Alin menjawab telepon pada dering kelima hari Jumat itu, mendengar suara Qenna, dan hanya sanggup menjawab dengan satu kalimat: "Selasa. Saya datang Selasa, Mbak. Jangan hari lain."
Selasa pagi ia berdiri di depan gerbang panti dengan tas kecil di bahu dan kantong plastik berisi buah. Ia sudah berganti pakaian tiga kali sebelum berangkat, dan tiga-tiganya terasa salah untuk bertemu seorang bayi.
Andin membukakan gerbang. Gadis itu tidak lagi menatapnya dengan curiga seperti dulu, hanya dengan rasa ingin tahu yang ditahan. "Silakan, Kak. Kak Qenna di teras. Dia sudah nunggu dari tadi. Ibu bilang jangan ada yang ganggu."
Qenna duduk di kursi rotan di teras dengan bayi dalam bedong krem. Wajahnya lebih pucat daripada saat mereka bertemu terakhir, tetapi sorot matanya lebih tenang. Alin berhenti dua langkah darinya.
"Mbak Alin." Qenna tersenyum kecil. "Silakan duduk."
"Boleh saya ...?" Alin tidak menyelesaikan kalimatnya. Matanya sudah menjawab untuk dia.
"Boleh. Tangan kanan di bawah kepalanya."
Aksa berpindah ke lengan Alin dengan ringan yang membuat dada Alin sesak. Bayi itu terjaga, bola matanya yang gelap bergerak lambat menatap langit-langit teras. Hidung kecil, alis tipis yang sudah menyerupai satu orang yang Alin kenal, dagu dengan lekuk sama yang berbulan-bulan ia lihat tiap pagi di seberang meja makan.
Alin tidak sempat menahan diri. Air matanya jatuh langsung ke selimut krem itu.
"Maaf," ucapnya, mengusap pipi dengan punggung tangan yang bebas. "Maaf, Mbak. Saya tidak datang untuk menangis."
"Tidak apa-apa."
"Dia mirip sekali." Alin tertawa pendek yang berubah di tengah. "Mirip sekali, Mbak."
"Iya," kata Qenna. Hanya itu. Ia tidak menambahkan apa pun, dan Alin menghargainya.
Mereka duduk berdampingan beberapa saat tanpa bicara. Aksa menguap dan menempelkan pipinya ke dada Alin, mencari sesuatu yang tidak ada di sana, lalu merengek kecil. Alin refleks mengayunkannya, naluri yang tidak pernah diajarkan siapa pun.
"Dia lapar," kata Qenna. "Tapi tidak apa-apa, Mbak. Sebentar lagi."
"Saya tidak mau mengganggu. Saya hanya ...." Alin menggeleng. "Dua bulan saya tinggal di rumah ayah dan setiap malam saya tidak bisa membayangkan wajah anak ini. Sekarang saya tahu dan rasanya lebih berat."
"Kenapa lebih berat?"
"Karena sekarang dia nyata, Mbak. Dan saya yang menikah dengan ayahnya."
Ibu Aisyah muncul dari dalam dengan dua cangkir teh di atas baki. Ia menaruhnya tanpa banyak kata, menyentuh bahu Alin sebentar, dan kembali masuk. Alin menatap punggungnya. Ia ingat perempuan itu di tangga rumah besar, tas lusuh di tangan, tidak membalas hinaan siapa pun.
"Berapa hari, Mbak?"
"Sebelas. Kemarin tepat satu setengah minggu."
"Saya ...." Alin mengatur napas. "Mbak, saya harus bilang beberapa hal supaya Mbak tahu posisi saya. Ayah saya sudah mengajukan pembatalan nikah. Bukan perceraian. Menurut pengacara, pernikahan kami cacat sejak awal, jadi bisa dibatalkan seperti tidak pernah terjadi. Prosesnya belum jalan, tetapi sudah di tangan orang yang tepat."
"Kalau begitu Mbak bebas."
"Segera." Alin menunduk. "Dan Ayah memberi Mas Rafa waktu tiga bulan untuk menemui Mbak dan menyelesaikan semuanya dengan benar. Waktu itu sudah berjalan sembilan pekan. Tinggal kurang dari sebulan."
Qenna menyimak, tanpa perubahan di wajah. Dari halaman terdengar anak-anak mengejar bola dan seseorang menjerit riang, lalu tertawa.
"Mbak Alin, kenapa Mbak melakukan ini? Mbak tidak berutang apa-apa kepada saya."
"Karena saya perempuan, Mbak." Jawabannya sederhana, dan Alin menyadari ia sudah menyiapkannya selama berminggu-minggu. "Kalau saya di posisi Mbak, saya ingin ada orang yang berani menyampaikan."
Qenna menunduk pada Aksa, lalu pada Alin. Jeda itu terasa panjang.
"Dia boleh tahu," katanya akhirnya. "Tapi dari Mbak. Saya belum sanggup. Dan saya tidak mau dia mendengarnya dari mulut Ibu Jamilah."
"Saya akan mengatakannya malam ini."
"Besok siang saja untuk bertemu. Pukul dua." Suara Qenna pelan tapi tidak ragu. "Dan saya yang menentukan jamnya, bukan dia. Tolong sampaikan itu juga."
Alin mengangguk. Dengan hati-hati ia menyerahkan Aksa kembali kepada ibunya, dan saat berdiri, ia membungkuk sedikit seperti kepada sesuatu yang lebih besar dari dirinya.
***
Malam itu langit di atas rumah Pak Hendro tertutup awan rendah, dan lampu teras menyala kuning pucat.
Rafa tiba pukul delapan setelah Alin mengirim satu pesan: Datang. Penting. Ia tidak membawa apa pun kecuali kunci mobil dan firasat buruk yang sudah ia pelihara sejak membaca pesan itu. Rumah itu besar dan rapi, dengan taman terawat dan pagar rendah. Tirai di salah satu jendela ruang tamu bergerak sedikit ketika ia menutup pintu mobil.
Alin duduk di bangku kayu teras, mengenakan gamis abu-abu dan kerudung yang dikenakan rapi. Ia tidak berdiri menyambut. Di depannya, sebuah bangku kosong.
"Duduk, Mas Rafa."
Rafa duduk. Ia mencoba mencari wajah istrinya yang dulu di wajah ini, tetapi perempuan itu tampak seperti seseorang yang baru saja melewati sesuatu dan tidak akan bisa kembali.
"Kamu mau bilang apa?"
"Kamu punya anak laki-laki."
Waktu berhenti sepersekian detik.
"Apa?"
"Anak laki-laki. Dengan Mbak Qenna." Alin tidak berkedip. "Usianya sebelas hari."
Rafa membuka mulut, tetapi tidak ada yang keluar. Ia bangkit setengah, lalu duduk lagi, lalu menunduk. Bibirnya bergerak tanpa suara. Ia menghitung. Bali. Pagi itu. Bulan-bulan yang ia lewati dengan rapat dan tanda tangan dan makan malam dengan orang-orang yang bukan miliknya. Sembilan bulan kurang sedikit.
"Kamu bohong."
"Aku tidak pernah berbohong padamu, Mas." Suara Alin rendah dan lelah. "Itu yang membuat kamu kaget. Aku tahu sejak dua bulan lalu, waktu aku melihat perutnya sendiri. Aku berjanji padanya diam sampai dia lahir, dan hari Jumat dia menelepon dan memintaku yang bilang."
Rafa turun dari bangku dan duduk di anak tangga teras, dua siku bertumpu pada lutut. Tubuhnya bergetar dengan cara yang tidak ia kenali.
"Sehat?" bisiknya.
"Sehat. Kulitnya sempat agak kuning di rumah sakit, tapi dokter bilang normal."
"Dia ... dia mirip siapa?"
"Kamu." Alin berhenti, lalu menambahkan lebih lembut, "Ia mirip kamu, Mas. Matanya. Namanya Aksa. Qenna sendiri yang memilihnya."
"Aksa." Rafa mengucapkannya dengan lidah yang kaku, seperti kata dalam bahasa yang belum ia kuasai. Ia mengusap wajah dengan kedua tangan, dan telapaknya basah.
"Dia di panti," lanjut Alin. "Kamu boleh datang besok siang pukul dua. Qenna yang menentukan jamnya, bukan kamu, dan kamu jangan membantah."
"Aku tidak akan membantah."
"Kamu juga tidak akan membawa Mama."
"Mama tahu?" Rafa tersentak.
"Mama tidak tahu. Dan kamu tidak akan memberitahunya sebelum Mbak Qenna mengizinkan. Itu bagian dari janjiku padanya, jadi sekarang janjimu juga."
"Aku tidak akan bilang."
Rafa mendongak. Matanya panas, dan ia merasa wajahnya sendiri telanjang di hadapan Alin, tanpa topeng, wajah yang selama ini hanya muncul di foto-foto lama.
"Alin, kenapa dia tidak ... kenapa bukan dia yang memberitahuku?"
"Karena dia belum sanggup mendengar suaramu." Alin berdiri, merapikan gamisnya. "Dan karena kamu yang membuat dia begitu, Mas. Tanyakan sendiri besok. Kalau dia mau menjawab."
Pintu depan terbuka, dan sebelum menutup ia berbalik sebentar.
"Aku sudah menepati janjiku. Sekarang giliranmu."
"Alin." Suaranya parau. "Kamu marah padaku?"
"Aku sudah selesai marah, Mas." Ia menimbang. "Yang tersisa bukan marah. Aku hanya ingin kamu melakukan satu hal dengan benar seumur hidupmu."
Rafa tidak menjawab. Ia mendengar langkah Alin menjauh di lantai marmer, pintu yang menutup tanpa bunyi, lalu kunci diputar dari dalam. Ia duduk sendirian di anak tangga itu sampai lampu teras mati.