"Qenna, ada tamu cari kamu di lobi."
Perempuan resepsionis itu berdiri di pintu pantry dengan satu tangan masih memegang telepon kantor yang kabelnya terulur. Pukul sebelas lewat. Qenna sedang mencuci gelas-gelas rapat pagi, dan busa sabun menempel sampai ke pergelangan tangannya.
"Tamu?" Ia mengeringkan tangan pada kain lap. "Siapa, Mbak? Saya tidak ada janji."
"Katanya Bu Siska. Bilang cuma sebentar, mau menitipkan berkas dari ayahnya untuk Pak Armand. Tapi dia minta kamu yang turun."
Dada Qenna mengencang tanpa alasan yang jelas. Ia mengenal nama itu dari bisik-bisik karyawan di lorong dan dari Sindy: mantan istri Armand, perempuan yang pernah datang ke lantai atas dan disuruh pulang oleh lelaki yang dulu menjadi suaminya.
"Pak Hans ada?"
"Rapat sama Pak Armand sampai jam dua belas."
Qenna menarik napas. Berkas untuk Armand bisa dititipkan siapa saja. Tidak satu pun alasan untuk memanggil nama seorang petugas kebersihan. Tetapi menolak turun lebih aneh daripada turun. Ia merapikan ikatan rambutnya, melepas celemek, dan berjalan menuju lift.
Siska menunggu di dekat meja resepsionis dengan blus krem, celana panjang rapi, dan tas kulit mahal. Ia kelihatan lebih segar daripada yang digosipkan orang. Rambut disisir, bayang gelap di bawah mata sudah hilang. Hanya matanya yang tidak berubah: tajam, mengukur, seperti seseorang yang sedang mencocokkan wajah dengan daftar.
"Qenna." Ia tersenyum. "Terima kasih sudah mau turun. Aku Siska."
"Saya tahu, Bu."
"Oh?" Alisnya naik sedikit. "Tentu saja kamu tahu." Ia menyerahkan map cokelat kepada resepsionis. "Tolong sampaikan ke Mas Armand. Dari Papa." Lalu kembali ke Qenna, suaranya dilembutkan. "Kamu istirahat jam dua belas, kan? Ada kafe di seberang jalan. Aku cuma minta sepuluh menit. Aku tidak datang untuk membuat keributan."
"Saya tidak punya urusan dengan Ibu."
"Tidak ada yang bilang begitu." Siska menatapnya lurus. "Sepuluh menit saja. Ini bukan tentang kantor."
Qenna menimbang. Orang-orang di lobi mulai melirik. Seorang satpam yang berdiri di dekat pintu putar pura-pura memeriksa daftar tamu. Keputusan yang paling aman adalah keputusan yang paling cepat menyelesaikan tontonan ini.
"Jam dua belas," katanya. "Sepuluh menit."
***
Kafe itu kecil, dengan meja kayu bundar dan aroma kopi yang menguar sampai ke trotoar. Qenna menyesal begitu pintunya terbuka. Bau panggang yang pekat menghantam hidungnya seperti tangan. Ia berhenti di ambang pintu, menahan napas, lalu memilih kursi paling dekat jendela yang terbuka sedikit.
Siska memesan dua minuman. Satu untuk dirinya, satu teh melati untuk Qenna. "Kamu tidak minum kopi," katanya santai. "Aku perhatikan."
"Saya tidak cocok, Bu."
"Hm." Ia mengaduk minumannya perlahan. Sendok menyentuh dinding cangkir dengan denting teratur. "Aku tidak akan basa-basi. Kamu tahu Armand pernah punya istri?"
Qenna tidak menyangka akan secepat itu. Tetapi ia sudah menyiapkan jawaban sejak dari lift. "Saya tahu, Bu. Saya karyawan di sini. Semua orang tahu."
"Semua orang tahu hal yang mereka dengar di lorong. Kamu tahu hal yang sebenarnya?"
"Itu bukan urusan saya."
"Aku istrinya selama tiga tahun." Siska bicara tenang, hampir lembut, sesuatu yang membuat Qenna waspada justru karena tidak ada tuduhan di dalamnya. "Aku tidak pernah mencintainya. Itu bukan salah dia, itu salahku dan Papaku. Tapi dalam tiga tahun itu aku mengenalnya cukup baik untuk tahu satu hal. Armand tidak pernah memanggil nama karyawan dengan suara yang ia pakai waktu memanggil namamu."
"Pak Armand atasan yang sopan kepada semua orang."
"Sopan itu yang kulihat pada tiga tahun pernikahan kami," balas Siska, tidak getir, hanya datar. "Sopan itu tidak sama dengan peduli. Aku tahu bedanya karena aku yang dulu diperlakukan sopan."
"Mungkin Bapak memang sudah berubah, Bu. Itu bukan urusan saya."
"Mungkin." Siska menyandarkan punggung. "Dalam tiga tahun aku tidak pernah mendengar ia tertawa lepas. Belakangan ini, kata orang, ia sering melakukannya."
Kalimat itu mengambang di antara dua cangkir. Qenna teringat tikar di halaman panti, kepala yang mendongak, suara yang dalam dan hangat. Ia menunduk menatap teh. Sebelum ia sempat menyusun jawaban, ada sesuatu yang lebih dekat dan lebih busuk menyerangnya: bau kopi dari meja sebelah, di mana seorang pelayan baru menurunkan teko besar berisi seduhan hitam yang masih mengepul.
Qenna mengangkat satu tangan menutup hidung. Lambungnya bergolak. Tangan yang lain, tanpa disuruh, sudah turun ke perutnya dan menahan di sana.
Keduanya terjadi dalam kurang dari tiga detik. Tidak lama, tetapi cukup.
Siska berhenti mengaduk.
Matanya turun ke tangan Qenna di perut. Naik lagi ke wajahnya yang memucat. Turun lagi. Ada keheningan yang bukan kebetulan, jenis keheningan perempuan yang pernah menimbang pertanyaan serupa dalam hidupnya sendiri dan tahu jawabannya sebelum didengar.
"Kamu hamil?"
Qenna menurunkan tangan. Terlambat. Ia tahu itu. "Itu bukan urusan Ibu."
"Aku tidak bertanya untuk menghina." Nada Siska tidak berubah. "Aku bertanya karena ingin tahu apakah Armand tahu."
"Saya bilang itu bukan urusan Ibu." Suara Qenna bergetar, tetapi kali ini ia menegakkan duduknya. "Saya menghargai teh ini. Saya menghargai waktu Ibu. Tapi saya harus kembali bekerja."
Ia berdiri. Kursinya bergeser pelan di lantai ubin.
"Tidak apa-apa, kamu tidak perlu menjawab." Siska tidak bergerak dari tempat duduknya. Senyum kecil yang manis dan sopan muncul di wajahnya, senyum orang yang baru saja menerima bukan jawaban, tapi justru jawaban terbaik. "Kamu sudah menjawab."
"Saya permisi, Bu."
"Selamat siang, Qenna." Siska mengangkat cangkirnya sedikit, memberi isyarat sopan. "Sampaikan salamku pada Mas Armand. Tolong bilang aku mengirim doa."
Qenna sudah sampai di pintu ketika suara Siska terdengar sekali lagi, lebih rendah, nyaris pada dirinya sendiri.
"Lucu, ya. Aku kehilangan suami yang tidak pernah kucintai, dan baru sekarang terasa seperti kehilangan."
Qenna berhenti sedetik, tidak tahu harus merasa iba atau waspada. Lalu ia membuka pintu dan keluar tanpa menoleh.
***
Trotoar di luar kafe terik. Kendaraan lewat bergantian, debu mengambang di bawah matahari, seorang pedagang asongan menawarkan air mineral dengan suara serak. Qenna berjalan sepuluh langkah, berbelok ke gang sempit di samping toko roti, dan bersandar pada tembok panas yang mengelupas catnya.
Ia ingat tangan Mama Jamilah di pipinya, bunyi tamparan yang bergema di ruang tamu kontrakan, hinaan yang dilontarkan tanpa ragu. Hari ini tak ada tamparan dan tak ada kata kasar. Justru itu yang membuatnya lebih buruk. Perempuan tadi tidak perlu mengangkat tangan untuk membuat Qenna merasa telanjang. Tangannya gemetar. Bukan sedikit. Ia mencoba menggenggam kedua tangan satu sama lain, tetapi jari-jarinya menolak diam. Napasnya pendek-pendek. Ia mengingat kata-kata Ibu Aisyah, tarik napas, buang pelan-pelan, dan menirunya sampai dadanya tidak lagi sesempit tadi.
Siska tahu. Setidaknya menduga, dan ia tidak akan berhenti menduga. Dari percakapan tadi, hanya Qenna sendiri yang terlihat bodoh, yang tak sanggup menahan tangannya dari perut selama tiga detik.
Ia merogoh saku seragam dan menemukan ponsel. Jempolnya memilih nama dari daftar panggilan tanpa perlu mencari.
"Qen?" Suara Sindy menjawab pada dering kedua. Riuh kantor di belakangnya. "Kamu di mana? Resepsionis bilang kamu keluar bareng perempuan tadi."
"Sin." Suaranya serak. "Dia tahu."
Hening satu detik. Lalu Sindy mengatakannya dengan nada orang yang sudah berdiri sambil menyambar tas. "Jangan ke mana-mana. Aku turun sekarang. Bilang di mana."