Entah sudah berapa lama Qenna duduk di lantai kamar mandi itu. Ubin dingin merembes lewat rok rumahnya, tetapi ia tidak merasakannya. Dua test pack tergeletak di dekat kaki, garis merahnya masih sama. Sama terangnya, sama jelasnya, seolah sengaja memaksa dia membaca ulang.
Dari balik tembok terdengar televisi tetangga menyiarkan sinetron, disusul tawa ibu-ibu yang entah menertawakan apa. Gang itu hidup seperti biasa. Hanya di kamar mandi sempit ini dunia terasa berhenti, dan Qenna sadar ia sendirian. Tidak ada Mas Rafa yang bisa ia teriaki, tidak ada Mama yang bisa ia peluk. Yang ada hanya suara Ibu Aisyah di kepalanya, bertanya seperti biasa tiap ia menelepon: kamu sudah makan, Nak?
Tangannya meraba lantai, mencari ponsel yang tadi ia taruh di tepi wastafel. Jari-jarinya gemetar sampai layar harus ia tekan dua kali. Hanya satu nama yang terlintas di kepalanya.
Nada sambung berbunyi dua kali, lalu suara di seberang menyahut ceria. "Qen? Tumben malam-malam. Sudah enakan badannya?"
"Sin ...." Hanya itu yang keluar. Tenggorokan Qenna menutup, dan yang menyusul justru isak yang sejak tadi ia tahan.
"Qenna? Kamu kenapa? Qen, bicara yang jelas!" Suara Sindy langsung berubah. Terdengar kursi bergeser dan sesuatu jatuh, mungkin sendok. "Kamu di mana?"
"Di rumah. Di kamar mandi. Sin, aku ...." Qenna menggigit bibir, menarik napas panjang yang putus-putus. "Aku hamil."
Hening. Terlalu lama untuk ukuran kaget. Qenna sempat mengira sambungannya terputus.
"Tunggu di situ," kata Sindy akhirnya, pelan dan tegas. "Jangan ke mana-mana. Aku berangkat sekarang."
***
Tiga puluh lima menit kemudian terdengar ketukan di pintu depan. Qenna sudah pindah ke ruang tengah, duduk memeluk bantal dengan mata bengkak. Begitu pintu ia buka, Sindy langsung menariknya ke pelukan tanpa bicara. Rambutnya masih setengah basah, jaket dipakai terbalik. Bau sabun mandi dan hujan tipis yang menempel di bahunya menenangkan Qenna lebih dari kata apa pun.
Di tangan kirinya Sindy menenteng kantong plastik berisi bubur kacang hijau yang masih hangat dan sebotol air jahe. "Dibeli di perempatan, tukangnya hampir tutup," katanya parau, lalu meletakkannya di meja tanpa menunggu Qenna berterima kasih.
Mereka duduk berdampingan di lantai, bersandar ke sofa. Qenna menunjukkan dua batang plastik itu. Sindy menatapnya lama, lalu memejamkan mata.
"Kamu tidak kaget," ujar Qenna.
Sindy diam.
"Sin. Kamu tidak kaget sama sekali." Qenna menegakkan punggung, menatap sahabatnya dari samping. "Kamu bilang aku cuma kecapean. Waktu aku pingsan di lift, kamu bilang cuma kecapean."
"Qen, dengar dulu ...."
"Kamu sudah tahu?"
Sindy menunduk. Jemarinya memilin ujung jaket. "Dokter Bram yang bilang. Di ruangan Pak Armand, waktu kamu belum sadar. Dia periksa tensimu, dengar denyut nadimu lama sekali, lalu bilang kemungkinan besar kamu hamil muda dan badanmu sedang lemah." Sindy mengangkat wajah. "Aku berdiri di situ, Qen. Aku lihat kamu terbaring dan aku tidak tahu harus ngapain."
Qenna merasa darahnya naik ke kepala. Ia berdiri, begitu cepat sampai ruangan sedikit berputar. "Dan kamu diam? Sudah dua hari, Sindy! Dua hari aku mual, minum obat yang tidak tahu obat apa, mengira aku masuk angin, dan kamu tahu!"
"Aku takut kamu ambruk!" Sindy ikut berdiri, matanya sudah merah. "Aku bayangkan kamu mendengarnya di sofa itu, di depan Pak Armand dan Hans. Kamu baru bangun dari pingsan, Qen. Aku mau bilang sendiri, pelan-pelan, tapi tiap kali aku telepon lidahku kelu. Kamu bilang tidak suka opor ayam saja aku sudah tidak sanggup."
"Itu bukan hakmu untuk memutuskan!"
"Aku tahu." Suara Sindy pecah. "Aku salah. Marah saja sama aku. Pukul kalau mau. Tapi jangan diam begitu."
Qenna menatapnya. Kemarahan itu tinggal sebentar, lalu merosot begitu saja, meninggalkan lelah yang jauh lebih berat. Lututnya menekuk. Sindy menangkapnya sebelum ia jatuh, dan kali ini Qenna menangis keras, wajahnya terbenam di bahu sahabatnya.
"Aku tidak mau, Sin," bisiknya di sela tangis. "Aku tidak mau punya anak dari orang yang meninggalkan aku. Anak ini akan tanya mana ayahnya, dan aku harus jawab apa?"
Sindy mengusap punggungnya, tidak berkata-kata. Cukup lama.
Tangis Qenna akhirnya reda menjadi tarikan napas pendek. Ia duduk kembali, menyeka pipi dengan lengan baju. Di meja ada segelas air yang Sindy tuang tanpa ia sadari. Ia meminumnya sampai habis.
"Sin, tadi aku bilang tidak mau," katanya pelan, memandangi gelas kosong itu. "Aku bohong."
Sindy menoleh.
"Tadi di lantai, aku sempat berpikir macam-macam. Soal Rafa, soal Mama Jamilah, soal orang-orang yang bakal bilang ini anak laki-laki lain." Qenna meletakkan tangan di perutnya, ragu-ragu, seperti menyentuh sesuatu yang bisa pecah. "Tapi dia tidak salah apa-apa. Dia cuma ada. Aku tidak akan membuangnya, Sin. Aku tidak akan jadi perempuan di artikel itu."
Mata Sindy basah lagi, tetapi kali ini ia tersenyum. "Kamu tidak akan sendirian."
"Ada satu hal yang harus kamu janjikan." Qenna memutar badan menghadapnya. "Rafa tidak boleh tahu. Jangan lewat kamu, jangan lewat siapa pun."
"Qen, dia ayahnya ...."
"Ayah apa? Dia pergi tanpa alasan, lalu menikah dengan perempuan lain dua hari kemudian." Suara Qenna mengeras. "Mama Jamilah sudah memegang surat cerai. Satu kantornya sudah percaya aku sudah tidak perawan. Kalau Rafa dengar aku hamil, kamu pikir mereka akan bilang apa? Mereka akan bilang ini anak orang lain. Anak ini belum lahir saja sudah mau mereka cap bukan anaknya."
Sindy menelan ludah. Wajahnya bergulat. "Menurutku dia berhak tahu. Walaupun brengsek."
"Dia berhak apa pun, itu nanti. Bukan sekarang." Qenna meraih tangan Sindy dan menggenggamnya erat. "Aku belum kuat, Sin. Aku mau tanya kamu sebagai sahabat, bukan sebagai orang yang selalu benar. Bisa?"
Lama Sindy menatap tangan mereka yang bertaut. Akhirnya ia menghela napas. "Aku diam. Kali ini aku janji, dan kali ini betul-betul janji. Tapi kalau kamu goyah, aku akan bilang lagi."
"Itu adil."
"Dan kamu harus periksa ke dokter kandungan. Sungguhan, bukan test pack murahan." Sindy mengusap ujung mata dengan punggung tangan, berusaha terdengar biasa. "Aku temani. Akhir pekan ini."
"Iya." Qenna mengangguk. Bahunya terasa sedikit lebih ringan. "Terima kasih sudah datang. Walaupun aku masih kesal."
"Boleh kesal. Aku tahu aku pantas." Sindy bangkit mengambil dua test pack itu, membungkusnya dengan tisu, lalu memasukkannya ke kantong plastik kecil. "Ini kubuang di jalan pulang. Jangan sampai Bu Aisyah atau tetanggamu yang cerewet itu menemukannya."
Qenna tertawa lemah. Ia sudah hendak mengantar Sindy ke pintu ketika sahabatnya itu berhenti dengan satu tangan di gagang dan tidak menoleh.
"Qen. Satu lagi, supaya kamu tidak kaget dari orang lain." Suaranya rendah. "Bukan cuma Dokter Bram dan aku yang tahu. Pak Armand juga ada di ruangan itu waktu dokter bilang. Beliau sudah tahu dari hari Rabu."
Qenna berdiri kaku di tengah ruangan. Kantong plastik di tangan Sindy berkeresek pelan.
"Beliau tahu," ulangnya, nyaris tanpa suara. "Waktu aku bangun di sofa itu, beliau berdiri dan berkata aku boleh istirahat di rumah. Wajahnya biasa saja."
"Beliau tidak bertanya apa-apa padaku, Qen. Aku sudah siap dicecar, tapi tidak. Hanya satu kali beliau tanya soal suamimu, dan aku bilang kamu tidak punya suami."
"Sindy!"
"Cuma itu! Aku tidak cerita lebih." Sindy mengangkat kedua tangan. "Tapi Pak Armand bukan orang bodoh. Cepat atau lambat dia pasti menyusun sendiri."
Qenna menghitung dalam hati. Kantor, Hans, Dokter Bram, gosip lift yang sudah beredar sejak kemarin. Kalau ia menunggu, kabar itu akan sampai ke atasannya lewat mulut orang lain, dengan bumbu yang entah apa saja.
"Besok pagi aku ke kantor," katanya akhirnya. "Sebelum jam kerja, sebelum Hans datang dan sebelum ada yang lewat lobi. Aku yang bicara sama Pak Armand. Bukan dia yang menyimpulkan sendiri tentang aku."
Sindy menatapnya, separuh ngeri, separuh bangga. "Kamu baru dua jam yang lalu merosot di lantai kamar mandi."
"Makanya mumpung masih ada sisa nyali."