Hari itu juga mereka mendatangi Andin. Ibu Aisyah berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat, dan Andin menarik buku sketsa dari bawah bantal. Qenna membuka halamannya: kebaya putih berlengan panjang, bordir melati di leher, tiga kali digambar ulang dengan garis yang makin yakin.
"Jahitnya jangan dikerjakan sendirian," kata Qenna. "Dan lehernya jangan terlalu rendah."
Andin menjerit pelan ke bantal, dan Ibu Aisyah di pintu akhirnya membiarkan dirinya tersenyum.
Sesudah itu sembilan pekan lewat dengan cara yang sama: Mama Jamilah datang tiap Minggu pukul dua dan menggendong Aksa dengan tangan yang makin lama makin tidak gemetar, Armand muncul di panti hanya bersama orang lain atau membawa susu, dan Ibu Aisyah mencoret kalender dapur setiap malam dengan pensil merah, sampai pada Jumat sore itu tidak ada lagi kotak kosong sebelum lingkaran yang ia buat.
Aksa hampir enam bulan, dan sudah pandai duduk sendiri di atas tikar dengan dua tangan di lantai seperti pemain sepak bola yang menunggu peluit.
Pukul tiga, sedan hitam berhenti di depan gerbang. Armand turun sendirian, tanpa kotak kue, tanpa Hans, tanpa orang tuanya. Hanya kemeja putih yang lengannya ia gulung sampai siku, dan wajah yang kelihatan seperti belum tidur sejak subuh.
Qenna sudah duduk di kursi rotan di teras. Sepuluh langkah di sebelah kiri, Ibu Aisyah duduk di kursi plastik hijau dengan sebaskom kacang panjang yang belum disiangi di pangkuan. Andin dan anak-anak sudah dikirim ke halaman belakang, dan terdengar jelas dari sana betapa mereka tidak berhasil benar-benar pergi.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Armand berhenti di anak tangga terbawah. Ia tidak naik. "Masa iddahmu selesai tadi pagi. Aku menghitung dengan Ibu Aisyah dan Pak Dimas, dan ketiganya sepakat. Aku menunggu sampai pukul tiga supaya aku tidak terlihat tergesa."
"Kamu terlihat tergesa."
"Aku tahu." Ia tertawa kecil, gugup. "Aku tidak membawa cincin, karena itu urusan nanti. Aku tidak membawa kalimat hafalan." Ia menarik napas, menegakkan bahu, dan menatap Qenna langsung. "Dulu aku pernah membuat seseorang tinggal dengan cara yang salah. Aku pernah menarik tangannya dan memaksa. Aku tidak mau memulai apa pun denganmu dengan cara itu. Jadi aku bertanya, dan aku akan menerima jawabannya, apa pun itu."
Qenna menunggu.
"Qenna Amanda." Suaranya merendah. "Maukah kamu menikah denganku?"
Hening yang lama. Angin menggerakkan ujung kerudung Qenna. Ia melihat lelaki yang membopongnya di lift, yang memberinya uang taksi dan ditolak, yang menjauh sembilan pekan tanpa mengeluh. Tangan lelaki itu terkepal di sisi tubuh, tidak mencoba meraih apa pun.
Ia sudah menyiapkan banyak jawaban. Semuanya hilang, dan yang tersisa tinggal satu.
"Ya," ujarnya.
Armand menutup mata. Napasnya keluar panjang, seperti orang yang baru saja diizinkan meletakkan sesuatu yang lama ia pikul.
"Ya," ulang Qenna, lebih pelan, dan kali ini ia tersenyum. "Hati saya sudah selesai. Saya tidak membawa apa-apa dari yang lama ke sini."
Dari kursi hijau, terdengar suara kecil seperti hidung yang disedot cepat-cepat. Ibu Aisyah memandang jauh ke pagar, pura-pura menghitung bunga bougainvillea.
"Nak Armand," katanya, tanpa menoleh, "kamu boleh naik sekarang. Tangga itu tidak akan menggigit."
Armand naik satu anak tangga, lalu satu lagi, dan duduk di kursi yang menghadap Qenna dengan meja kecil di antara mereka. Ia tidak menyentuh tangannya, dan Qenna tidak mengharapkannya.
"Tehnya sudah dingin," bisik Ibu Aisyah dari kursi hijau. "Siapa pun yang mau minum, minum saja. Jangan berdua-duaan menatap cangkir."
"Baik, Bu," sahut mereka berbarengan.
***
Dua pekan lebih berikutnya, Minggu pagi, panti Ibu Aisyah dipenuhi bunga melati dan karpet yang digelar sampai ke halaman. Penghulu duduk di meja kayu. Wali hakim, seorang bapak berpeci putih yang bicara pelan, duduk di sampingnya dan tersenyum pada Qenna seakan sudah lama mengenalnya. Hans dan Sindy, yang baru kembali dari bulan madu singkat di Puncak dengan kulit sedikit terbakar, mengatur kursi. Mama Ningsih dan Papa Galih di barisan kedua, Citra dengan tisu di tangan, Pak Dimas di pojok, Mama Jamilah di sisi belakang, berpegang pada tongkatnya, matanya merah sejak tiba.
Di barisan paling belakang, di dekat pintu, Rafa duduk sendirian, tegak, tangan terlipat di pangkuan.
Qenna melihatnya dari celah pintu kamar. Ia mengenakan kebaya putih sederhana yang dijahit Andin dengan bantuan dua anak panti yang lebih besar, dan Aksa dalam gendongan Ibu Aisyah memakai gelang emas di pergelangan kanan.
"Bu," bisiknya. "Berikan Aksa kepada Andin."
"Sekarang? Sebentar lagi akad."
"Justru sekarang." Qenna memandang Rafa dari jauh. "Minta Andin membawanya ke Rafa. Dan bilang ke dia, duduk di depan."
Andin melintasi ruangan dengan Aksa di lengan. Rafa mendongak, terkejut, lalu mengerti. Ia berdiri, menerima bayinya dengan tangan yang hati-hati, dan Andin berbisik sesuatu. Qenna melihat Rafa menoleh ke arahnya, jauh sekali, dan menunduk dalam-dalam sebelum berjalan ke barisan depan, bersebelahan dengan Papa Galih, yang menepuk lututnya dua kali tanpa berkata apa-apa.
Mama Jamilah, di sisi belakang, mengikuti semua itu dengan bibir bergetar. Ia hendak berdiri dan tidak jadi, seakan tidak berhak. Maka Qenna menyuruh Andin kembali dengan pesan lain: kursi di sebelah Rafa masih kosong, dan cucu Ibu ingin melihat neneknya dari dekat. Mama Jamilah menatap celah pintu, dan Qenna mengangguk sekali. Perempuan itu berjalan ke depan dengan tongkatnya, pelan, dan duduk tanpa sepatah kata.
Akad berlangsung singkat. Armand duduk di hadapan penghulu dengan batik putih gading, suaranya tenang, tangannya bertaut dengan tangan wali hakim. Mahar disebut. Qabul ia ucapkan dalam satu napas, jelas, tanpa terbata.
"Sah?"
"Sah," jawab para saksi, dan seisi ruang depan panti mengembuskan napas yang mereka tahan.
Qenna duduk di sebelahnya sesudah itu, di kursi yang disediakan. Di antara mereka ada buku nikah, pena, dan sejengkal udara yang sebentar lagi akan hilang dengan izin. Ia mengulurkan tangan, dan Armand, tanpa memandang siapa pun, menyambutnya dengan telapak yang hangat dan sedikit basah.
"Tanda tangannya di sini," ujar penghulu.
Qenna menggenggam pena. Di baris yang kosong ia menulis namanya, lengkap. Lalu ia menoleh.
"Mas Armand," ucapnya, "ini giliran Mas."
Armand diam, sepertinya lupa cara menggerakkan tangan. Kata itu, yang tak pernah ia dengar dari Qenna, menggantung di antara mereka. Mama Ningsih menutup mulut.
"Aku tidak bisa berjanji tidak akan pernah salah," ucapnya, hanya untuk Qenna. "Aku tidak bisa berjanji tidak akan membuatmu menangis. Tapi aku janji kalau itu terjadi, aku di sini. Aku tidak akan menutup pintu di belakangku."
"Itu cukup," bisik Qenna.
Dari barisan depan, Aksa mengeluarkan bunyi nyaring, dan Rafa, yang menimangnya dengan air mata di pipi, tertawa dengan bahu berguncang.
***
Qenna terbangun karena bunyi sendok beradu dengan gelas.
Cahaya pagi menembus tirai tipis, jatuh di lantai kayu. Ia berbaring sebentar, bingung, sebelum ingatan datang: bukan kamar hotel putih, bukan Denpasar, bukan seprai yang mengeras karena AC. Kamar ini berbau kayu dan sabun, kamar di rumah Armand yang baru semalam ia tempati, dan boks bayi kuning pucat dari panti, yang dibawa pindah kemarin, berdiri di sisi ranjang dengan Aksa tertidur di dalamnya, tangan terangkat di atas kepala.
Dari balik pintu setengah terbuka, ia melihat punggung Armand di depan kompor, kaus abu-abunya kusut. Ia menuang air panas ke teko, mengaduk, dan menyeduhnya dengan kesungguhan orang yang sedang melakukan hal besar.
Qenna duduk. Ia mengusap matanya dengan punggung tangan, persis seperti pagi itu di Bali, hanya saja kali ini tak ada koper yang dibuka, tak ada pintu yang menunggu untuk ditutup.
"Kamu sudah bangun," kata Armand tanpa menoleh. "Aku kira Aksa yang pertama."
"Mas tidak ke mana-mana?"
Armand berbalik dengan dua cangkir di tangan. Ia memandangnya sebentar, mengerti betul pertanyaan itu bukan soal hari ini, lalu duduk di tepi ranjang dan menyerahkan satu cangkir.
"Hans bilang kalau aku muncul di kantor hari ini, dia akan mengajukan pengunduran diri," ujarnya. "Aku percaya dia, jadi aku di sini."
Qenna tertawa pelan dan menerima cangkirnya. Tehnya hangat, terlalu manis, dan sedikit pahit di ujung karena terlalu lama diseduh.
Dari boks kuning pucat terdengar gumam kecil, lalu suara yang belum menjadi kata, hanya "ba" dan "ba" dan "ba", ditujukan kepada langit-langit. Armand menoleh. Qenna menoleh. Mereka bertatapan di atas dua cangkir, dan keduanya tertawa tanpa mengeluarkan suara supaya bayi itu tidak berhenti.
Ia menyesap lagi. Armand tidak beranjak.
Tehnya enak sekali.
TAMAT