Adelia hampir tidak percaya melihatnya. Ia melangkah mendekat dengan hati-hati, dan saat Prasetyo mengangkat kepala, mereka saling bertatap. Rasa canggung kembali muncul, namun kali ini dicampur dengan rasa kebingungan yang luar biasa.
“Kak Pras? Kamu kenapa ada di sini?” tanya Adelia dengan suara pelan.
Sebelum Prasetyo menjawab, suara petugas di meja itu terdengar. “Bapak Prasetyo, Anda sudah menyetujui untuk menanggung seluruh biaya perawatan pasien bernama Tiara. Anda harus tanda tangan di sini.”
Adelia kaget. “Tiara?” gumamnya lirih. Dia menatap ke arah Prasetyo.
Prasetyo berdiri perlahan, wajahnya tetap serius namun kini terlihat sedikit lelah. “Kita bicara di luar saja, Adel,” ucapnya dengan nada rendah.
Di koridor yang lebih sepi, Prasetyo mulai menjelaskan. Adelia memperhatikan dengan serius.
Prasetyo menghela napas dalam. “Aku tidak sengaja. Dan aku akan bertanggung jawab penuh atas semua yang terjadi.”
Adelia masih terkejut mendengarnya. “Tiara adalah teman sekantorku, Kak Pras. Aku tidak menyangka kalian akan terlibat kecelakaan seperti ini.”
“Aku juga tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini,” kata Prasetyo dengan suara yang lebih lembut dari biasanya. “Aku sudah mengurus semua administrasi, dan dokter mengatakan kondisinya stabil. Hanya perlu istirahat beberapa hari saja.”
Adelia mengangguk. “Bolehkah aku menemui Tiara?” tanyanya.
Prasetyo mengangguk. “Tentu saja. Dia ada di ruang rawat inap lantai dua, kamar nomor 3. Aku akan menunggu di sini hingga keluarganya datang.”
Adelia mengangguk dan segera melangkah menuju arah lift, namun sebelum pergi ia berbalik sejenak. “Terima kasih sudah bertanggung jawab, Kak Pras.”
Prasetyo hanya memberikan senyum samar yang jarang terlihat darinya.
Setelah sampai di lantai dua, Adelia mendorong pintu kamar nomor 3 dengan hati-hati. Di dalam, Tiara berbaring di ranjang putih dengan baju pasien biru muda, satu infus terpasang di tangan kirinya yang sedikit membengkak. Wajahnya masih sedikit pucat, tapi langsung bersinar saat melihat Adelia masuk.
“Adel! Kamu benar-benar datang,” ucap Tiara dengan suara yang masih lemah tapi penuh kegembiraan.
Adelia cepat mendekat dan menjabat tangan Tiara yang tidak sedang terinfus. “Tentu saja aku datang. Aku sangat khawatir mendengar kabarmu.”
“Aku baik-baik saja kok,” Tiara menjelaskan sambil menyesakkan bantal di belakang punggungnya agar bisa duduk setengah tegak. “Hanya sedikit memar dan keseleo di kaki. Dokter bilang besok mungkin sudah bisa pulang kalau kondisinya membaik.”
Adelia duduk di kursi kecil yang berada di sisi ranjang. “Ada sesuatu hal yang ingin aku katakan. Orang yang tidak sengaja menyenggol motormu ... dia adalah kakak iparku, Ra.”
Tiara sedikit terkejut. “Benarkah?”
Adelia mengangguk.
“Tapi kamu tidak usah khawatir, Adel. Dia sudah datang ke sini menemuiku, sangat sopan dan langsung bilang akan bertanggung jawab penuh. Bahkan dia juga bilang akan menangani semua biaya perbaikan motorku,” ucap Tiara.
“Aku sangat minta maaf karena hal ini terjadi,” kata Adelia dengan rasa bersalah.
“Tidak apa-apa kok! Ini hanya kecelakaan tak disengaja. Malah aku merasa bersyukur karena dia tidak meninggalkan aku dan langsung mengurus semuanya,” ujar Tiara dengan senyum hangat. Ia lalu mengencangkan tangan Adelia. “Ngomong-ngomong, bagaimana kabarmu setelah pernikahan? Aku belum sempat bertemu kamu sejak hari kamu menikah dengan Aditya.”
Adelia merasa wajahnya sedikit memanas. Ia menghela napas perlahan sebelum menjawab. “Semua baik saja, Tiara. Keluarganya sangat baik padaku, dan Aditya juga sangat perhatian.”
Tiara mengangguk, namun matanya menunjukkan rasa penasaran yang mendalam. “Aku tahu kamu pernah sangat mencintai Bayu sebelum bertemu Aditya. Aku hanya ingin tahu... apakah kamu benar-benar bahagia sekarang?”
Adelia terdiam sesaat, matanya menatap jauh ke arah jendela kamar yang menghadap taman kecil rumah sakit.
“Bayu dan aku sudah lama tidak ada hubungan lagi, Tiara. Kita memilih jalan yang berbeda.” Ia kemudian menoleh kembali ke Tiara dengan senyum lembut. “Dan tentang kebahagiaan... aku merasa tenang dan diterima dengan baik di keluarga baruku. Mungkin itu adalah awal dari kebahagiaan yang sebenarnya.”
Tiara mengangguk dengan pemahaman. “Itu sudah cukup, Adel. Yang penting kamu merasa nyaman dan tidak dipaksakan dalam apa pun. Kamu pantas mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.”
***
Berbeda dengan suasana di kantor milik Aditya. Setelah hampir dua jam menghadiri rapat tentang ekspansi proyek baru perusahaan, Aditya akhirnya bisa keluar dari ruang rapat dengan tubuh yang cukup lelah.
Keringat menetes di dahinya meskipun ruangan itu ber-AC, dan matanya sedikit merah karena terus fokus pada presentasi yang diberikan oleh tim keuangan.
Ia masuk ke dalam ruang kerjanya yang luas, menutup pintu dengan lembut sebelum menyandarkan seluruh berat badan di sandaran kursi.
Aditya menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri sambil mengusap wajahnya dengan tangan yang lelah. “Akhirnya rapat sudah selesai”, gumamnya sambil merencanakan untuk memanggil Ryan untuk membahas beberapa poin penting dari rapat tadi.
Namun sebelum ia mengambil ponsel di meja, pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan keras tanpa ada suara ketukan sebelumnya.
Aditya terkejut dan langsung berdiri, matanya melebar saat melihat sosok Laura yang mengenakan gaun kerja hitam ketat yang membuatnya terlihat lebih anggun namun juga membuat Aditya semakin gugup.
“Laura! Kamu kenapa ada di sini?” bisik Aditya dengan suara penuh kekhawatiran, sambil melihat ke arah pintu yang masih terbuka. Ia takut jika Hasto atau salah satu karyawan melihat kedatangan wanita itu.
Laura hanya tersenyum sinis dan menutup pintu dari dalam dengan lengan panjangnya. “Aku sudah tidak sabar menunggumu, Adit. Kamu bilang akan datang menemuiku setelah pesta pernikahanmu, tapi kamu tidak datang. Makanya aku sendiri yang datang ke sini untuk melihatmu.”
Aditya mengambil jarak sedikit, matanya terus melihat ke arah pintu. “Papaku ada di kantor hari ini, Laura. Kamu harus pergi sekarang sebelum ada yang melihat kita.”
“Tapi, aku sangat merindukanmu,” ucap Laura dengan suara yang tiba-tiba menjadi manja. Ia melangkah mendekat, menjulurkan tangan kanannya untuk menyentuh pipi Aditya dengan lembut. “Kamu sudah dua hari tidak menghubungiku. Padahal kita sudah janji akan selalu bersama, bukan?”
Aditya dengan cepat menjauh dari sentuhannya, wajahnya menunjukkan rasa cemas yang jelas. “Laura, kita sudah bahas ini kan? Jangan sampai orang lain curiga terhadap hubungan kita atau lebih baik kamu ... melupakanku.”
“Melupakanmu, Adit? Tidak akan. Perasaanku padamu tidak akan pernah hilang begitu saja,” jawab Laura dengan nada yang sedikit meninggi. Ia mengangkat dagunya dengan penuh keyakinan. “Aku tidak akan pernah menyerah pada cinta kita, tidak peduli siapa wanita yang kamu nikahi.”
Hanya beberapa detik kemudian, terdengar suara ketukan di pintu ruangan. “Pak Aditya? Apakah saya boleh masuk? Ada beberapa berkas yang perlu Anda tanda tangani,” suara Ryan terdengar dari luar.
Aditya merasa jantungnya berdebar kencang. Ia cepat menarik Laura ke arah sudut ruangan yang tertutup oleh rak buku besar. “Diam dan bersembunyi di sana!” titahnya dengan tegas sebelum menjawab, “Tunggu sebentar!”
Ia mengambil napas dalam beberapa kali untuk menenangkan diri, lalu berjalan ke pintu dan membukanya dengan wajah yang berusaha tampak tenang. “Maaf Ryan, aku sedang membaca berkas penting. Apa ada yang mendesak?”
Ryan mengangkat tumpukan berkas di tangannya. “Ini berkas kontrak dengan klien baru, Pak. Mereka mengharapkan tanda tangan Anda sebelum jam dua siang hari ini.”
“Baik, taruh saja di sana. Aku akan menandatanganinya sebentar lagi,” ucap Aditya dengan suara yang sedikit gugup.
Setelah Ryan pergi dan pintu tertutup kembali, Aditya langsung berbalik ke arah rak buku di mana Laura bersembunyi. Wanita itu keluar dengan ekspresi wajah yang penuh kemenangan.
“Kamu melihatnya kan, Adit? Kamu masih takut orang tahu tentang kita. Itu berarti kamu masih mencintaiku,” ucapnya dengan suara yang penuh keyakinan.
Aditya menghela napas dalam, rasa frustrasi mulai muncul di wajahnya. “Tidak ada yang perlu kamu salah artikan, Laura. Aku hanya tidak ingin ada masalah.