Malam harinya, suasana di rumah Laksmana tercium aroma makanan lezat memenuhi ruang makan. Adelia sibuk membantu Sintya menyajikan hidangan di atas meja panjang di ruang tengah.
Dari sup krim jagung hingga ikan bakar yang dibumbui dengan rempah khas Indonesia, semua disiapkan dengan penuh cinta.
Tak lama kemudian, Hasto dan Prasetyo masuk ke ruang makan. Hasto langsung menyapa dengan senyum hangat, sementara Prasetyo hanya mengangguk sebentar sebelum duduk di tempatnya biasa di ujung meja.
“Adit belum pulang, ya?” tanya Sintya sambil duduk di tempatnya. Dia menatap ke arah kursi sebelah Adelia yang biasanya ditempati Aditya masih kosong.
Hasto mengangguk. “Aditya pulang terlambat, dia bilang ada berkas penting yang harus diselesaikan hari ini. Aku sudah mengusulkan untuk membantunya, tapi dia menolak,” sahutnya sembari mengambil sendok dan mengadukannya ke mangkok sup.
Adelia menyimak tanpa bicara apapun. Namun, ia segera menoleh ke arah Prasetyo yang menatapnya dingin.
“Kamu makan saja dulu, Del. Jangan menunggu suamimu, karena dia belum pasti pulangnya kapan,” titah Sintya kepada menantunya.
Adelia pun mengangguk. “Iya, Ma.”
Suasana di meja makan begitu sunyi, hanya ada dentingan sendok dan garpu yang terdengar. Setelah itu, Sintya menatap ke arah Prasetyo yang masih menikmati hidangan penutup.
“Pras?” Panggilnya lirih.
“Iya, Ma.”
“Kamu baik-baik saja, kan?” tanya Sintya dengan nada cemas.
Prasetyo menoleh kembali ke arah Sintya dengan tatapan bingung. “Baik, Ma. Memangnya kenapa?”
Sintya menghentikan tangan yang sedang mengaduk sup. Matanya langsung menatap Prasetyo dengan ekspresi khawatir yang jelas terlihat. “Pras, kenapa kamu tidak memberitahuku tentang kejadian tadi siang? Apakah ada yang sakit atau terluka?”
Prasetyo mengambil gelas di meja lalu meminumnya sampai habis setelah itu ia menggeleng perlahan. “Aku baik-baik saja, Ma. Tidak perlu khawatir. Hanya sedikit benturan kecil, tidak ada yang serius.”
“Kamu tetap harus berhati-hati saat mengemudi, Nak,” ucap Sintya dengan suara penuh perhatian. Ia mendekatkan tangan untuk menyentuh jemari Prasetyo dan menggenggamnya erat. “Mama tidak bisa jika melihatmu mengalami sesuatu yang buruk.”
“Aku mengerti, Ma. Aku akan lebih berhati-hati ke depannya,” jawab Prasetyo dengan nada yang lebih lembut dari biasanya. Ia kemudian menatap Adelia sebentar, seolah ingin memastikan bahwa dialah yang sudah memberitahunya.
Adelia menunduk, melihat tatapan Prasetyo seperti ingin menerkam dan membuatnya sedikit takut.
“Kenapa Kak Pras menatapku seperti itu? Apa aku salah memberitahukan Mama Sintya?” batinnya gelisah.
Setelah makan malam selesai, Adelia membantu Sintya membersihkan meja dan mencuci piring sebentar sebelum memutuskan untuk istirahat ke kamar.
Ia melangkah perlahan ke arah tangga, pikirannya masih terpaku pada Aditya yang belum pulang.
Tiba-tiba, dari arah atas tangga terdengar suara langkah kaki yang berat. Prasetyo muncul dengan wajah yang lebih dingin dari biasanya, matanya menyala dengan rasa tidak senang.
Keduanya berpapasan tepat di tengah tangga, membuat mereka harus berhenti dan saling menghadap.
“Adelia!” panggil Prasetyo dengan nada yang rendah namun penuh tekanan. “Kita perlu bicara.”
Adelia terkejut lalu mengangguk perlahan. Ia menundukkan pandangannya agar tidak harus melihat tatapan dingin dari kakak iparnya.
“Kenapa kamu memberitahu Mama tentang kecelakaan pagi tadi?!” Hardik Prasetyo dengan suara yang tajam. “Aku sudah bilang padamu untuk merahasiakan hal ini. Dan sekarang Mama menjadi khawatir.”
“Aku minta maaf, Kak Pras…” ucap Adelia dengan suara lembut, jemarinya saling bertautan. “Aku tidak bermaksud membuat Mama Sintya khawatir. Aku hanya merasa harus memberitahukannya karena itu adalah sesuatu yang penting.”
“Penting?” Prasetyo mengangkat alisnya dengan sinis. “Aku bisa menangani semuanya tanpa perlu campur tangan orang lain, termasuk kamu,” tunjuk Prasetyo.
Adelia merasa wajahnya memanas disertai rasa takut. Ia ingin menjelaskan lebih jauh, tapi sikap dingin dan sedikit mengintimidasi dari Prasetyo membuatnya sulit untuk membuka mulut.
“Aku benar-benar tidak bermaksud buruk, Kak Pras,” ucapnya sekali lagi, masih dengan suara yang hampir tak terdengar.
Prasetyo hanya menghela napas dalam, matanya tetap menatap Adelia dengan tatapan yang tidak bisa ditebak. “Sekarang sudah terlambat. Yang penting, kedepannya tolong jangan ikut campur ke dalam urusanku tanpa izin.”
Tanpa menunggu jawaban, Prasetyo melangkah melewati Adelia dengan langkah yang cepat, menyisakan wanita itu sendirian di tengah tangga.
Adelia merasa berat di dadanya, air mata hampir menetes dari sudut matanya. Ia terus berdiri di sana sebentar sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya ke kamar.
Adelia duduk di tepi ranjang, pikirannya masih penuh dengan kata-kata Prasetyo yang menusuk hati. Ia merasa bersalah karena membuat Sintya khawatir dan juga membuat kakak iparnya marah padanya.
“Aku seharusnya berpikir lebih matang sebelum berbicara”, gumamnya pelan, menatap jauh ke arah jendela yang sudah gelap.
Tiba-tiba, layar ponsel di sebelahnya menyala. Sebuah pesan dari Aditya muncul:
"Adel, maafin aku, ya, pulangnya terlambat. Banyak banget berkas yang harus diselesaikan malam ini. Besok aku janji pulang lebih awal."
Adelia membaca pesannya berkali-kali, lalu mengetik balasan singkat: "Tidak apa-apa. Pulangnya hati-hati.”
Setelah membalas Adelia meletakkan kembali ponselnya di nakas, lalu ia berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur.
***
Sementara itu, jauh di lokasi lain, tepatnya di sebuah apartemen mewah di pusat kota. Aditya sedang berdiri di balkon sambil melihat pemandangan kota yang menerangi malam.
Ponselnya masih dipegang erat di tangannya, sementara Laura berdiri di belakangnya dengan selimut tipis menyelimuti tubuhnya.
"Mau sampai kapan kamu berbohong seperti ini?" tanya Laura dengan nada yang sedikit getir, mendekat dan menyandarkan kepalanya di punggung Aditya.
Aditya menutup mata sejenak, rasa bersalah menyelimuti dirinya. "Aku tidak punya pilihan, Laura. Aku tidak ingin membuatnya terluka."
Kata-kata Aditya seolah mencubit hati Laura dengan keras. Wajahnya yang tadi penuh kemarahan kini berubah menjadi campuran antara kesedihan dan kekecewaan yang mendalam.
Ia mundur selangkah, menyilangkan kedua tangan di d**a seolah berusaha melindungi dirinya dari rasa sakit yang kembali menyerang.
“Jangan bicara seolah hanya dia satu-satunya orang yang berhak dilindungi dan tidak boleh terluka, Adit!” suara Laura meninggi.
Ada sedikit getaran di dalamnya yang menunjukkan betapa rapuhnya perasaannya saat ini. “Apa kamu kira aku tidak punya perasaan? Apa menurutmu hatiku ini boneka yang bisa dipermainkan seenaknya olehmu?!” cecarnya penuh amarah.
Aditya bergeming.
Laura menatapnya tajam, matanya mulai berkaca-kaca. “Kamu memilih menikah dengannya karena itu keinginan orang tuamu, bukan? Kamu menyerahkan hidupmu pada keputusan mereka, dan aku? Aku hanya harus menerima posisi ini. Menjadi orang yang bersembunyi, menjadi rahasia yang tidak boleh diketahui siapa pun. Kita masih bersama. Ya, tapi itu tidak cukup! Aku tidak mau berbagi. Aku ingin memilikimu sepenuhnya, Adit. Hanya milikku.”