Ruang tunggu kantor Pak Dimas berbau kertas dan kopi hitam. Ibu Aisyah duduk tegak dengan tas di pangkuan, Qenna di sampingnya memeluk Aksa yang baru saja kenyang, dan seorang perempuan muda di meja resepsionis menyodorkan segelas air tanpa diminta.
"Bapak sudah menunggu, Bu. Silakan."
Pak Dimas berdiri dari balik meja ketika mereka masuk. Lelaki lima puluhan, jas abu-abu, kacamata bingkai tipis yang ia turunkan sedikit ke ujung hidung saat menatap Aksa. Tidak ada senyum berlebihan. Hanya anggukan sopan dan sebuah kursi yang ia geser sendiri untuk Ibu Aisyah.
"Bu Qenna. Ibu Aisyah. Terima kasih sudah datang dengan bayinya. Kalau dia menangis, jangan sungkan, ruangan ini sudah biasa mendengar yang lebih keras." Ia duduk. "Bu Ningsih sudah bercerita sebagian. Saya lebih suka mendengar dari Ibu sendiri. Mulai dari yang paling Ibu khawatirkan."
"Hak asuh," jawab Qenna cepat. Lalu, seperti tak sabar menyimpan beban itu lebih lama: "Hari Rabu ibunya Rafa datang ke panti membawa amplop dan alamat rumah. Katanya kalau saya menyerahkan Aksa, saya boleh punya semuanya. Kalau tidak, dia akan membawa saya ke pengadilan."
"Dan Rafa?"
"Rafa tahu soal Aksa sejak sepuluh hari lalu. Dia datang tiap Selasa dan Sabtu. Dia sendiri yang bilang kepada saya bahwa surat cerai dari ibunya itu palsu."
"Boleh saya lihat suratnya?"
Qenna membuka tas, mengeluarkan map plastik yang sudah lecek di sudutnya. Ia menyerahkan dua lembar: surat yang dulu diberikan Mama Jamilah, dan fotokopi buku nikahnya. Di atasnya, akta lahir Aksa dengan nama Rafa di kolom ayah.
Pak Dimas membaca lama. Jarinya berhenti di bagian bawah surat, lalu ia membalik lembar itu dan memeriksa bagian belakangnya, seolah berharap menemukan sesuatu yang lain.
"Saya akan bicara sederhana, Bu, tanpa pasal," katanya. "Pertama, pernikahan Ibu dengan Rafa sah. Buku nikahnya asli, dan tidak ada ikrar talak yang pernah diucapkan di depan hakim pengadilan agama. Artinya Ibu masih istri sah. Kedua, surat ini tidak punya nomor perkara yang bisa dicari. Orang yang memegang surat cerai sungguhan bisa menunjukkan di mana dan kapan sidangnya. Ini hanya kertas." Ia meletakkannya perlahan. "Ketiga, ibunya Rafa tidak punya dasar apa pun untuk menuntut hak asuh. Yang berhak atas anak, selama kedua orang tuanya hidup, adalah kedua orang tuanya, bukan neneknya."
Ibu Aisyah menarik napas panjang. Qenna hanya mengangguk. Ia sudah mendengar inti itu dari mulut Rafa sendiri, tetapi mendengarnya dari seorang lelaki bergelar yang tak punya alasan menghiburnya membuat kata-kata itu terasa lebih kokoh, seperti lantai yang akhirnya diuji dengan berat badan.
"Tapi," lanjut Pak Dimas, "saya tidak mau Ibu pulang dengan perasaan menang. Foto yang dipamerkan beliau bisa dipakai. Bukan untuk memenangkan hak asuh, melainkan untuk menjelekkan nama Ibu di depan orang yang menilai. Pengadilan memang menimbang siapa yang merawat anak. Tetapi orang yang menimbang adalah manusia, dan manusia membaca foto."
"Itu foto pindahan."
"Saya percaya. Tetapi foto tidak membawa penjelasan." Pak Dimas menautkan jemarinya. "Saran saya, selama perkara ini belum jelas, jaga jarak yang terlihat dari Pak Armand. Bukan karena Ibu salah. Karena Ibu tidak perlu memberi lawan bahan tambahan."
Aksa mendengus kecil di gendongan Ibu Aisyah dan mulai merengek. Qenna mengulurkan tangan dan Ibu Aisyah menyerahkannya tanpa kata. Bayi itu tenang lagi begitu bertemu aroma ibunya.
"Satu hal lagi." Pak Dimas memperhatikan itu sejenak. "Banyak orang mengira hak asuh dimenangkan oleh yang paling kaya. Bukan. Yang menentukan hak asuh bukan siapa yang paling kaya, melainkan siapa yang paling mampu merawat. Dan itu sudah Ibu tunjukkan setiap hari tanpa perlu saya buktikan."
Qenna menunduk, menatap kepala kecil di dadanya. "Soal biaya, Pak. Saya akan membayar."
"Kita bicarakan sesudah perkaranya jelas." Pak Dimas menutup map. "Saat ini yang saya butuhkan hanya satu: kalau ada pihak yang mendatangi Ibu lagi, catat tanggalnya, jangan menandatangani apa pun, dan telepon saya."
***
Di teras gedung, Ibu Aisyah memanggil taksi dengan lambaian yang hanya ia kuasai: sekali, tegas, tak bisa dibantah. Ketika mereka duduk di jok belakang, Qenna meraba saku gamisnya. Amplop putih yang Rafa titipkan di panti masih di sana, belum dibuka, sudut-sudutnya lembut karena sering ia sentuh.
"Kamu akan bilang kepadanya?" tanya Ibu Aisyah tanpa menoleh.
"Kepada siapa, Bu?"
"Kepada yang kamu tahu, Nak."
"Bu, dia sudah terlalu sering mengalah untukku. Kalau aku minta lagi, aku merasa seperti orang yang memakai kebaikannya."
"Meminta jarak itu bukan memakai. Memakai itu kalau kamu menyuruhnya dekat saat kamu butuh, lalu menyuruhnya pergi saat kamu aman." Ibu Aisyah mengusap tas di pangkuannya. "Kamu sudah memilih yang pertama, dan itu lebih jujur. Tapi kasih tahu dia sendiri. Jangan lewat Sindy, jangan lewat Hans."
Qenna menatap jalanan. Lama. Lalu ia mengeluarkan ponsel dan mengetik pelan dengan satu tangan, tangan lain menahan Aksa: "Pak Armand, kalau Bapak ada waktu sore ini, bisa mampir ke panti? Saya yang meminta. Ada yang perlu saya sampaikan, dan lebih baik langsung."
Balasan datang sebelum taksi berhenti di lampu merah: "Jam lima. Saya datang."
***
Armand memarkir mobilnya dua rumah dari gerbang, jauh dari tempat Rafa biasa berhenti, dan berjalan kaki. Qenna melihatnya dari teras. Lelaki itu tidak membawa apa-apa. Tidak ada kantong, tidak ada dus. Hanya jas yang ia sampirkan di lengan dan wajah yang mencoba menebak, tetapi tidak memaksakan tebakan.
Ibu Aisyah duduk di kursi pojok dengan rajutan, cukup dekat untuk mendengar, cukup jauh untuk pura-pura tidak.
"Silakan duduk, Pak."
Armand duduk di ujung bangku, sejauh yang masih bisa disebut sopan. Dari dalam rumah terdengar Andin menyanyikan lagu pengantar tidur dengan nada yang nyaris tak ada hubungannya dengan lagu itu, dan Aksa yang bergerak-gerak di dalam boks menimpali dengan dengusan.
"Bapak mau teh?" tanya Qenna. "Andin pasti sudah menguping dan sedang menyeduh."
"Kalau tidak merepotkan."
"Itu bukan repot. Itu hobinya."
Ada senyum kecil di sudut bibir Armand, tetapi hilang begitu Qenna menarik napas. Ia mengenali tanda itu. Qenna yang berbicara dengan nada paling datar adalah Qenna yang sedang menahan paling banyak. Qenna menyampaikannya tanpa pembuka, seperti orang yang sudah menghafal kalimat di taksi: Pak Dimas, foto di gerbang, bahan yang bisa dipakai Mama Jamilah, dan permintaannya sendiri. "Saya minta Pak Armand menjaga jarak yang terlihat. Untuk sementara. Bukan karena Bapak salah apa-apa. Karena saya tidak mau Aksa kelak dibicarakan lewat foto."
Armand mendengar sampai habis. Rahangnya bergerak sekali, sesuatu yang cepat menutup di balik matanya, lalu ia mengangguk.
"Saya mengerti." Ia berdiri, merapikan jas di lengannya. "Saya mundur satu langkah, supaya kamu tidak perlu mundur sama sekali. Kalau kamu butuh apa pun, cukup satu pesan. Sisanya saya urus dari jauh."
"Terima kasih, Pak."
Armand tidak menoleh lagi ketika melewati gerbang. Qenna memperhatikan punggungnya sampai ke ujung gang, dan baru sadar bahwa tangannya sendiri telah bergerak setengah jalan ke arah lelaki itu, lalu jatuh kembali ke pangkuan.
Andin muncul dengan nampan berisi dua cangkir teh. Ia menatap teras yang kosong, menatap Qenna, lalu menatap cangkir-cangkirnya sendiri.
"Dia pergi?"
"Dia pergi."
"Tehnya belum diminum." Andin menaruh nampan di meja dengan bunyi yang menyatakan protes. "Padahal aku bikin yang manis."
"Minumlah. Atau berikan ke Ibu."
"Kakak mau aku kejar?"
"Jangan." Qenna menggeleng sekali, dan memegang cangkir yang masih mengepul itu dengan dua tangan.