Pukul enam lewat sepuluh, lobi kantor masih lengang. Lantai marmernya mengilap dan berbau pewangi lemon, jenis bau yang biasanya membuat Qenna mual, tetapi pagi ini ia menahannya dengan menarik napas lewat mulut. Ia sengaja memakai seragam cleaning servis lengkap supaya petugas keamanan tidak bertanya macam-macam.
"Loh, Mbak Qenna? Katanya sakit," ujar satpam yang berjaga, membuka pintu samping. "Masih pucat itu."
"Sudah mendingan, Pak. Ada yang perlu saya selesaikan sebelum jam kerja." Qenna tersenyum tipis. "Pak Armand sudah datang?"
"Belum. Biasanya jam tujuh kurang. Mbak tunggu di atas saja."
Di lantai direktur, lorong sepi dan pantry gelap. Qenna berdiri di depan pintu ruangan itu, kedua tangan saling meremas di depan perut. Sepanjang malam ia sudah menyusun kalimat, mencoretnya, menyusun lagi. Semalam terdengar masuk akal. Sekarang, di depan pintu kayu gelap ini, semuanya menguap.
Denting lift terdengar pukul tujuh kurang sepuluh. Armand keluar dengan jas tersampir di lengan dan tas jinjing di tangan lainnya. Langkahnya terhenti begitu melihat siapa yang menunggu.
"Qenna." Alisnya terangkat. "Saya kira kamu istirahat sampai pekan depan."
"Pak, saya mau bicara. Sebelum Bapak mendengarnya dari orang lain." Suara Qenna lebih mantap dari yang ia kira. "Hanya sepuluh menit, kalau Bapak ada waktu."
Armand menatapnya sejenak. Kemudian ia membuka pintu, menahannya dengan bahu. "Masuk."
***
Armand tidak langsung duduk di balik meja. Ia menaruh tas di kursi, lalu menarik satu kursi tamu dan meletakkannya menghadap sofa, memberi Qenna pilihan tempat yang tidak mengurungnya. Perempuan itu memilih berdiri dulu, kemudian duduk di tepi sofa, di tempat yang sama saat ia sadar dari pingsan.
"Saya hamil, Pak," ujar Qenna tanpa pengantar. "Dan saya rasa Bapak sudah tahu."
"Dokter Bram mengatakannya di sini, hari Rabu." Armand menjawab jujur, rahangnya tidak berubah. "Saya tidak akan berpura-pura tidak tahu."
"Saya tahu sendiri baru semalam." Qenna meremas ujung roknya. "Mohon dengarkan sampai habis, Pak. Kalau Bapak memotong, saya takut tidak sanggup meneruskan."
"Silakan."
Maka Qenna bercerita. Ia tidak menangis, dan itu justru yang membuat Armand sulit bernapas. Qenna bercerita seperti orang membaca laporan, dengan jeda di tempat yang sama tiap kali menyebut nama suaminya. Tentang akad di depan penghulu dan malam di kamar hotel Denpasar. Tentang pagi ketika suaminya mengemas koper, membeli tiket hanya untuk dirinya sendiri, dan berjanji sekretarisnya akan menjemput. Jemputan yang tidak pernah datang. Ia membeli tiket pulang sendiri di bandara dengan uang yang tersisa, dan tiba di Jakarta justru pada hari suaminya menikah lagi.
"Janur kuning di rumah orang tuanya," katanya datar. "Saya melihatnya sendiri. Ibunya mendorong saya sampai jatuh, lalu menyuruh satpam mengusir saya. Di kantor suami saya, orang-orang tertawa. Mereka bilang saya sudah tidak perawan, dan saya tidak tahu siapa yang pertama kali menyebarkannya."
Armand tidak bergerak. Hanya sebelah tangannya yang perlahan mengepal di atas lutut, lalu dibuka kembali dengan sengaja. Ia pernah terlalu sering mengepal. Di kamar 205, di depan Robi, dan ia tidak ingin mengulang rasa itu di hadapan perempuan yang sedang berusaha tegar di sofanya.
"Beberapa hari kemudian ibunya datang ke kontrakan saya membawa amplop uang. Saya tolak. Dia menampar saya, dan bilang surat cerai akan segera keluar." Qenna menarik napas. "Surat itu memang datang, Pak. Dari ibunya, bukan dari pengadilan, dan bukan dari suami saya. Dia sendiri tidak pernah mengucapkan talak. Jadi di atas kertas saya bilang saya janda, tetapi saya sendiri tidak yakin apa saya sudah bercerai."
Ruangan itu begitu sunyi sampai suara pendingin udara terdengar jelas. Armand memandang kaca lebar di belakang Qenna, ke gedung-gedung yang baru ditimpa cahaya pagi, lalu kembali pada wajahnya.
Dalam kepalanya, ada kalimat yang hampir terucap. Tentang tiga tahun pernikahan yang tidak pernah punya apa pun untuk ditinggalkan, tentang betapa ia tahu persis seperti apa rasanya pulang ke rumah yang sudah tidak berisi siapa-siapa. Armand menelannya. Hari ini bukan miliknya.
"Dan anak itu?" tanyanya akhirnya, pelan.
"Dari malam itu. Satu-satunya malam." Mata Qenna berkaca-kaca, tetapi suaranya tidak goyah. "Saya tidak pernah bersama laki-laki lain, Pak. Saya sengaja menjelaskan karena saya tidak mau Bapak berpikir yang bukan-bukan. Dan saya tidak meminta apa pun. Saya hanya tidak mau Bapak mendengar ini dari gosip lift."
"Saya tidak percaya gosip."
"Orang kantor percaya, Pak. Mereka sudah bergunjing sejak saya pingsan di pelukan Bapak."
Armand menarik napas, dalam dan perlahan. "Qenna, dengar saya." Ia memajukan badan, kedua siku di lutut. "Pekerjaanmu aman. Saya sudah berjanji tidak akan memecatmu dan saya tidak menarik janji itu. Rahasiamu juga. Yang tahu hanya saya, Hans, Sindy, dan Dokter Bram. Hans tidak akan bicara bila saya yang minta, dan Dokter Bram terikat sumpahnya."
Bahu Qenna turun sedikit, seperti melepas beban yang sejak semalam ia panggul. "Terima kasih. Tapi tolong, Pak. Jangan perlakukan saya istimewa. Saya cleaning servis seperti yang lain. Kalau Bapak mulai membedakan, orang akan tahu."
"Baik." Armand mengangguk lambat. "Dengan satu syarat."
"Apa itu?"
"Periksa ke dokter kandungan. Akhir pekan ini, jangan ditunda. Saya tidak minta biayanya ditanggung kantor, itu urusanmu. Saya hanya mau kamu diperiksa betul-betul, bukan menebak-nebak dari test pack."
"Saya memang sudah rencana Sabtu bersama Sindy." Qenna menunduk sebentar. "Saya sengaja tidak menunggu lama. Semalam saya sudah tahu kalau saya tidak boleh menunda lagi."
"Bagus. Istirahatlah sampai Senin. Selasa kamu boleh kembali, tetapi tugasmu nanti Hans yang mengatur. Jangan menolaknya sebelum mendengar."
"Pak ...."
"Itu bukan perlakuan istimewa, Qenna. Itu aturan untuk siapa pun yang sedang diperiksa dokter." Nada Armand sengaja datar. "Kalau kamu keberatan, tanya Hans, dia hafal peraturan kantor lebih baik dari saya."
Qenna nyaris tertawa. Ia mengusap ujung matanya dengan jari yang masih dingin. "Baik, Pak. Saya dengar dulu."
"Keluargamu bagaimana? Ada yang tahu?"
"Sindy saja, dan sekarang Bapak." Qenna menggeleng. "Ibu panti yang membesarkan saya masih mengira rumah tangga saya baik-baik. Saya berbohong padanya sejak di Bali, dan saya belum tahu bagaimana mengakuinya. Tapi saya akan bilang sendiri. Dia berhak mendengarnya dari saya."
Armand bersandar ke kursi. Selama beberapa saat ia hanya memperhatikan perempuan yang duduk di sofanya, berseragam kebiruan, dengan ujung rambut masih basah oleh embun pagi. Ada satu pertanyaan yang sejak kemarin mengganjal dan ia tahu ia tidak berhak menanyakannya. Tetapi mulutnya bergerak lebih dulu.
"Siapa nama laki-laki itu?"
Qenna menegakkan punggung. Matanya yang tadi lembut berubah tenang dan dingin sekaligus. "Maaf, Pak. Saya tidak akan menyebutnya."
"Saya tidak bermaksud mencarinya. Saya hanya ...."
"Namanya tidak akan mengubah apa pun." Qenna berdiri, merapikan roknya. "Dia tidak tahu soal anak ini, dan untuk sekarang itu yang saya mau. Kalau saya sebut, Bapak akan punya wajah untuk dibenci. Saya tidak mau Bapak membenci siapa pun karena saya."
Armand menahan diri. Jemarinya mengetuk satu kali di lengan kursi, lalu berhenti.
"Baik," ucapnya. "Saya tidak akan bertanya lagi."
Qenna membungkuk sedikit dan berjalan ke pintu. Tangannya sudah di gagang ketika Armand menambahkan, tanpa menaikkan suara, "Qenna. Soal kopi pagi ini, saya buat sendiri saja."