Empat belas hari berlalu di panti tanpa peristiwa yang layak dicatat, dan itu sendiri adalah hadiah. Qenna berangkat naik bis pukul enam dan pulang pukul lima. Mualnya mereda pelan-pelan sampai ia bisa menghabiskan sepiring nasi dengan lauk apa saja, dan kontrol bulanan di klinik mengatakan semuanya sehat.
Hari Minggu itu panti ramai sejak pagi. Ibu Aisyah menyebutnya "makan siang bulanan", tradisi yang tidak mengenal hujan ataupun panas, di mana semua anak duduk melingkar di tikar panjang di halaman depan, makan nasi dengan lauk yang lebih mewah dari biasanya. Donatur-donatur datang dan pergi. Sejak pagi Qenna ikut mengiris tahu dan menyusun piring plastik, meski Ibu Aisyah sudah dua kali menyuruhnya duduk.
"Kak Qenna, ada mobil!" seru anak laki-laki sembilan tahun yang giginya sudah tumbuh separuh.
"Mobil siapa?"
"Mobil hitam. Turun bapak-bapak. Itu bapak yang bawa kardus tempo hari!"
Qenna menaruh pisau. Ada perasaan tidak enak yang menjalari tengkuknya sebelum ia sempat berdiri, dan ia berjalan ke teras depan dengan langkah yang ditenang-tenangkan. Sedan hitam itu terparkir di bawah pohon di seberang gerbang. Dua orang berseragam kemeja putih sedang menurunkan kardus-kardus dari bagasi: beras, minyak, mi, susu. Dan di depan mereka, mengenakan kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku, berdiri Armand.
"Pak?"
Armand menoleh. Untuk sepersekian detik, ia terlihat seperti orang yang tertangkap basah, lalu raut itu memudar menjadi sesuatu yang lebih rapi. "Selamat siang, Qenna."
"Bapak ... kenapa ke sini?"
"Jadwal lama." Ia merogoh map dari tangan salah seorang stafnya dan memperlihatkan selembar daftar. Nama panti ini tercetak di baris keempat dengan bolpoin biru. "Perusahaan menyalurkan bantuan ke sembilan panti dan yayasan tiap kuartal. Panti ini masuk daftar bantuan kami sejak dua tahun lalu, sebelum kamu bekerja di sini." Ia menutup map. "Saya tahu ini panti tempatmu pulang. Karena itu hampir saya serahkan ke Hans saja. Tapi memindahkan jadwal hanya karena kamu ada di sini, itu justru terasa lebih aneh daripada datang."
"Sindy sudah bilang hari Jumat. Saya hanya tidak mengira Bapak benar-benar turun sendiri."
"Hans memang mengabari lewat Sindy, supaya kamu bisa meminta saya diganti." Armand tidak berkelit. "Saya ingat janji saya. Ini jadwal perusahaan, dan saya tidak mau Ibu Aisyah kehilangan bantuannya. Bantuan ini hak Ibu Aisyah, tanpa ada hubungannya dengan perasaan saya." Ia berhenti, sadar akan kalimat terakhirnya. "Maksud saya, dengan urusan kamu dan saya. Kalau kamu berubah pikiran, saya pulang sekarang."
Qenna ingin tetap kesal, tetapi senyum kecil lolos begitu saja. "Pak, kalau Bapak masih mau memperbaiki kalimat itu, Bapak boleh masuk dulu."
"Boleh?"
"Tamu ibu panti selalu boleh masuk, Pak." Ia berbalik. "Tapi tolong jangan duduk di dekat saya."
***
Ibu Aisyah menerima tamu itu di tangga teras, dengan tangan bersedekap dan mata yang tidak melewatkan satu detail pun. Ia menatap sepatu Armand, jam tangannya, cara ia menyerahkan map dengan dua tangan, dan caranya menolak teh pertama lalu menerima teh kedua karena dipaksa.
"Jadi Anda yang menolong Qenna," katanya.
"Qenna yang menolong dirinya sendiri, Bu. Saya hanya atasannya."
"Hanya atasan." Ibu Aisyah mengulang tanpa nada. "Yang hanya atasan, tapi mau datang sendiri membawa beras dan susu ke panti anak buahnya."
Armand menunduk, bukan karena malu, melainkan karena menghargai. "Saya tidak punya jawaban yang cukup pantas untuk itu, Bu."
"Bagus, karena Ibu tidak sedang mencari jawaban." Ibu Aisyah menurunkan suara hingga hanya mereka berdua yang mendengar. "Anda tahu keadaannya?"
"Saya tahu dia sedang mengandung dan sedang berpisah dari suaminya, Bu. Selebihnya saya tidak bertanya, kecuali dia sendiri yang bercerita."
"Dan niat Anda?"
"Memastikan dia dan kandungannya tidak sendirian di tempat kerja. Itu saja." Armand menatap lurus. "Kalau itu terlalu banyak, Ibu boleh menyuruh saya pulang sekarang."
"Ibu tidak menyuruh siapa pun pulang sebelum makan." Ibu Aisyah berdiri dan menepuk kain bajunya. "Ibu mencari tahu apakah lelaki ini bisa duduk di lantai tanpa bertanya di mana kursinya. Ayo, makan."
Di halaman depan, tikar panjang sudah terhampar. Anak-anak menoleh serempak ketika lelaki asing yang tinggi dan rapi itu melepas sepatunya, menaruhnya berjejer di pojok, dan duduk bersila di antara mereka tanpa seorang pun menyuruh.
"Bapak yang bawa dus ke gerbang waktu itu ya?" Andin langsung bertanya, mata menyipit seperti penyidik. Ia duduk persis di hadapan Armand. "Waktu Kak Qenna pindahan."
Seisi tikar mendadak diam. Qenna, yang sedang mengisi piring di ujung, nyaris menjatuhkan sendok nasi.
"Betul." Armand tidak berkelit. "Bapak yang bawa."
"Kok cuma sampai gerbang?"
"Karena Kakakmu tidak mengizinkan lebih jauh."
"Kenapa?"
"Pertanyaan bagus." Armand mengambil nasi dari piring yang disodorkan salah satu anak. "Sebaiknya kamu tanya kakakmu sendiri."
Tawa pecah. Seorang anak perempuan kecil memanjat naik ke pangkuan Armand tanpa diundang, merebut sepotong ayam goreng dari piringnya, dan menggigitnya sambil menatap lelaki itu seolah ia kakek yang baru datang dari jauh. Armand, yang tadinya kaku seperti patung, mulai melunak. Ia membiarkan anak itu makan dari piringnya. Ia menanggapi pertanyaan tentang mobil, tentang pekerjaan, tentang apakah di kantornya ada kolam renang. Pada pertanyaan kelima ia tertawa, benar-benar tertawa, kepala sedikit mendongak, suara yang dalam dan hangat dan sama sekali bukan suara atasan.
Qenna memperhatikan dari ujung tikar. Tangannya berhenti menyendok.
"Kak, jangan terlalu lama menatap," bisik Andin yang tiba-tiba sudah duduk di sebelahnya. "Nanti Ibu lihat."
Qenna mengalihkan mata, wajahnya hangat. Dari seberang tikar, di bawah tatapan yang tak pernah berhenti menimbang, Ibu Aisyah hanya menyuap nasi pelan-pelan, seolah tidak ada yang ia lihat sama sekali.
***
Di rumah lain, pagi sesudah malam foto itu, Alin sudah menyiapkan sarapan sebelum Rafa keluar kamar: roti panggang, telur, kopi tanpa gula. Ia menaruhnya satu per satu di meja makan rumah mereka dan duduk di seberang, hanya sejauh itu.
"Soal kemarin ...." Rafa mencoba.
"Makan dulu, Mas." Alin mengolesi rotinya sendiri tanpa menatap. "Nanti dingin."
Tiga kali Rafa membuka mulut, tiga kali Alin menggeser piring selai ke arahnya, sopan seperti menutup pintu. Sampai pintu depan menutup di belakang Rafa, tak sepatah kata pun tentang foto itu terucap.
Dua minggu kemudian ia masih belum menyinggungnya. Pada suatu malam ia membuka tagihan ponsel suaminya, menyalin satu nomor telepon yang muncul berulang tiap Senin ke secarik kertas, melipatnya kecil, dan menyimpannya di antara halaman buku. Belum sekali pun ia menggunakannya.
***
Dari seberang jalan, di balik kaca mobil yang digelapkan, Siska menurunkan ponselnya.
Ia sudah mengikuti sedan hitam itu sejak keluar dari kompleks rumah Armand pagi tadi. Tidak sulit. Mobil itu selalu mengambil jalan yang sama menuju tempat yang sama, dan Siska hafal rute kebiasaan lelaki yang pernah ia tinggali atap yang sama selama tiga tahun. Yang tidak ia duga adalah tempat tujuannya. Panti asuhan. Hari Minggu. Lengkap dengan beras, susu, dan tikar di halaman.
Layar ponselnya menampilkan foto terakhir yang ia ambil lewat gerbang yang terbuka lebar, sebelum kaca ia naikkan lagi: Armand duduk bersila di tikar halaman depan, seorang bocah perempuan di pangkuannya, kepala mendongak, mulut terbuka dalam tawa lepas.
Di pesta pernikahan mereka dulu, Armand tersenyum untuk tamu dan tertawa untuk kamera, rapi dan terukur, sama seperti Siska sendiri. Tidak ada yang pernah lepas dari sana.
Tiga tahun. Siska menghitungnya dalam hati dan tidak mampu menemukan satu pun hari di antara tiga tahun itu di mana Armand tertawa begitu.
Ia menggeser ke foto sebelumnya. Perempuan bergamis kebiruan, Qenna, yang berdiri menyerahkan piring, menunduk dengan rona yang tak bisa ia pura-pura tidak lihat. Siska memperbesarnya. Bukan Qenna yang membuat jemarinya berhenti di layar, melainkan arah pandangan Armand di foto sebelahnya: tertuju ke ujung tikar, ke piring yang sedang diisi, tidak lagi ke bocah di pangkuannya.
Gerakan di teras panti menarik matanya. Seorang perempuan paruh baya berkerudung krem berdiri di sana, bahunya tegak. Pandangannya tidak mengarah ke halaman. Pandangannya lurus melintasi jalan, tepat ke kaca gelap mobil Siska, seolah kaca itu transparan.
Perempuan itu tidak melambai, tidak bergerak. Ia hanya menatap, lama.
Siska menyalakan mesin dan menarik persneling mundur. Di spion, perempuan berkerudung krem itu belum bergerak sedikit pun dari teras.