Jumat sore, enam hari sesudah akad Hans dan Sindy, Qenna berdiri di gerbang panti memperhatikan seekor semut menyusuri tiang besi dari bawah sampai atas, sementara jam di pergelangannya baru maju dua menit. Kedua tangannya terlipat di dada. Lima langkah di belakangnya, Ibu Aisyah duduk di kursi plastik hijau, pura-pura merajut.
"Kalau ia terlambat?" tanya Qenna tanpa menoleh.
"Ia tidak akan terlambat. Ia sudah di ujung gang sejak setengah jam lalu. Andin melihatnya dari jendela."
Memang. Ketika Qenna menengok ke ujung jalan, ia melihat Rafa berdiri di bawah tiang listrik, tanpa mobil, memegang sebuah bungkusan kecil dengan dua tangan seperti orang menggenggam burung. Lelaki itu menatap jam di pergelangannya, menunggu jarum menit sampai tepat di angka dua belas, lalu baru melangkah.
Ia berhenti satu depa dari gerbang. Tidak menyentuh pagarnya.
"Terima kasih sudah mau menerima," ucap Rafa.
"Aku tidak janji akan membukanya."
"Mama sudah bilang begitu. Katanya, kalau tidak dibuka pun tidak apa-apa. Tapi ia minta aku menyerahkannya sendiri." Rafa mengulurkan bungkusan itu lewat sela-sela pagar. Isinya amplop putih tebal bertuliskan satu kata dengan tinta biru yang miring: Qenna. Di atasnya, kotak kecil berlapis beludru hijau tua. "Ia tidak datang. Ia menunggu di rumah sepupuku. Aku diminta bilang bahwa ia tidak akan ke sini tanpa diundang."
Qenna menerimanya. Kertasnya hangat oleh genggaman lama.
"Kamu sudah baca?"
"Tidak." Rafa menggeleng. "Itu bukan untukku."
Hening sesaat. Di halaman belakang terdengar suara Andin menyanyikan lagu pengantar tidur dengan nada yang meleset.
"Aksa sedang tidur," ujar Qenna. "Sabtu besok kamu bisa melihatnya."
"Aku tahu. Aku datang bukan untuk itu." Rafa menarik napas, seperti hendak mengatakan sesuatu yang lain, lalu memilih yang lebih aman. "Tangan Mama gemetar waktu menulis. Kertas pertama basah, dan ia menyuruhku membuangnya. Aku tidak tahu isinya, tetapi aku tahu ia tidak menulisnya sambil marah."
"Aku akan membacanya sendiri."
"Itu yang kuharapkan." Rafa mundur selangkah, lalu satu langkah lagi. "Aku pulang, Qenna."
Ia berbalik dan berjalan ke arah jalan besar, tanpa menoleh, dan Qenna memandang punggung itu sampai belokan gang menelannya.
***
Kamar belakang sudah redup oleh tirai tipis. Aksa tidur telentang dengan kedua tangan terangkat di sisi kepala seperti orang menyerah, dan Qenna duduk di tepi kasur, membuka amplop dengan jari yang hati-hati.
Dua lembar kertas bergaris, tulisan tangan yang besar dan bergetar. Di pojok atas ada bekas coretan yang dihapus berkali-kali.
Qenna.
Saya tidak biasa menulis surat. Saya menulis ini tiga malam, dan tiga kali saya menyobeknya karena isinya membela diri. Yang ini tidak.
Saya menampar kamu. Saya menawarkan uang di dalam amplop seperti kamu bisa dibeli. Saya membuat surat yang bukan surat. Saya menyuruh orang berbohong tentang tubuhmu di depan banyak orang karena saya tidak mau ada yang mengasihanimu. Itu semua saya lakukan. Saya tidak punya kalimat lain.
Waktu Rafa kecil, rumah kami disita. Saya berdiri di halaman melihat orang mengangkat lemari-lemari saya. Sejak itu saya hanya percaya satu hal, bahwa orang yang punya uang tidak bisa dibuang. Saya mengajarkan itu kepada anak saya. Ternyata yang saya buang adalah yang paling berharga yang dimilikinya.
Saya sudah belajar menulis nama cucu saya. Aksa. Delapan kali di kertas percobaan sebelum tangan saya berhenti gemetar.
Di dalam kotak ada gelang bayi. Itu gelang Rafa waktu lahir. Saya menjual semua perhiasan saya waktu itu, tetapi gelang ini tidak. Saya tidak tahu kenapa. Sekarang saya tahu: supaya suatu hari bisa saya berikan kepada orang yang tidak pernah saya beri apa-apa kecuali luka.
Saya tidak minta dimaafkan. Kalau suatu hari kamu mengizinkan, saya ingin menggendongnya. Kalau tidak, saya akan mengerti.
Jamilah.
Qenna membaca sampai habis. Lalu ia membacanya sekali lagi, perlahan, dan pada kalimat tentang kertas percobaan ia harus menekan punggung tangan ke mulut supaya tidak bersuara dan membangunkan bayinya.
Ia mengambil kotak beludru itu. Di dalamnya, di atas kain putih yang menguning, terbaring gelang emas setipis tali, dengan huruf R di gembok kecilnya. Warnanya sudah sedikit pudar di bagian yang paling sering bersentuhan dengan kulit. Itu bukan perhiasan. Itu benda yang pernah dipakai seorang bayi, dan dipegang erat oleh seorang ibu yang menyelamatkan satu hal dari kehilangan.
Qenna menyentuh pergelangan Aksa. Gelang itu longgar di sana, tapi tidak jatuh.
"Ini punya ayahmu waktu sekecil kamu," bisiknya. "Dan neneknya yang menyimpannya."
Ia mengambil ponsel dari meja kecil. Rafa menjawab sebelum dering pertama selesai.
"Qenna?"
"Aku sudah membaca." Suaranya serak. "Sampaikan kepada Mamamu. Aku memaafkan beliau. Bukan sebagian lagi."
Di ujung sana terdengar napas yang ditahan, sesuatu yang jatuh, dan jeda yang panjang. "Qen ...."
"Dan Minggu pukul dua, Mamamu boleh datang ke panti dan menggendong Aksa. Ibu Aisyah ada di sana. Bukan sebagai penjaga. Sebagai yang punya rumah."
"Aku akan menjemputnya." Rafa terdiam sejenak, lalu suaranya keluar tersendat. "Terima kasih. Terima kasih. Aku ...."
"Sampai Sabtu," potong Qenna lembut, dan memutuskan sambungan sebelum ia sendiri ikut menangis.
Aksa menggeliat. Matanya terbuka, bundar dan gelap, lalu menemukan wajah ibunya dan menetap di sana. Tangan mungil yang berlingkar emas itu terangkat, menggapai, dan menangkap satu jari Qenna dengan genggaman yang terlalu kuat untuk ukuran sebesar itu.
"Kamu punya nenek," bisik Qenna. "Hari Minggu kamu kenalan."
***
Malamnya di dapur, ketika semua anak sudah tidur dan hanya bunyi jam dinding yang terdengar, Qenna duduk di bangku kayu, menunggu Ibu Aisyah selesai menjerang air.
"Gelangnya cantik," ujar Ibu Aisyah, tanpa menoleh dari kompor. "Aksa tidak mau melepasnya. Ibu coba tadi, ia menggenggam dengan tangan satunya."
"Ia anak yang tahu mana yang miliknya."
"Seperti ibunya." Air mendidih. Ibu Aisyah menuang ke dua cangkir, duduk di seberang, dan menatap Qenna lama sekali. "Tempatnya di mana, Nak?"
"Apa, Bu?"
"Akadmu. Kalau jawabannya 'ya'."
Qenna terdiam. Di dinding dekat lemari, kalender dengan satu lingkaran merah masih tergantung, dan ia tahu ia tidak sempat berpura-pura lagi.
"Di sini, Bu," sahutnya. "Di panti."
"Di rumah yang ada kamar belakangnya."
Ia tersenyum. "Dan Rafa boleh datang. Aku sudah bilang kepada Armand."
Ibu Aisyah menaikkan alis, tetapi tidak berkomentar.
"Dulu aku ingin jadi wanita karier, Bu. Ingat? Duduk di gedung tinggi, ada namanya di pintu. Sekarang yang aku inginkan hanya rumah yang tidak ditinggalkan. Itu saja."
"Itu bukan 'itu saja'. Itu yang paling sulit." Ibu Aisyah mengaduk tehnya. "Nak Armand menelepon Ibu semalam, mengulang pamitnya akan menjauh sampai iddahmu selesai. Ibu bilang itu keputusan bijak." Ia mengerutkan hidung. "Tapi diam-diam Ibu tidak suka teras ini sepi darinya."
Qenna tertawa kecil ke dalam cangkirnya.
"Kamu sudah siap menjawab?"
"Kalau dia bertanya sekali lagi sesudah iddah, aku akan bilang ya." Kalimat itu keluar lebih mudah dari yang ia duga. "Aku sudah selesai, Bu. Dengan semua yang lama. Hari ini Ibu Jamilah yang menutup pintunya."
Ibu Aisyah meletakkan cangkirnya pelan-pelan, seakan takut suaranya pecah. "Kalau begitu, Nak, kita harus bicara dengan Andin soal kebaya."
"Kebaya apa?"
"Yang sudah ia gambar tiga kali dan ia sembunyikan di bawah bantal. Ibu pura-pura tidak tahu sejak bulan lalu."