Alin memarkir mobil di seberang gedung pengadilan agama pukul sembilan kurang sepuluh dan tidak langsung turun.
Tangannya masih memegang kemudi. Di kursi sebelah, map plastik bening berisi selembar salinan yang sudah ia baca lebih dari dua puluh kali, sampai huruf-hurufnya seperti bukan bahasa. Akta cerai. Nama Rafa di sana, nama Qenna Amanda, lengkap dengan nomor perkara dan stempel yang terlihat sempurna.
Ia tidak perlu membaca lagi. Yang ia butuhkan bukan kertas itu, melainkan kalimat yang ia dengar semalam.
Semalam, pukul sepuluh lebih, ia membawa teh ke ruang kerja karena tidak bisa tidur. Pintu tertutup tetapi tidak rapat, dan dari celahnya terdengar suara Rafa yang rendah dan hati-hati. Lalu suara lain dari telepon, jelas karena Rafa menyalakan pengeras suara, mungkin tanpa sadar: "Tidak ada perkara cerai atas nama Bapak dan Qenna, Pak. Saya sudah periksa sampai ke sistem. Tidak ada." Alin berdiri tanpa bernapas dengan nampan di tangan. Dari dalam, Rafa tidak menjawab. Tidak sepatah kata pun. Hanya bunyi napas dan, setelah lama, bunyi kursi bergeser.
Ia melangkah mundur sebelum pintu terbuka. Dan sesudah itu pun Rafa tidak mengatakan apa-apa kepadanya. Ia keluar, melihat teh dingin di meja lorong, dan berkata, "Terima kasih, Lin." Hanya itu.
Alin mencabut kunci mobil. Ayahnya yang memegang salinan ini; ia meminta fotokopinya dua hari lalu dengan alasan arsip, dan Pak Hendro menyerahkannya tanpa curiga, bahkan sambil bertanya apakah menantunya baik-baik saja. Alin menjawab, "Baik, Pa." Kata itu keluar semudah bernapas, dan itu yang membuatnya takut.
Ia turun.
***
Ruang pelayanan berbau debu dan kertas. Nomor antrean 41, 42, 43 menyala di layar. Alin duduk di bangku plastik di antara seorang perempuan paruh baya yang menggenggam map cokelat dan dua lelaki muda yang berbisik-bisik, lalu dipanggil ke loket pengecekan perkara pukul sepuluh.
Panitera di balik kaca adalah seorang bapak berkumis tipis dengan kacamata yang melorot. Ia menerima salinan itu tanpa bertanya, memasukkan nomor perkara ke komputer, dan mengerutkan alis.
"Ibu ini siapa dalam perkara ini?"
"Saya ...." Alin menelan ludah. "Saya istri dari pihak Pemohon. Istri yang sekarang."
"Maaf?"
"Maksud saya, saya membutuhkan kepastian atas dokumen ini."
Panitera itu mengetik lagi. Layar monitornya membiaskan cahaya biru ke kacamatanya. Lama. Alin menghitung detik lewat detak jam dinding di belakangnya.
"Nomor perkara ini milik perkara lain, Bu." Ia memutar monitor sedikit supaya Alin bisa melihat. "Perkara waris di wilayah lain, tahun lalu. Tidak ada kaitannya dengan nama-nama di salinan ini." Ia mengetik nama lagi. "Saya coba cari dengan nama Pemohon dan Termohon ... tidak ada. Dalam lima tahun terakhir tidak ada perkara atas nama Rafa dan Qenna Amanda di pengadilan ini maupun di sistem yang terhubung."
"Mungkin dengan nama lain?"
"Sudah saya coba dengan beberapa kemungkinan penulisan, Bu." Ia menatap Alin, bukan dengan curiga, hampir dengan iba. "Dokumen ini tidak tercatat di sini. Kalau Ibu mau, kami bisa berikan surat keterangan tidak ditemukan. Tapi saya sarankan Ibu bertanya kepada yang memberikan kertas ini."
"Surat keterangan itu ... saya mau."
"Sepuluh menit."
Alin menunggu sepuluh menit di bangku yang sama. Perempuan dengan map cokelat itu sudah pergi, digantikan seorang kakek yang tertidur dengan topi di dada.
Ketika surat keterangan itu ada di tangannya, hangat dari mesin cetak, ia berdiri, mengucapkan terima kasih, dan berjalan keluar dengan langkah seperti orang yang menyeberangi jembatan yang goyang.
Di mobil, ia duduk lama sekali. Ponselnya berdering dua kali; layar menunjukkan "Papa". Ia menatap nama itu, ibu jarinya melayang di atas tombol hijau, dan ia tidak menekannya. Jika ia menjawab, ia harus menjawab pertanyaan yang tidak ingin ia jawab: apa yang ia lakukan di sini, mengapa kertas yang Papa percayai ternyata tidak ada.
Dering itu berhenti. Alin menyandarkan kepala ke kemudi dan menangis, pelan dan lama, sampai napasnya habis.
Ia teringat kalimat Mama Jamilah pada hari-hari pertama pernikahan, diucapkan sambil menepuk tangannya di ruang tamu: urusan istri pertama Rafa sudah beres, kamu tidak perlu memikirkannya. Ia percaya, karena ia ingin percaya. Karena percaya lebih ringan daripada bertanya. Dan sekarang ada selembar surat keterangan di pangkuannya yang mengatakan bahwa ia telah tidur di rumah seorang lelaki yang statusnya tidak pernah ia periksa.
Satu hal lain mengusiknya. Qenna Amanda. Nama itu pernah ia dengar dari mulut seorang ibu tua di tangga rumah besar. Ibu panti itu tidak marah. Ia hanya berkata, tanyakan pada suamimu, Nak. Dan Rafa sudah menjawab, berbulan-bulan lalu, dengan dua kata: sudah selesai. Kini Alin tahu betapa kosongnya jawaban itu.
***
Malam itu panti penuh bau nasi kuning dan gorengan, dan Qenna duduk di kursi rotan di ruang depan dengan kerudung peach dan perut yang hampir tidak muat di balik gamis longgar.
"Tujuh bulan, ya Allah," ujar Ibu Aisyah sambil mengelap piring-piring kecil yang akan dibagikan. "Rasanya baru kemarin kamu datang membawa kardus."
"Bukan tujuh bulan, Bu. Dokter bilang hampir."
"Tujuh bulan hampir sama dengan tujuh bulan."
Doanya sederhana, tanpa tenda, tanpa kue bertingkat. Kain panjang yang dulu menutup lemari dijadikan alas duduk, dan di tengahnya ada rujak buah tujuh macam yang dibuat Andin dengan cabai yang sengaja dikurangi atas perintah tiga orang dewasa sekaligus. Ibu Aisyah memimpin dengan peci anak-anak yang berjejer di belakang, dan tidak lebih dari sepuluh menit semuanya selesai. Sesudah itu anak-anak berebut nasi kuning, Andin membagi telur rebus, dan di sudut ruangan Hans duduk di lantai bersila dengan piring di pangkuan, memandang Sindy yang duduk tiga jengkal darinya dengan pura-pura tidak peduli.
"Bapak tidak pakai parfum hari ini," ujar Qenna kepadanya, setengah menggoda.
"Perintah Sindy." Hans mengangkat bahu dengan wajah pasrah. "Dia bilang, kalau saya masuk rumah ini dengan wangi itu, Aksa akan lahir sebelum waktunya."
"Aku tidak bilang begitu," protes Sindy. "Aku bilang Pak Hans bisa dilempar sandal."
"Lebih tepatnya begitu."
Qenna tertawa dan merasa perutnya ikut bergoyang. Di antara semua orang di ruangan itu, mungkin hanya Sindy yang tahu bahwa Kamis sore biasanya ia datang sendiri, dan Jumat ini ia datang membawa Hans karena Hans bersikeras, dan sekarang ia tampak lebih lega daripada kesal.
Pintu depan diketuk pukul delapan. Seorang kurir berseragam berdiri dengan kardus besar yang diikat pita rapi dan sebuah kartu kecil di atasnya. Andin yang membukanya, dan ia hampir menjatuhkan kardus itu karena beratnya.
"Untuk Kak Qenna. Dari ... dari ...." Ia membaca kartu itu dengan alis berkerut. "Dari seorang nenek yang belajar."
Ruangan hening sesaat. Sindy dan Hans bertukar pandang.
Qenna membuka kardusnya perlahan. Di dalamnya ada tas perlengkapan bayi dari kain bermotif bintang, lengkap dengan gurita, bedong, topi-topi mungil, kaus kaki sebesar ibu jari, dan satu kotak kayu kecil berisi sisir bayi dan gunting kuku dengan ukiran huruf A di tutupnya. Di dasar tas, terselip selembar kertas lipat dengan tulisan tangan yang tegak dan rapi: "Tidak apa-apa jadi nenek yang masih belajar. Semoga ia sehat."
Qenna memegang kertas itu dengan dua tangan. Ibu Aisyah berdiri di belakangnya, tidak mengatakan apa pun, hanya menaruh tangan di bahunya.
"Ada satu lagi, Qen." Sindy mengeluarkan bungkusan kecil dari tasnya, agak canggung. "Dari Pak Armand. Dia tidak bisa hadir, dia bilang."
"Karena apa?"
"Dia tidak bilang. Dia cuma bilang, kalau kamu tanya, aku disuruh jawab 'Beliau menjaga janji.'"
Qenna membuka bungkusan itu. Tiga buku cerita bergambar, sampulnya lembut, dengan tulisan di halaman pertama oleh tangan yang ia kenal dari catatan-catatan kecil di mejanya: "Untuk Aksa, supaya kamu tidak perlu meminjam buku Andin."
Ia membaca satu kalimat itu dua kali. "Janji yang mana?" tanyanya kepada Sindy, pelan.
"Dia tidak mau bilang." Sindy menyodorkan sepotong telur rebus ke tangannya dengan wajah polos. "Katanya kamu tahu."
Qenna tahu. Ia tidak menjawab, tetapi Ibu Aisyah di belakangnya menarik napas pendek, seperti orang yang baru menang tanpa ingin terlihat menang.