Tekad baru Fauzan diuji lebih cepat dari yang ia kira, dan dari arah yang sama sekali tak ia duga. Tiga hari setelah ia kembali, saat ia datang ke koperasi pondok untuk mengambil pesanan reparasi paginya, ia mendapati Pak Kasdi duduk termenung di balik meja, ditemani setumpuk buku dan kertas yang berserakan, wajahnya kusut seperti orang yang tidak tidur semalaman.
"Ada apa, Pak Kasdi?" tanya Fauzan, meletakkan tasnya.
Pak Kasdi menghela napas panjang. "Duduk dulu, Le." Ia menggeser sebagian kertas. "Aku mau jujur sama kamu, karena ini menyangkut kamu juga. Koperasi ini... lagi nggak baik-baik aja."
Fauzan duduk, perutnya mengencang. Koperasi adalah satu-satunya jalan resmi dan halal baginya untuk bekerja. Kalau koperasi bermasalah, maka—
"Pengelolaannya kacau, Le," lanjut Pak Kasdi, dan ada rasa malu di suaranya. "Aku jujur aja, aku ini tukang dagang, bukan tukang pembukuan. Catatan utang-piutang berantakan. Barang masuk barang keluar nggak kecatat rapi. Ada modal yang nyangkut di pedagang yang belum bayar, ada barang yang nggak laku numpuk di gudang. Dan yang paling parah, dana dari yayasan buat nopang koperasi lagi seret. Pondok lagi susah, donatur berkurang. Mereka bilang kalau koperasi nggak bisa muter sendiri dalam beberapa bulan, mungkin... mungkin ditutup."
Kata terakhir itu jatuh seperti batu. Ditutup. Fauzan merasakan tanah seolah bergeser di bawahnya. Kalau koperasi ditutup, pekerjaan resminya hilang. Ia akan kembali ke pilihan lama yang menyiksa: berhenti bekerja dan membiarkan ibunya tanpa nafkah, atau menyelinap keluar diam-diam seperti dulu, melanggar aturan, mempertaruhkan kursinya, hidup dalam kebohongan lagi. Persis ketika ia bertekad untuk berhenti hidup seperti itu, jalan keluarnya terancam ambruk.
Fauzan memandang tumpukan kertas di meja Pak Kasdi, dan untuk beberapa saat ia hanya merasakan kepanikan yang familier, kepanikan orang yang melihat satu-satunya tali penyelamatnya mulai berjumbai. Tapi lalu, perlahan, sesuatu yang lain bergerak di kepalanya. Ia memandang kertas-kertas itu lagi, kali ini bukan dengan panik, melainkan dengan mata yang berbeda — mata yang sudah terbiasa menghitung sejak ia kecil, mata anak tukang sol yang lebih fasih membaca harga dan ukuran daripada huruf hijaiah.
Ia menarik salah satu buku catatan utang-piutang itu, membukanya. Berantakan, betul. Tapi di balik keberantakan itu, ada pola yang bisa ia baca, sama seperti ia bisa membaca kerusakan sepatu hanya dengan memegangnya. Angka-angka yang tak tercatat rapi, tapi bisa ditata. Barang yang menumpuk, tapi mungkin bisa dijual dengan harga yang benar kalau orang tahu harga sebenarnya. Modal yang nyangkut, tapi mungkin bisa ditagih kalau ada yang telaten mencatat siapa berutang berapa.
"Pak," kata Fauzan pelan, masih menatap buku itu, "barang yang numpuk di gudang itu apa aja?"
Pak Kasdi mengangkat alis. "Macam-macam. Sandal yang nggak laku, sepatu bekas yang belum dibenerin, kain, alat tulis. Kenapa?"
"Yang sepatu bekas itu, kalau dibenerin, bisa dijual lagi, kan? Kayak pesanan grosir dulu." Fauzan menunjuk angka di buku. "Dan ini, utang yang belum dibayar pedagang ini, kapan jatuh temponya? Pak Kasdi catat nggak tanggalnya?"
Pak Kasdi menatapnya, dan perlahan kekusutan di wajahnya digantikan oleh sesuatu yang menyerupai harapan yang bercampur keheranan. "Kamu... kamu ngerti beginian, Le?"
Fauzan mengangkat wajahnya. "Bapak saya tukang sol, Pak. Tapi sebelum saya bisa baca Qur'an, saya udah bisa baca buku utang Bapak. Saya yang nyatet pelanggan, ngitung untung, nentuin harga. Itu... itu satu-satunya hal yang saya bisa dari kecil." Ia berhenti, lalu berkata, dengan keberanian yang baru, "Pak Kasdi, izinin saya bantu benahi koperasi ini. Bukan cuma nyol sepatu. Saya bisa nata pembukuannya, ngitung persediaan, nentuin barang mana yang mesti dijual, mana yang mesti ditagih. Kalau koperasi ini bisa muter sendiri, saya nggak akan kehilangan kerjaan. Dan santri-santri lain yang ikut kerja di sini juga nggak."
Pak Kasdi terdiam lama, memandang anak lima belas tahun di hadapannya yang baru saja, dalam beberapa menit, melihat lebih jelas ke dalam kekacauan koperasi daripada yang ia sendiri lihat dalam berbulan-bulan. "Le," katanya akhirnya, suaranya pelan, "selama ini aku ngira kamu cuma anak yang lemah hafalan tapi rajin nyol sepatu. Ternyata..." Ia menggeleng, tersenyum lelah. "Ternyata otakmu itu mahal, Nak. Sayang banget kalau cuma dipakai mukul paku."
Fauzan tidak tahu harus menjawab apa. Sepanjang hidupnya, ia merasa bodoh — bodoh di kelas, bodoh menghadapi ayat, bodoh menghadapi bahasa Arab yang abstrak. Setiap hari di pondok ini menegaskan bahwa ia tertinggal, kurang, tidak cukup. Tapi di koperasi yang goyah ini, di antara tumpukan kertas dan angka yang berantakan, untuk pertama kali ada orang yang memandangnya bukan sebagai anak yang lemah, melainkan sebagai anak yang berguna — bukan karena ayat, tapi karena dirinya sendiri, karena keahlian yang selama ini ia kira tak ada harganya.
"Kita coba bareng-bareng, Pak," kata Fauzan, dan untuk pertama kali sejak surat Ibu masuk rumah sakit datang, ada sesuatu yang menyerupai semangat di dadanya. Bukan keajaiban. Hanya tangan dan kepala yang berguna, menemukan tempatnya. "Kita benahi pelan-pelan. Mulai dari yang ini." Ia menarik buku pembukuan mendekat, mengambil pulpen, dan mulai menata kekacauan itu, angka demi angka, dengan tangan yang sama yang menghafal ayat dan menyol sepatu — tangan yang, ia mulai mengerti, mungkin lebih berharga daripada yang pernah ia kira.