Angka di layar laptop itu tidak berubah, dan Rafa sudah menatapnya selama dua puluh menit.
Rekening operasional perusahaan. Gaji bulan ini bisa ditutup, tagihan pemasok bisa ditutup, tetapi tiga baris di bawahnya, tulisan "pencairan kuartal" yang biasanya hijau, kini masih berwarna abu-abu dengan keterangan yang sama sejak dua minggu lalu: menunggu persetujuan.
"Pak." Kepala keuangannya, seorang lelaki berkacamata yang tidak pernah terdengar panik, berdiri di depan meja dengan map di tangan. "Saya sudah hubungi sekretaris Pak Hendro tiga kali. Jawabannya selalu sama. Pencairan ditunda menunggu arahan beliau sendiri."
"Arahan soal apa?"
"Mereka tidak bilang."
Rafa menutup laptop. Ia tahu arahan itu. Ia hanya tidak ingin mendengar kata itu keluar dari mulut siapa pun di kantornya.
"Sampai kapan perusahaan bisa bertahan tanpa dana itu?"
"Dua bulan, kalau kita tidak ambil proyek baru. Satu bulan, kalau kita ambil."
"Baik. Tolong tahan semua proyek baru. Dan jangan bilang apa pun ke karyawan."
Kepala keuangan itu pergi. Rafa duduk menatap pintu yang tertutup, kemudian ke pigura kecil di sudut mejanya: ia dan Alin di pelaminan, tersenyum. Dua senyum yang sangat sopan. Ia mengingat bahwa pada hari itu ia sama sekali tidak menyadari bahwa ada orang lain di ruangan itu yang menahan napas bersamanya.
***
Mama Jamilah sudah ada di ruang makan ketika Rafa pulang pukul delapan malam.
Perempuan itu duduk di ujung meja dengan blus biru tua dan gelas kaca berisi cairan cokelat keruh di depannya, sementara Alin duduk di seberang dengan punggung tegak dan wajah tanpa ekspresi. Bau jamu menyengat sampai ke pintu.
"Rafa. Sini. Mama sedang menjelaskan sesuatu pada istrimu."
"Ma, kapan Mama datang?"
"Sejak sore. Alin tidak mau bukakan pagar, sopir Mama harus menunggu sepuluh menit." Mama Jamilah menggeser gelas ke arah menantunya. "Minum. Sekarang, selagi hangat. Jamu ini dari tabib langganan Mama, sepupu Mama hamil setelah tiga bulan meminumnya."
"Ma." Alin tidak menyentuh gelas itu. "Aku sudah minum jamu yang kemarin, dan yang kemarinnya lagi. Perutku sakit."
"Perut sakit itu tandanya bekerja."
"Aku belum hamil karena kami baru menikah, bukan karena aku kurang jamu."
"Alin." Suara Mama Jamilah merendah, dan Rafa tahu nada itu: nada yang dipakai ketika menyatakan sesuatu yang bukan permintaan. "Papa kamu menunda dana perusahaan suamimu. Kamu tahu kenapa? Karena dia khawatir anaknya salah memilih. Kalau ada cucu, dia tidak akan berpikir macam-macam. Kamu mau perusahaan Rafa runtuh?"
Rafa menahan langkah di ambang pintu. Ia melihat Alin menunduk, bahunya naik satu kali lalu turun, dan itu bukan gerak orang yang sedang marah. Itu gerak orang yang kehabisan tenaga di tengah jalan yang tidak punya ujung.
"Ma, cukup."
"Rafa, Mama belum selesai ...."
"Cukup, Ma. Besok saja." Ia melangkah masuk, mengambil gelas jamu itu dengan satu tangan, dan meletakkannya di atas nampan di pojok meja. "Alin lelah. Mama juga."
Mama Jamilah menatapnya, lama, dan Rafa mengira ia akan membentak. Tetapi perempuan itu hanya meraih tasnya, bangkit, dan berkata dengan suara yang tidak mengandung apa-apa, "Kamu mulai berani, Rafa. Mama tidak tahu itu baik atau buruk."
Hanya itu. Ia melangkah keluar, dan sopirnya sudah membuka pintu mobil sebelum Rafa sempat mengantarnya. Pintu depan berdebam pelan.
Hening panjang. Alin masih menunduk, memain-mainkan sendok di piring kosong.
"Terima kasih," ucapnya kemudian, hampir tanpa suara.
"Kamu tidak perlu berterima kasih untuk hal yang seharusnya sejak awal tidak terjadi."
Alin mengangkat wajah. Matanya sembap, tapi bukan karena menangis malam ini. Mata yang sudah terlalu lama kurang tidur. "Mas Rafa," katanya pelan, "aku ingin tidur sendirian malam ini. Kamu tidak tersinggung?"
Pertanyaan yang aneh, diajukan oleh orang yang berhak. Rafa mengerti bahwa ia sedang diberi pilihan, dan yang paling jujur adalah tidak membantah.
"Aku tidur di ruang kerja."
"Kalau kamu mau ...."
"Aku mau. Tidurlah."
Ia mematikan lampu ruang makan sendiri, mendengar langkah Alin menaiki tangga, dan berdiri sebentar dalam gelap yang bau jamu. Entah kenapa ia merasa sedang menyaksikan sesuatu retak pelan-pelan di dalam rumahnya, bukan retak yang berbunyi, melainkan retak yang hanya akan terlihat setelah tiba-tiba semuanya jatuh.
Ia menuang air hangat dari dispenser ke gelas bersih dan naik ke lantai atas. Pintu kamar Alin terbuka sejengkal. Ia tidak masuk. Dari celahnya ia melihat istrinya duduk di tepi ranjang dengan ponsel di tangan, layarnya menampilkan foto sebuah keluarga di meja makan yang lebih ramai daripada meja makan mana pun di rumah ini. Alin menatap foto itu seperti orang menatap rumah yang sudah dikunci.
Rafa menaruh gelas di lantai di depan pintu, mengetuk dua kali, dan turun lagi tanpa menunggu pintu dibuka. Dari balik daun pintu terdengar suara kecil, "Terima kasih, Mas," dan ia berharap suara itu tidak sesopan kedengarannya.
***
Ruang kerja itu berbau kertas dan kopi lama.
Rafa menyingkirkan tumpukan berkas dari sofa, melepas jam tangan, dan duduk dengan ponsel di tangan. Pukul sepuluh lewat. Seharusnya ia tidur. Seharusnya, tetapi di kepalanya masih ada satu kalimat Alin dari bulan-bulan yang lewat, yang tidak pernah ia jawab. Mana suratnya, Mas? Alin pernah memintanya dengan sopan, sebagai pertanyaan yang boleh tidak dijawab. Dan Rafa telah memilih tidak menjawab.
Ia membuka daftar kontak. Nama pengacaranya, yang ia pilih sendiri empat tahun lalu untuk urusan perusahaan, bukan dari rekomendasi Mama, ada di urutan paling atas. Ia hampir menekannya waktu itu. Tidak jadi.
Sekarang ia menekannya.
"Selamat malam, Pak Rafa. Ada yang bisa saya bantu, malam-malam begini?" Suara di seberang tenang dan agak mengantuk.
"Maaf mengganggu. Saya ingin menanyakan satu hal. Status perkara cerai saya. Sampai di mana?"
Hening, lama sekali untuk telepon.
"Perkara cerai?" ujar pengacara itu hati-hati. "Atas nama siapa, Pak?"
"Atas nama saya. Rafa. Dan ... Qenna Amanda."
"Maaf, Pak. Kami tidak pernah menerima kuasa dari Bapak untuk perkara semacam itu. Kalau ada perkara cerai yang sedang berjalan, itu bukan ditangani kantor kami."
Rafa memejamkan mata. Tangannya yang memegang ponsel kini dingin. "Mama saya bilang ... Mama sudah mengurusnya lewat pengacara."
"Mungkin pengacara lain, Pak. Tetapi izinkan saya bertanya, apakah Bapak sendiri pernah menandatangani surat kuasa, atau menghadiri sidang, atau menerima panggilan?"
"Tidak."
"Maka, dengan hormat, Pak, saya sulit membayangkan ada perkara yang sedang berjalan atas nama Bapak."
Rafa menatap rak buku. Ia menghitung dalam hati berapa kali ia bertanya pada Mama, "Surat itu mana?", dan berapa kali jawabannya hanya "Sudah Mama urus". Dua kali. Tiga kali. Dan ia selalu berhenti di situ, sebab berhenti lebih mudah dan sebab Mama tidak pernah ditanya dua kali. Perusahaan yang ia bangun dari nol ternyata memang berdiri di atas lantai yang tidak pernah ia periksa.
Ia memegang ponselnya lama. Lama sekali. Di seberang, pengacara itu tidak mendesak.
"Pak Rafa?"
"Saya di sini." Suaranya serak dan ia berdeham. "Tolong cek ke pengadilan agama."