Di balik tirai, Aksa tampak sangat kecil di ranjang yang terlalu tinggi.
Selang infus menempel di punggung tangan kirinya, dibalut kain kasa dan plester bergambar beruang. Qenna berdiri di sisinya dengan telapak menutupi dada bayi itu, merasakan naik turunnya napas yang masih terlalu cepat. Pukul sebelas malam. Satu jam sudah ia tidak sanggup duduk.
"Duduk, Bu," ujar Dokter Bram dari ujung ranjang, tanpa mengangkat mata dari lembar hasil. "Anda tidak membantu siapa-siapa dengan berdiri."
"Kata Ibu Aisyah juga begitu."
"Ibu Aisyah orang bijak." Dokter Bram membalik lembar itu. "Hasil darahnya baru keluar. Ada tanda infeksi, tapi ringan, dan sepertinya dari saluran kencing. Anak sekecil ini memang sering begitu, dan kabar baiknya, ini bisa diobati. Antibiotiknya masuk lewat infus. Kita tunggu panasnya turun, itu biasanya mulai terasa menjelang subuh."
"Tidak ada yang lebih parah?"
"Dokter jaga sudah menyingkirkan yang paling saya khawatirkan. Malam ini kita awasi." Ia menatap Qenna sekarang. "Dia sehat, Bu Qenna. Kuat sekali malah. Anak yang lemah tidak menangis sekeras tadi."
Lutut Qenna akhirnya menyerah. Ia duduk di bangku bulat di samping ranjang dan menaruh dahinya di tepi kasur, dekat tangan kecil yang berplester, dan menangis selama sekitar semenit, bahunya naik turun pelan. Dokter Bram, yang tidak pernah pandai menghadapi air mata, menepuk bahunya dengan canggung lalu menghilang membawa lembar hasil.
Panas turun pukul empat. Ia menyadarinya karena dahi Aksa, yang sepanjang malam terasa seperti batu di bawah matahari, tiba-tiba terasa sejuk dan lembap oleh keringat. Termometer menunjukkan tiga puluh tujuh koma enam. Bayi itu menghela napas panjang, membuka mata, menatap langit-langit sebentar, lalu tidur dengan mulut sedikit terbuka.
Qenna mengangkat kepala. Di sisi tirai, di bawah lampu koridor, ia melihat bayang punggung seorang lelaki bangkit dari bangku, berdiri sebentar, lalu berjalan pergi dengan langkah yang sengaja diperlambat supaya tidak terdengar.
Tirai tersibak sedikit. Ibu Aisyah menyelipkan kepala, kerudung kainnya miring karena tidur di bangku. "Panasnya?"
"Tiga puluh tujuh koma enam, Bu."
"Alhamdulillah." Ibu Aisyah mengembuskan napas yang rasanya sudah ia tahan sejak malam. "Tadi Ibu lihat Nak Armand keluar. Ia menunduk lama di depan tirai ini, lalu pergi. Ibu tidak memanggil."
"Kenapa, Bu?"
"Karena sepertinya ia sedang memberi kita sesuatu, dan Ibu tidak mau merusaknya dengan sopan santun." Ia mengangguk ke arah koridor. "Nak Rafa masih di bangku. Belum tidur, belum pulang. Biar dia masuk nanti, kalau perawat mengizinkan."
***
Rafa baru boleh masuk pukul lima, lima belas menit saja menurut perawat, dan ia masuk berjingkat seperti pencuri yang takut membangunkan penghuni.
Qenna sedang menyeka keringat Aksa dengan kain basah. Ia hanya mengangguk ke bangku kecil di sisi lain ranjang. Rafa duduk, memandang selang infus, memandang plester beruang, memandang dada kecil yang naik turun tenang, dan tidak mengatakan sepatah kata pun. Tangannya terulur ke tepi kasur, tidak menyentuh bayi itu, hanya meletakkan telapak di sana, sejengkal dari kaki kecil.
"Panasnya sudah turun," bisik Qenna.
"Syukurlah." Suaranya serak. "Aku ...."
Ia tidak menyelesaikan kalimat. Kepalanya terkulai ke dada, dagu menyentuh kerah kemeja, dan napasnya melambat. Dalam dua menit ia sudah tertidur di bangku, duduk, tangan masih di tepi kasur, sandal hitam di kaki kiri dan sandal cokelat di kaki kanan.
Qenna memandangnya. Lelaki yang menghilang sehari sesudah akad, yang menyuruh seseorang menjemputnya dan tidak pernah mengirim siapa pun, kini tidur di bangku plastik dengan mulut sedikit terbuka dan dagu yang menandakan ia belum bercukur dua hari. Ia ingin merasa marah. Marah itu ada, tetapi tidak sebesar dulu, dan ia belum yakin ke mana sisanya pergi.
Di meja kecil dekat tirai, di bawah gelas plastik yang masih berisi separuh air, terselip secarik kertas lipat. Ia mengenali tulisan itu dari catatan-catatan kantor yang dulu diselipkan di bawah cangkir kopi: huruf tegak, rapi, miring sedikit ke kanan.
"Panas turun pukul empat kurang sedikit, saya tanya perawat. Saya pulang. Ayahnya ada. Kamu tidak butuh saya di sini. Kalau butuh, kabari. A."
Qenna membaca tulisan itu dua kali. Kalimat tengahnya terasa seperti ucapan yang dipotong tepat sebelum ia sempat membantahnya.
***
Di lorong IGD, pukul setengah tujuh pagi, Sindy terbangun dengan leher kaku dan selimut yang bukan miliknya.
Jaket abu-abu itu milik Hans. Ia menyadarinya dari bau yang bukan lagi bau parfum, melainkan sabun dan sedikit kopi. Hans duduk di bangku seberang, tegak, dan tampak seperti sudah melewati malam tanpa tidur satu menit pun. Di sampingnya berdiri kantong plastik dari warung bubur di seberang rumah sakit, lengkap dengan lima sendok dan lima gelas teh.
"Kamu tidak pulang," ucap Sindy, suaranya serak.
"Sempat. Ke warung." Hans meletakkan satu gelas teh di tangannya. "Saya tidak menaruh gula banyak. Kamu pernah bilang tidak suka terlalu manis."
"Aku tidak ingat pernah bilang begitu."
"Waktu makan siang yang itu. Kamu mengeluh tentang es teh." Hans mengangkat bahu. "Saya mencatat. Maaf. Itu kebiasaan sekretaris."
Sindy menatapnya. Sepanjang malam ia memperhatikan lelaki ini dari sudut mata: Hans yang tidak berkomentar tentang apa pun, Hans yang bangkit tiap kali pintu tirai bergerak, Hans yang mengisi botol air untuk Ibu Aisyah, Hans yang menepuk bahu Rafa waktu lelaki itu hampir roboh. Tidak ada satu lelucon pun. Tidak ada duren, tidak ada cappuccino, tidak ada kalimat yang diakhiri dengan nada naik. Ia sudah lama menunggu Hans berhenti bercanda supaya bisa memastikan apa yang ada di baliknya. Rupanya di baliknya ada seseorang yang menunggu semalaman tanpa mengeluh.
"Hans," panggilnya.
Hans yang sedang membuka bungkus sendok membeku. Sendok plastik jatuh ke lantai, berdenting.
"Kamu panggil saya apa?"
"Namamu. Hans." Sindy menunduk melihat tehnya karena ia tidak sanggup melihat wajah itu. "Waktu kamu bilang kamu suka padaku, dan bertanya apakah aku mau memberimu kesempatan. Aku belum menjawab."
"Kamu bilang belum bisa percaya orang dekat Armand."
"Waktunya sudah cukup. Tapi aku mau kamu mengulanginya." Ia mengangkat mata. "Nanti. Di tempat yang bukan IGD. Dan jangan pakai kalimat lelucon."
Hans memandangnya lama sekali. Mulutnya terbuka, tertutup, terbuka lagi, seperti orang yang menyusun puluhan jawaban dan membuang semuanya. Lalu pelan-pelan ia tersenyum, bukan senyum yang biasa, yang miring dan siap dilemparkan sebagai lelucon, melainkan senyum yang tidak tahu harus ditaruh di mana.
"Baik," katanya. "Tanpa lelucon."
***
Selepas pukul delapan Aksa dipindah ke ruang rawat anak. Rafa terbangun dengan kaget, menyadari ia sudah tertidur hampir tiga jam, dan meminta maaf berkali-kali kepada seluruh ruangan.
"Berhentilah minta maaf," kata Qenna, menyodorkan segelas teh yang ia ambil dari Ibu Aisyah. "Kamu tidur. Itu bukan kejahatan."
Rafa menerima gelas itu dengan dua tangan. "Aku tidak membantu apa-apa."
"Kamu datang dalam empat belas menit." Qenna menatap gelas itu, bukan wajahnya. "Dan ada orang yang datang juga, dan pulang sebelum kamu bangun, karena ia tahu kapan harus pergi."
Rafa tidak menanyakan siapa. Ia sudah tahu.
Ketika perawat mengatakan Aksa boleh pulang besok pagi kalau demamnya tidak kembali, Qenna mengantar Rafa sampai lift. Di depan pintu yang menunggu, ia merasakan sesuatu mengendap di dadanya, seperti air keruh yang akhirnya menemukan dasarnya: Rafa bisa tinggal, dan bertahan, dan bertanggung jawab. Armand tahu kapan menyingkir, dan itu tidak membuatnya lebih kecil. Mereka berdua baik dengan cara yang berbeda, dan ia tidak ingin satu pun berdiri di atas ranjang anaknya untuk berebut.
"Selasa," ucap Qenna ketika pintu lift terbuka. "Pukul dua. Datang seperti biasa, tapi jangan masuk ke ruang depan. Aku akan menunggu di teras, tanpa Aksa."
Rafa menahan pintu dengan bahunya. Wajahnya berubah, dan ia tidak berusaha menyembunyikannya. "Itu jawabanmu?"
"Itu undanganku."