bangkit menghadap Devian sambil tertunduk.
Wajah periang yang mengemban amarah itu, membuat Devian menghempas napas dalam. Ada rasa takut yang menggelitik sanubarinya, tetapi, dengan cepat ia melepaskannya.
"Kamu bukan orang yang ga tau sifatku, Reyhan." Devian mendongak. Wajah murka ia lemparkan kepada lelaki yang melenguh pasrah di sana.
"Huh ...." Selalu saja, Reyhan melepas embusan napas panjang, jika sedang berdebat dengan lelaki ini. "Sekali lagi aku tanya, kamu benar ga mau ambil proyek ini?"
"Ya! Mau seratus kali kamu tanya juga, jawabannya sama!" Tegas nada bicara, sekuat tekad untuk Devian tidak mengingkari janjinya.
Tanpa Reyhan ketahui, Devian telah berjanji untuk tidak menjadi serakah. Jadi, ia akan menakar kemampuannya, agar dapat bertemu dengan seluruh keluarganya dalam keadaan tubuh yang sehat.
Asa berkumandang akan mempertemukan diri dengan kerabat yang hilang. Kemudian, ia mempersiapkan raga yang sehat serta harta yang cukup, jika kelak harapannya terkabulkan.
"Amelia yang malang, maafkan kekerasan kepalanya sahabatku." Reyhan kemudian memutar tubuh, sambil memancing dengan kerlingan mata, ia melangkah lamban.
Namun, sepertinya tidak ada perubahan dari Devian. Lelaki ini membiarkan Reyhan meninggalkannya. Dengan membawa beban kekalahan di setiap langkah kakinya.
Hilang Reyhan dari jangkau pandangan, Devian kembali meraih benda untuk mengubur rasa penatnya. Bungkusan rokok dari atas meja telah berada di tangannya, sebelum ia meraih batang dari dalamnya, ia memutar-mutar benda tersebut.
Tidak dapat memungkiri, ia mengharap dapat merebut kembali kebahagiaan yang telah terpecah selama berpisah dengan keluarganya.
Mungkin, Amelia dapat menjadi jembatan.
Namun, terpikirkan rasa bersalah yang sudah kerap menolak kerja sama, Devian membulatkan tekad, untuk tidak menjadi bagian dari wanita itu.