Rafa tiba di depan panti pukul satu kurang sepuluh menit, dan Andin sudah berdiri di gerbang dengan tangan terlipat di dada seperti penjaga istana.
Ia tidak tidur semalam. Matanya perih, kemejanya yang ia setrika sendiri pukul tiga pagi sudah kusut di bagian siku, dan cukurannya meninggalkan goresan kecil di rahang. Ia memarkir mobil di bawah pohon di seberang jalan, mematikan mesin, lalu duduk kaku selama dua puluh menit tanpa berani menyentuh pintu. Di kursi sebelahnya tergeletak sebuah kantong kertas berisi baju bayi yang ia beli tadi pagi di toko pertama yang buka, tanpa tahu ukurannya dan tanpa tahu apakah ia berhak memberinya.
Pukul satu lewat ia turun juga. Kakinya terasa ringan, dan itu membuatnya takut.
"Belum jam dua," kata Andin sebelum Rafa membuka mulut.
"Saya tahu. Saya hanya menunggu di sini."
"Di sini?" Gadis itu menatap trotoar, lalu lelaki berkemeja kusut itu, lalu trotoar lagi. "Boleh. Tapi jangan masuk pagar. Kata Kak Qenna, jam dua."
"Kamu Andin?"
Gadis itu mengangkat dagu. "Kakak tahu namaku?"
"Alin cerita." Rafa menelan ludah. "Kamu yang menyapu teras dan membukakan pintu untuknya."
"Oh. Kakak yang itu." Andin memiringkan kepala, menilai. "Kakak yang telepon tiap Senin, ya? Yang tidak pernah bicara?"
Rafa tidak sanggup menjawab. Ia mengangguk.
"Ibu bilang jangan galak," ujar Andin, datar. "Jadi saya cuma tegas. Kakak tunggu di situ. Kalau haus ada keran di pojok pagar."
Ia berbalik. Beberapa langkah kemudian ia menoleh lagi, dan suaranya menurun satu tingkat. "Kakak tahu Kak Qenna selama ini nangis diam-diam di kamar mandi? Kami semua tahu. Tapi tidak ada yang bilang."
"Aku ...."
"Tidak usah dijawab." Andin masuk ke halaman, dan gerbang berdecit di belakangnya.
Rafa berdiri di tempat yang ditunjuk. Matahari menyorot dari atas, bajunya mulai basah di punggung. Ia menatap jam tangannya dua kali, lalu berhenti menatap karena jarum itu bergerak terlalu pelan.
Pukul dua kurang lima, gerbang terbuka. Ibu Aisyah berdiri di ambangnya dengan gamis hijau tua dan kerudung hitam. Wajahnya tidak keras, tidak juga ramah.
"Masuklah, Nak Rafa."
Rafa melangkah. Di teras, ia membungkuk, mengulurkan tangan untuk menyalaminya. Ibu Aisyah memandang tangan itu cukup lama, dan tidak menyambutnya.
"Kamu menelepon tiap Senin dan menutup sebelum bicara, Nak," ucapnya. "Berminggu-minggu."
"Saya ...." Tangannya turun pelan. "Saya tidak tahu harus bilang apa, Bu."
"Itu jawaban jujur yang pertama." Ibu Aisyah menunjuk kursi rotan. "Duduk. Kamu pucat."
"Itu apa yang kamu bawa?"
Rafa baru sadar ia masih menggenggam kantong kertas itu. "Baju bayi, Bu. Saya tidak tahu ukurannya. Saya beli yang paling kecil, lalu ragu, lalu beli satu lagi yang lebih besar." Ia tertawa getir, pendek. "Mungkin dua-duanya salah."
"Taruh di meja. Qenna yang memutuskan dipakai atau tidak."
Rafa menaruhnya dengan dua tangan, hati-hati sekali, seolah isinya bisa pecah.
Rafa duduk. Ibu Aisyah tidak. Ia berdiri di depannya seperti seorang guru yang menimbang apakah murid ini layak ditegur atau dibiarkan menemukan jawabannya sendiri.
"Qenna sebentar lagi keluar. Ibu hanya ingin bilang tiga hal. Pertama, dia sedang menyusui, dan tidak boleh ada suara tinggi di dekat bayi. Kedua, apa pun yang dia putuskan hari ini, kamu terima. Ketiga ...." Ia berhenti, dan sesuatu bergerak di wajah yang tabah itu. "Ketiga, Ibu membesarkan anak itu dari umur satu tahun. Jangan menyakitinya dua kali."
"Saya tidak akan, Bu."
"Kamu bilang begitu sekarang."
Kalimat itu sama persis dengan yang ia dengar di telepon berminggu-minggu lalu. Rafa tidak membantah.
Dari dalam rumah terdengar suara anak-anak yang disuruh diam, lalu langkah-langkah kecil yang menjauh. Panti itu seperti menahan napas. Ibu Aisyah melirik jam dinding lewat jendela, lalu kembali menatap Rafa.
"Satu hal lagi," katanya pelan. "Ibu tidak tahu persis apa yang kamu lakukan sehingga Qenna begini. Dia tidak pernah cerita utuh, dan Ibu tidak memaksa. Tetapi Ibu tahu satu hal: dia bukan perempuan yang gampang menangis. Dan kamu membuatnya menangis di kamar mandi."
"Ya, Bu."
"Kalau kamu mau minta maaf, jangan minta maaf kepada Ibu."
***
Qenna mendengar suara itu dari balik pintu, dan seluruh tubuhnya membeku di lorong pendek antara kamar dan teras.
Ia sudah menyiapkan diri sejak pagi. Ia mandi, memakai gamis biru tua yang paling rapi, menyisir rambut, memeriksa bedong Aksa dua kali. Ia sudah menyiapkan kalimat. Tetapi suara yang menjawab Ibu Aisyah, dalam, serak, dan sangat dikenalnya, mematahkan semua kalimat itu seperti ranting.
"Kamu bisa," bisik Ibu Aisyah dari belakangnya. Ia tidak menyentuh Qenna. Ia hanya ada.
Qenna melangkah keluar.
Cahaya teras terlalu terang. Lelaki di kursi rotan itu berdiri begitu mendengar pintu, dan untuk sesaat waktu mundur sembilan bulan ke belakang: bahu yang sama, rahang yang sama, tetapi tubuh yang lebih kurus dan mata yang jelas tidak tidur. Kemejanya kusut. Di rahangnya ada luka cukur kecil yang membuat dadanya sakit tanpa alasan.
Lalu angin membawa baunya, dan itu yang paling kejam. Hangat, bersih, dan menenangkan. Perutnya yang biasa mual, tubuhnya yang selalu waspada, mendadak tenang seperti dipeluk. Ia benci kenyataan bahwa tubuhnya masih ingat.
Rafa tidak bergerak. Ia memandang Qenna, memandang bedong di dadanya, lalu mulutnya terbuka dan tertutup.
"Qenna," katanya akhirnya.
"Duduk."
Ia duduk. Qenna mengambil kursi di seberang, menjaga meja kecil di antara mereka. Aksa terjaga di pelukannya, matanya bergerak lambat, dan sepasang tangan kecil terkepal di dekat dagu.
Rafa memandang bayi itu seperti memandang sesuatu yang bisa hilang kalau ia berkedip.
"Dia ...." Suaranya pecah. "Dia ...."
"Jangan minta maaf dulu," potong Qenna, sebelum kata itu sempat keluar. "Ibu bilang maaf yang didesak waktu itu bukan maaf. Itu tenggat. Aku tidak mau menerima tenggat."
Rafa menutup mulutnya sendiri. Matanya bergerak ke Ibu Aisyah di ambang pintu, lalu kembali ke Qenna. "Kamu tahu soal itu?"
"Aku tahu soal banyak hal. Termasuk Alin, dan tiga bulan yang kamu punya." Ia membenahi bedong Aksa. "Tapi bukan itu urusan hari ini."
"Namanya Aksa."
"Aksa." Ia mencoba kata itu lagi dengan lidah yang sudah tidak kaku. "Boleh ... aku lihat?"
"Kamu sudah lihat."
"Dekat."
Qenna menatapnya lama. Ia tahu seharusnya ada banyak yang ingin ia katakan. Ada sembilan bulan yang tertimbun di dadanya: Bali, janur kuning, amplop, tamparan, lantai kamar mandi, tangis di ruang bersalin. Tetapi yang keluar hanya satu kalimat yang selama ini ia simpan paling bawah.
"Kamu terlambat hampir sembilan bulan."
Rafa memejamkan mata. Tidak ada pembelaan, tidak ada "tapi". Hanya anggukan lambat, seperti seseorang yang menerima vonis yang sudah ia hafal.
"Aku tahu."
"Kamu tidak tahu." Suara Qenna tidak naik, justru turun, dan itu lebih tajam. "Kamu belum tahu apa pun. Jadi duduk saja, dan lihat dia."
Ia menggeser bedong sedikit supaya tangan Aksa terlihat. Rafa mencondongkan tubuh, ragu, dan mengulurkan telunjuk. Jari itu gemetar. Ia menyentuh ujung kepalan kecil itu seperti menyentuh kelopak bunga.
Aksa membuka tangan. Jari-jari mungilnya melingkar di telunjuk ayahnya, dan menggenggam.
Rafa berhenti bernapas. Sesuatu di wajahnya runtuh pelan-pelan, tanpa suara, hanya air yang mengalir dari sudut matanya ke pipi dan ke kerah kemeja kusut itu. Ia tidak mengusapnya.
Di seberang meja, Qenna menggigit bagian dalam bibirnya sampai terasa asin, supaya tidak ikut menangis.
"Sepuluh menit," ucapnya akhirnya. Suaranya hampir tak terdengar, tetapi tegas. "Aku menghitungnya."