Rafa tiba pukul satu lewat lima puluh lima, lima menit lebih awal dari yang dijanjikan, dan menunggu di bangku kayu teras dengan kedua tangan di atas lutut seperti pasien di depan ruang praktik.
Qenna keluar lewat pintu ruang depan, menutupnya pelan di belakangnya. Tidak ada bayi di pundaknya. Aksa tertidur di boks bersama Andin yang bersumpah akan menjaga napasnya sampai Kak Qenna kembali. Di tangan Qenna ada selembar demi selembar kertas folio yang dilipat tiga, tulisan pena biru yang sudah ia baca semalam sampai habis, sebelas halaman.
Ia duduk di kursi rotan. Ibu Aisyah, seperti hari-hari sebelumnya, sudah ada di sudut dengan rajutannya, tetapi hari ini jarumnya tidak bergerak sama sekali.
"Aku membaca suratmu," ucap Qenna.
Rafa mengangguk. Jakunnya bergerak.
"Semuanya. Dari halaman pertama sampai yang kesebelas." Ia menaruh lipatan itu di meja di antara mereka. "Kamu menulis hal yang sama dengan yang kamu katakan di teras ini, tetapi lebih pelan. Dan kamu menulis satu hal yang belum pernah kamu ucapkan."
"Apa?"
"Bahwa kamu tahu aku menunggumu di kamar hotel itu sampai sore." Suaranya datar. "Kamu menulisnya di halaman delapan. Kamu bilang kamu menyuruh sopir mengambil jalan memutar supaya tidak melihat hotel itu lagi, dan di mobil kamu menutup mata."
Wajah Rafa memucat. "Aku ...."
"Aku tidak bertanya. Aku hanya mau kamu tahu aku membacanya." Qenna mengambil napas dalam. "Terima kasih sudah menulis jujur. Itu bukan memperbaiki apa-apa. Tapi itu tidak sia-sia."
Ia menunggu semenit penuh, memberi ruang bagi burung di pohon jambu, bagi bunyi angkot di simpang, bagi dirinya sendiri. Lalu ia berkata, "Aku sudah punya jawaban. Kamu bilang kamu akan menunggu. Aku tidak mau membuatmu menunggu lebih lama dari yang perlu."
"Qenna ...."
"Jawabanku tidak." Ia menatap lurus ke mata lelaki itu. "Aku tidak akan menikah denganmu lagi."
Rafa tidak bergerak. Ia seperti orang yang mendengar bunyi yang sudah ia perkirakan, tetapi tidak menyangka akan sekeras itu.
"Aku mau menjelaskan," lanjut Qenna, "bukan supaya kamu setuju, tapi supaya kamu tidak menebak-nebak sendirian di kamar sewa dekat stasiun itu. Pertama: aku tidak bisa membesarkan Aksa dengan ibu yang menunggu ayahnya pergi lagi. Kamu bukan orang jahat. Kamu orang yang, ketika ditekan, mengalah pada orang yang paling keras berteriak. Dulu itu Mama. Sekarang Mama sudah minta maaf, dan kamu berani melawannya, dan aku melihat itu. Tapi aku tidak bisa menaruh anakku di rumah yang setiap kali ada telepon dari seseorang, aku harus bertanya dalam hati, apakah hari ini kamu akan menghilang. Aku sudah pernah menunggu seperti itu. Seharian. Di kamar putih."
Rafa menunduk. Setetes air jatuh ke punggung tangannya, dan ia menatapnya seakan itu milik orang lain.
"Kedua," Qenna melanjutkan, lebih lembut, "aku memaafkanmu."
Kepala Rafa terangkat.
"Dengan sadar. Bukan karena kamu sudah pantas, tetapi karena aku tidak mau membawa ini ke Aksa. Dan bukan berarti aku lupa. Memaafkan dan melupakan bukan satu pekerjaan. Aku akan memaafkan tiap hari kalau perlu, dan kamu boleh menyaksikannya." Ia menyentuh lipatan surat itu dengan ujung jari. "Tapi memaafkan bukan berarti menikah."
Dari sudut teras, Ibu Aisyah menutup matanya sebentar.
"Aku punya syarat," kata Qenna. "Tiga. Yang pertama, talak. Kamu tidak pernah mengucapkannya kepadaku, dan aku tidak mau lagi hidup dengan kertas yang palsu atau dengan status yang menggantung. Kamu mengajukannya ke pengadilan agama, dan kamu mengucapkannya dengan benar, di depan hakim, dengan sadar. Aku tidak mau ada yang bisa mengatakan kita berpisah dengan cara yang tidak sah."
"Aku akan mengajukannya besok pagi," ujar Rafa. Suaranya pecah. "Aku sudah bicara dengan pengacaraku. Aku tidak mau berdebat soal ini."
"Yang kedua, nafkah Aksa. Bukan kepadaku. Kamu membuka rekening atas nama Aksa, perwalian di bawah pengawasan Pak Dimas, dan kamu menabung ke sana sesuai kemampuanmu. Aku tidak mau uang dari tanganmu masuk ke dompetku. Aku bisa bekerja, aku bisa hidup di sini. Uang itu untuk dia."
"Ya."
"Yang ketiga, kunjungan tetap. Selasa dan Sabtu pukul dua, seperti sekarang. Kamu datang karena jadwal, bukan karena suasana hatimu, dan kalau kamu tidak bisa datang, kamu mengabari sebelumnya. Aksa akan belajar menunggu seseorang yang bisa dipercaya. Jangan buat ia belajar yang sebaliknya."
Rafa menarik napas panjang dan menutup wajah dengan kedua tangan. Bahunya bergetar tanpa suara, lalu dengan suara, napas yang tertahan menjadi isak yang tak bisa lagi ditahan. Ia menangis di teras panti itu, di bawah pandangan seorang perempuan tua yang tidak berpaling, seperti ia belum pernah menangis di depan siapa pun sejak kecil.
Qenna membiarkannya. Ia tidak menyentuh, tidak menghibur. Ia hanya duduk, menunggu, sampai Rafa mengusap wajah dengan lengan kemejanya.
"Aku menerima," ucap Rafa terputus-putus. "Semuanya. Tiga-tiganya."
"Terima kasih."
Hening sebentar. Lalu ia mengangkat mata, merah dan basah, dan bertanya dengan suara yang terdengar seperti seseorang yang meraba tepi jurang.
"Apakah karena dia?"
Qenna tidak langsung menjawab. Ia tahu siapa yang dimaksud. Ia tahu lelaki itu sudah bertanya dalam hati sejak melihat Armand di lorong IGD, atau mungkin lebih lama lagi. Ia menimbang jawaban yang lebih lembut dan memutuskan bahwa Rafa berhak mendapat yang jujur.
"Karena kamu," katanya.
Rafa menatapnya.
"Bukan karena dia, Rafa. Kalau Armand tidak pernah ada, jawabanku tetap tidak. Aku tidak mau kamu pergi dari sini mengira kamu kalah dari seseorang. Kamu tidak kalah dari siapa pun." Ia berhenti, lalu menambahkan lebih pelan, "Kamu kalah dari hari-hari waktu kamu diam."
Rafa tidak membantah. Ia hanya mengangguk, sekali, seperti orang yang menerima nilai dari ujian yang ia tahu gagal.
***
Rafa pergi pukul tiga, berjalan ke simpang seperti biasa. Ia berhenti di gerbang, menoleh sekali kepada Ibu Aisyah, dan membungkuk dalam tanpa bicara. Ibu Aisyah membalas dengan anggukan.
Di halte, Rafa tidak menunggu angkot. Ia duduk di bangku yang catnya mengelupas, mengeluarkan ponsel dengan jari yang masih gemetar, dan menekan nomor yang sudah ia hafal sejak seminggu.
"Pak, ini Rafa." Suaranya serak. "Saya mau mengajukan permohonan ikrar talak. Besok pagi saya ke sana, membawa berkasnya."
"Anda yakin?" Pengacara di seberang terdengar hati-hati. "Kemarin Anda masih bilang menunggu."
"Ini bukan soal yakin, Pak. Ini soal menepati." Ia menatap jalan yang berdebu. "Dia tidak minta saya melakukannya cepat. Dia minta saya melakukannya benar."
Di panti, ketika Rafa sudah lama menghilang di tikungan gang, Ibu Aisyah baru bersuara lagi.
"Kamu bicara seperti seorang hakim, Nak."
"Aku takut sekali, Bu."
"Ibu tahu." Ibu Aisyah meletakkan rajutan. "Lututmu bergetar sejak kamu duduk. Ibu lihat dari tadi."
Qenna tertawa, tawa yang pecah di tengah, dan Ibu Aisyah memeluknya dari samping sambil menepuk punggungnya dua kali, seperti menepuk bayi.
"Kak!" Andin muncul di ambang pintu dengan Aksa di lengannya, dipegang kaku seperti piring kaca. "Dia bangun. Dia nangis dikit, terus diam, terus lihat-lihat pintu. Kayaknya nyari Kakak."
Qenna mengambil putranya, dan bayi itu langsung menempelkan pipi hangat ke lehernya. Di sana, di bau susu dan sabun bayi dan sedikit keringat, ia merasa lututnya akhirnya berhenti bergetar.
Malam harinya, setelah Aksa tertidur dan panti sunyi, Qenna duduk di tepi ranjang dengan ponsel di tangan. Di layar ada sebuah nama yang sudah berminggu-minggu tidak ia sentuh: Pak Armand. Ia ingat kalimatnya sendiri di teras ini, jaga jarak yang terlihat, satu pesan cukup bila ia butuh. Ia mengetik, menghapus, mengetik lagi.
"Pak Armand, hari Sabtu pagi, apakah Bapak bisa bertemu sebentar? Di warung bakso depan panti. Ibu Aisyah akan menunggu di teras. Ada yang ingin saya tanyakan."
Ia menekan kirim sebelum keberaniannya habis. Jawaban datang kurang dari semenit.
"Bisa. Jam berapa pun."