Andin datang berlari dari gerbang dengan sapu masih di tangan, napasnya putus-putus.
"Bu! Ada mobil abu-abu. Yang turun ibu-ibu pakai kacamata hitam, minta masuk. Aku bilang tunggu, dia malah bilang minggir."
Ibu Aisyah meletakkan lap piring di bahu dan tidak bertanya siapa. Ia sudah menebak sejak semalam, sejak Qenna melihat sedan abu-abu yang berhenti lama di seberang jalan, atau mungkin sejak Rafa pertama kali menyebut kata Mama dengan suara orang yang menahan napas.
"Panggil Kak Qenna. Pelan-pelan. Jangan bikin Aksa kaget."
Ibu Aisyah sendiri yang berjalan ke pintu depan. Ia berdiri di ambang, tubuh kecilnya menutup seluruh lebar pintu, dan ketika Mama Jamilah naik ke teras dengan sepatu hak yang berketuk-ketuk, ia tidak bergeser satu senti pun.
"Selamat pagi, Bu Jamilah."
"Aku tidak datang untuk basa-basi." Mama Jamilah melepas kacamata hitamnya. Blus sutra zaitun, tas kulit di lengan, dan sorot mata yang sama dengan hari ia menampar Qenna di kontrakan: dingin, tajam, tak berniat meminjamkan apa pun. "Aku mau melihat cucuku."
"Cucu Ibu sedang tidur."
"Kalau begitu aku tunggu."
"Di teras, boleh. Di dalam, hanya kalau yang punya anak mengizinkan." Ibu Aisyah tidak menaikkan suara. "Rumah ini punya aturan, Bu. Siapa pun yang masuk, tangannya bersih dan hatinya tidak membawa senjata."
Dari balik Mama Jamilah, di dekat pagar, lelaki berkemeja safari yang kemarin duduk di balik kemudi sedan abu-abu berdiri dengan tangan terlipat di depan perut. Ia menunduk, tak berani menatap siapa pun.
Pintu ruang tengah terbuka. Qenna muncul dengan gamis rumah warna krem, Aksa dalam gendongan kain yang disilangkan di dadanya, dan rambut yang diikat seadanya. Jahitannya masih nyeri; cara ia berjalan menunjukkannya, setengah langkah lebih hati-hati dari biasa. Tapi ia tidak menunduk.
"Selamat pagi, Bu."
"Jadi benar." Mama Jamilah memandang gendongan itu. Suaranya turun satu tingkat, bukan karena lunak, melainkan karena sedang menimbang. "Kamu menyembunyikan ini dari anakku berbulan-bulan."
"Saya menyembunyikannya dari Anda. Dari Rafa, hanya sampai saya sanggup menghadapinya."
"Aksa." Mama mengulang nama itu seolah mengecap sesuatu yang asing. Ia membuka tasnya, mengeluarkan sebuah amplop coklat tebal, dan meletakkannya di meja rotan teras. Bunyinya berat. "Aku orang yang suka bicara langsung. Di situ ada uang. Dan ini." Ia menyelipkan selembar kertas lipat di atas amplop. "Alamat rumah di Bintaro, atas nama kamu. Tanpa cicilan. Kamu pindah dengan Ibu panti ini kalau mau. Hidup tenang, anak sekolah di tempat bagus. Syaratnya satu: serahkan anak itu ke rumahku dan jangan pernah muncul lagi di hadapan Rafa."
Dari halaman terdengar suara anak-anak yang diam tiba-tiba.
Qenna menatap amplop itu. Ukurannya sama dengan yang dulu, warnanya sama, bahkan cara Mama Jamilah meletakkannya sama: pelan, dengan keyakinan bahwa tak ada yang menolak benda seberat itu.
"Anda sudah mencoba membeli harga diri saya sekali," ujar Qenna. Suaranya tenang. Ia mendengarnya sendiri dan heran betapa tenangnya. "Waktu itu amplopnya lebih tipis. Sekarang yang Anda tawar bukan lagi saya. Yang Anda tawar anak saya."
"Dia darah daging Rafa."
"Dia darah daging saya juga. Saya yang mengandungnya, saya yang melahirkannya, saya yang bangun tiap dua jam." Qenna menggeser amplop itu dengan ujung jari, kembali ke arah pemiliknya. "Uang untuk Aksa adalah urusan ayahnya. Uang untuk harga saya, tidak pernah ada barangnya."
Wajah Mama Jamilah mengeras. Dagunya terangkat. "Kamu pikir kamu menang karena anak itu? Kamu hanya cleaning servis yang kebetulan hamil dan tidur di panti. Aku bisa membawa ini ke pengadilan. Hak asuh jatuh ke keluarga yang mampu. Dan kalau pengadilan bertanya kenapa ibunya sering didatangi laki-laki lain ...." Ia mengeluarkan ponsel, memutarnya, dan menyodorkan layarnya. Foto itu Qenna kenal: gerbang panti, dus di tangan Armand, dirinya yang hamil besar dan wajah yang tampak sedang tersenyum. "Foto ini cukup untuk membuat hakim mengerutkan dahi."
"Silakan." Qenna tidak menyentuh ponsel itu. "Foto itu waktu saya pindahan, Bu. Dia mengangkat dus, saya mengangkat bantal. Bawa ke hakim kalau Anda mau. Saya akan jelaskan siapa yang memotretnya dan siapa yang menyuruh."
"Berani kamu ...."
"Bu." Ibu Aisyah menyela, tenang. "Suara Ibu membangunkan bayinya."
Aksa memang sudah menggeliat. Gerakannya kecil, seluruh tubuhnya meregang di balik kain gendongan, dan Qenna secara naluriah memiringkan badan, menggeser tubuhnya. Selimut rajut yang membungkus bayi itu tergelincir sedikit.
Di celah itu, Mama Jamilah melihat wajahnya.
Sekilas saja. Pipi tembam, hidung kecil yang agak mancung, kening dengan sehelai rambut yang bandel tegak ke atas persis di tempat yang sama dengan potret masa kecil Rafa di ruang tamunya. Bibir Mama terbuka setengah. Kelopak matanya mengerjap dua kali, dan sesuatu di wajah yang seumur hidup dijaga tetap keras itu runtuh sedetik.
Lalu ia memalingkan muka. Ponsel dimasukkan ke tas, amplop dibiarkan tergeletak di meja.
"Kamu akan menyesal," ucapnya, nyaris tak terdengar.
***
Di dalam sedan abu-abu, Mama Jamilah duduk di kursi belakang dan tidak berkata apa-apa sampai mobil melewati dua belokan.
Sopir meliriknya lewat kaca. "Mirip, kan, Bu?"
"Diam."
"Maaf, Bu."
Tangan Mama Jamilah di atas tas bergetar halus. Ia menekan satu telapak ke telapak lain sampai buku jarinya memutih. Selama tiga puluh tahun ia membangun perisai: uang, nama keluarga, suara yang membuat orang berhenti menawar. Tak pernah ada perisai untuk wajah sebesar telapak tangan yang menengok ke arahnya dari balik selimut.
"Telepon orang yang kemarin," katanya akhirnya, kembali datar. "Yang mengurusi kantor lelaki itu. Aku mau tahu siapa yang pertama kali menyebarkan cerita tentang cleaning servis hamil di sana. Orang yang bicara sebanyak itu pasti bisa bicara lagi, kepada hakim kalau perlu."
"Baik, Bu."
"Dan amplop itu," ia menambahkan, memandang keluar jendela, "jangan kamu ambil. Biar dia yang menyesal membiarkannya di situ."
Sopir tak berani bilang bahwa amplop itu masih tergeletak di meja teras panti.
***
Amplop itu masih di sana ketika Ibu Aisyah menutup pintu dan membawa Qenna ke kamar belakang.
Qenna duduk di tepi tempat tidur, menurunkan Aksa dengan tangan yang tak lagi stabil. Begitu bayi itu terbaring, lututnya yang menahan semua ketegangan tadi lemas. Ia menutup wajah dengan kedua tangan.
"Dia akan membawaku ke pengadilan, Bu."
"Dia mengancam, itu beda." Ibu Aisyah duduk di sampingnya dan memegang punggungnya. "Orang yang yakin menang tidak perlu menyodorkan amplop dulu."
"Tadi tanganku gemetar."
"Ibu lihat. Tapi suaramu tidak." Ibu Aisyah mengusap rambutnya.
Andin mengintip dari celah pintu, sapu masih dipeluk seperti tombak. "Kak, amplopnya masih di meja teras. Boleh Andin buang?"
"Jangan disentuh," sahut Ibu Aisyah. "Taruh di lemari dapur dan kunci. Bukan milik kita, dan bukan untuk kita."
"Tebal banget," bisik Andin, lalu cepat-cepat pergi sebelum ada yang menyuruhnya menutup mulut.
Qenna menatap pintu yang menutup lagi. Tawa kecil lolos dari hidungnya, bercampur isak, dan ia tak bisa membedakan mana yang menang. "Dulu dia menampar aku, Bu. Sekarang dia membawa alamat rumah. Aku tidak tahu mana yang lebih menakutkan."
"Yang kedua. Orang yang menampar masih mengaku marah. Orang yang membawa alamat rumah sudah merencanakan." Ibu Aisyah merapikan selimut Aksa. "Kamu masih simpan kartu nama yang diberikan Mama Ningsih?"
Qenna menurunkan tangan. Dari laci nakas ia mengeluarkan buku catatan kecil, dan di antara halamannya terselip kartu putih dengan huruf tegak: Dimas, Advokat dan Konsultan Hukum. Ia sudah menyimpannya sejak bulan keempat, dan tidak pernah sekali pun berani menyentuhnya.
Ia memencet nomor itu dengan jempol yang masih sedikit bergetar.
"Kantor Bapak Dimas," jawab suara perempuan di seberang.
"Selamat pagi. Saya Qenna. Saya diberi kartu nama ini oleh Bu Ningsih ...."
"Ibu Qenna." Suara itu langsung melunak. "Bapak sudah berpesan sejak minggu lalu. Beliau menunggu telepon dari Ibu. Beliau bilang, kalau Ibu menelepon, apa pun jamnya, semua jadwal digeser."