Di atas marmer pembalut lantai sebuah ruang tidur sederhana, seorang wanita mengedarkan pandangan pada setiap penjuru ruang. Ia hanya ingin membuktikan perkataan sahabat lelakinya, bahwa, pria itu menitipkan benda untuknya kepada gadis pemilik ruangan ini.
Sebut saja gadis itu Christal, wanita yang telah mendapat pengkhianatan dari sahabatnya uang bernama Adelia.
"Jadi, semua ini bener?" Setelah melihat ciri-ciri benda yang disebutkan lelaki bernama Ernest itu, Christal memastikan semuanya.
Keteguhan hati menyatakan, bahwa, sahabatnya yang bernama Adelia itu telah mengkhianatinya. Pikirannya ini semakin kokoh, setelah melihat gelagat kaku dari wanita itu. Bingkai foto terbuat dari ukiran kayu, kini menjadi sasaran tangannya. Ia mengacungkan benda itu di hadapan wajah Adelia.
"Bingkai foto ini harusnya buatku, 'kan?" Dengan penuh emosi, Christal mengatakannya. Ia belum dapat menerima kenyataan pahit ini, ternyata, seseorang yang sangat ia percayai, dengan tega menyakitinya.
Kemurkaan begitu kasat mata, membuat Adelia tidak dapat menghindarkan getaran tubuhnya. Namun, ia telah mempersiapkan jawaban untuk kisah asmara rumit ini. Kemudian, ia memberanikan mengangkat wajahnya.
"Ya! Harusnya barang-barang di dalam kamar ini adalah milikmu semua," katanya tanpa dusta tersirat di balik ucap kata.
Tentu, hal itu membuat Christal kian murka. Berani sekali wanita ini mengakui kesalahannya dengan wajah tanpa dosa. Mata Adelia yang berkaca-kaca, ia memiliki firasat bukan sebagai ungkap penyesalan, melainkan, wanita itu sedang menumpahkan kepedihan.
"Sudah tau begitu, kenapa kamu masih berani mengambilnya?" kata Christal berseru ketus.
"Karna aku mencintai Ernest!" Tepat setelah kalimat ini Adelia ucapkan, suara dari pintu yang terbuka telah memenggal kegiatan mereka.
Tatapan sengit dari kedua wanita ini beralih, menuju pada sumber suara. Mereka memaparkan senyuman dalam arti berbeda, ketika melihat Ernest berjalan kian mendekatinya. Sudut bibir Christal tertarik keji, menyambut kedatangan lelaki itu, sementara Adelia menyeringai penuh kemenangan, mengharap lelaki ini dapat melindunginya.
"Adelia ...." Dengan mudahnya Ernest mengusap puncak kepala Adelia, ketika ia telah berdiri di samping wanita itu.
Tindak-tanduk Ernest dimaknai Christal dengan kepahaman. Ia mengerti, jika lelaki ini menyayangi sahabatnya. Tentu, ia sudah dapat memperkirakan hasil akhir dari pertikaiannya saat ini, bahwa, lelaki ini akan menyerah untuk mengejar cintanya. Sudah malas ia mengurusi hal ini, sebaiknya, ia menonton pertunjukan drama dari kedua pengkhianat di sini saja.
"Kamu mencintaiku?" tanya Ernest kepada Adelia.
Sejenak, Adelia tersipu, ia merasa malu jika pernyataan yang ditujukan untuk Christal saat lalu telah terdengar oleh objek yang sedang mereka perbincangkan. "A-aku-"
"Tuluskah kamu sama perasaanmu itu?" Sepertinya, Ernest ingin memastikan, dan ia melihat kepuasan ketika melihat tatapan Adelia yang mengandung kejujuran.
"Maafkan aku, ga seharusnya aku mengkhianati kalian." Lalu, Adelia mengedarkan pandangan, melihat satu persatu pada benda-benda yang diberikan Ernest untuk Christal. "Kalau kalian keberatan sama barang-barang yang aku ambil ini ... kalian bisa mengambilnya lagi."
Christal merasa terhina dengan ucapan itu, ia membalasnya dengan desisan sebal, tak ayal bola mata memutar, sebagai pelengkap luapan rasa kesalnya.
Sementara, Ernest tersenyum simpul, ia kembali mengusap puncak kepala Adelia. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya, jika wanita yang memiliki wajah nyaris setara kecantikannya dengan Christal ini, memiliki ketertarikan terhadap dirinya.
"Terima kasih, biarkan hatimu selalu menginginkanku. Aku harap kamu bisa terima segala kekuranganku." Ernest lekas memberi keputusan, setelah mengingat jika ia sudah merasa lelah untuk mengejar cinta Christal.
Perjuangannya selama satu tahun kebelakang ini, rela ia korbankan. Karenanya, tiada pernah ia mendapat balasan. Itu terjadi, sebab, Christal memiliki sifat angkuh dan sombong.
Bagaimana tidak ia bersikap sedemikian adanya? Sementara kehidupannya memiliki kesempurnaan.
Christal terlahir dari keluarga kaya, bahkan, kecantikannya pun tiada dapat dibandingkan dengan para siswi di sekolahnya. Ia berhasil menyaingi ratusan siswi yang mencari ilmu di sekolah tingkat atas ini, maka, tidak heran para lelaki mengejar cintanya.
Keadaan inilah yang membuat Ernest kian menciut, karenanya, merasa ia tidak pantas untuk bersanding dengan wanita seperti Christal.
Tanda kasih tercurah tanpa kesengajaan saja, Ernest hanya ingin membalaskan rasa sakit terhadap Christal. Seharusnya, ia berhasil membuat wanita angkuh itu menjadi lebih berbesar hati.
Namun, Christal pergi setelah menghentakkan kaki. Ia memburu langkah, membawa amarah dan kekecewaannya, di setiap langkahnya.
Christal tidak pernah mengira, cinta dari seorang wanita berparas jelita akan berakhir memilukan seperti ini.
Christal membawa kegundahan, dengan segera menemui ibunya. Kebetulan, sang ibu sedang berada di rumahnya. Biasanya, ibunya tidak pernah menghuni rumah, jika bukan akhir pekan.
Ruang keluarga, di bawah atap bangunan kediaman Amelia, Christal sedang ingin mencairkan hatinya yang begitu kecewa.
Mendapati sang ibu dengan santai membaca majalah, wanita ini lekas merebutnya. "Mama ...." Kemudian, mendekap erat tubuh sang ibu, setelah menaruh majalah ke atas meja.
"Tumben, kamu lesu begini." Dari wajah layu yang dilihat Amelia dua menit yang lalu, ia sudah dapat menerka kepiluan yang sedang menerpa batin anaknya.
"Cintaku tak terbalas, Mama. Sakit banget! Hua ...." Christal menghibur diri, dengan terisak tangis tanpa air mata.
"Siapa yang sudah berani menolak anak pengusaha ini?" Amelia berkata bukan untuk membalas kekejaman insan yang dikatakan anaknya. Melainkan, ia hanya ingin menghibur anaknya saja.
"Ada, 'lah. Laki-laki ga tau diri, pokoknya. Yang ngasih kucing putih itu." Wajah Christal memberengut, bibirnya pun maju jauh. Namun, ia berhasil menunjuk objek dalam ucap katanya, dengan gerakan dagu. Tentunya, ketika kucing itu sedang tidur di sampingnya.
Amelia dibuat gemas, ia dengan penuh sayang mencubit manja pipi anaknya. "Terus, apa yang mau kamu lakukan?" Amelia sudah dapat menerka, keinginan anaknya yang super manja ini.
Sejenak, Christal membisu, kedua tangannya pun terlepas dari tubuh ibunya. Sambil memikirkan rencana untuk menghibur diri, ia mengusap bekas tanda sayang sang ibu, di pipinya.
Beberapa menit kemudian, Christal tersenyum lebar. Lalu, membagi rencana kepada ibunya, dengan awal perbincangan, "aku mau sekolah di Korea!" Kalimat yang membuat ibunya tertegun layu.
Namun, Amelia memikirkan keadaan hari, ia tidak dapat menemui anaknya setiap waktu. Lalu, ia pun mengusap puncak kepala anaknya. "Kalau kamu mau ambil jurusan bisnis, Mama dengan berat mengizinkan!"
Apa?
Mengapa sang ibunda mengatakan keberatan?
Atau, mungkin Amelia pun telah mempertimbangkan.
Maka, "do'akan aja, setelah selesai kuliah nanti, aku bisa bantu Mama di perusahaan."
"Itu, mungkin, keinginan mendiang ayahmu juga."
Ya!
Memang benar, Christal tidak pernah ingin ikut campur mengurus perusahaan bekas peninggalan ayahnya.
"Kalau Mama mengizinkan, harusnya, jangan ada kata berat, dong." Christal berusaha mencairkan suasana. Dan juga, ia ingin mendapatkan restu sempurna dari sang ibunda, sebelum kehidupannya lebih sengsara.
"Tentu! Mama cuma becanda!" Namun, mata tajam itu kini telah berkaca-kaca, membuat Christal sedikit kecewa.
Kecewa?
Tidak! Christal tidak ingin lagi perasaan itu semakin menggumpal di hatinya. Lalu, dengan tegas ia menyatakan, akan segera mengubur perasaan, dengan meninggalkan tanah kelahirannya ini.
Keputusan sudah membulat, Christal kemudian mendekap tubuh ibunya, dengan iringan kalimat, "aku berjanji, ga akan buat mama khawatir lagi!"
"Itu baru anak Mama."
Lantunan kalimat dari mulut Amelia, adalah pengakhir dari ilusi yang tergambar di dalam mimpi Christal.
Wanita ini terperanjat dari alam bawah sadarnya, mengembalikan jiwa ke alam nyata tanpa jeda. Ia sudah bangkit dan duduk di atas tempat tidur, tatapannya kosong mengarah ke depan dengan kelopak mata yang terbuka lebar.
Mengapa, kejadian itu bisa terulang di alam mimpinya?
Padahal, ia sudah dengan keras berusaha melupakannya.
Ataukah, mungkin, karena ia telah kembali pada asalnya? Yang membuat kenangan pahit itu teringat kembali. Apalagi, sore kemarin, ia menjumpai sepasang insan itu tanpa sengaja.
Lalu, kucing putih yang ia titipkan di sebuah petshop itu, bagaimana kabarnya sekarang?
Huh ….
Christal hanya mampu menghela napas panjang saja. Angan berkumandang harapan, jika binatang lucu itu kini sedang dalam keadaan baik-baik saja.