Pagi-pagi setelah subuh, sebelum matahari benar-benar memanjat dinding asrama, Fauzan duduk di sudut perpustakaan dengan buku hafalannya terbuka dan pulpen menari di udara. Tangannya menulis ayat itu di lutut, garis demi garis, seperti Kang Soleh ajarkan. Ujung jarinya menggambar bentuk huruf yang tak terlihat, dan anehnya, dengan gerakan itu, ayat-ayat yang kemarin masih seperti pasir di genggaman kini mulai menempel.
Ia baru menyadari sesuatu pagi itu. Surat-surat di juz tiga puluh, yang dulu terasa seperti tembok tinggi tak berpintu, ternyata punya irama. Ada surat yang menutup dengan bunyi yang sama, ada yang bergulir seperti tangga turun, ada yang berhenti pendek-pendek seperti palu mengetuk paku. Otaknya yang terbiasa membaca ukuran dan jarak ternyata bisa juga membaca pola bunyi. Begitu ia menemukan bahwa ada pola, ia tak lagi menghafal kata demi kata seperti memunguti biji yang berserak. Ia menghafal jalannya. Dan jalan, baginya, jauh lebih mudah diingat daripada biji.
Kemarin ia menuntaskan satu surat penuh dalam satu sore. Hari ini ia menargetkan satu lagi, dan ketika menjelang asar ia menyetorkannya kepada Ustaz Romli tanpa tersendat, ada sesuatu yang baru di mata gurunya itu. Bukan kasihan. Bukan maklum. Sesuatu yang lebih mirip pengakuan.
"Bagus," kata Ustaz Romli, menutup mushafnya pelan. "Kelancaranmu mulai naik. Ini Fauzan yang saya kira sebenarnya ada di dalam kamu."
Fauzan menunduk, tapi di dadanya ada sesuatu yang hangat, sesuatu yang asing dan membuat ia ingin tersenyum tanpa tahu harus tersenyum pada siapa. Sepanjang hidupnya ia merasa otaknya hanya muat untuk hal-hal yang bisa dipegang. Sekarang, untuk pertama kali, ada yang tidak bisa dipegang yang berhasil ia genggam, dan rasanya seperti memiliki tangan keenam yang baru tumbuh.
Malam itu Komar memergokinya tersenyum-senyum sendiri saat menyusun sandal di rak kamar. "Kenapa kamu, Zan? Senyum-senyum kayak orang menang lotre."
"Nggak apa-apa," jawab Fauzan, lalu, karena tak bisa menahan, ia menambahkan, "Hari ini setoranku lancar. Beneran lancar. Nggak nyangkut sama sekali."
Komar menepuk bahunya. "Tuh kan. Aku sudah bilang kamu nggak bodoh. Cuma butuh waktu. Bapakku selalu bilang, becak yang berat itu bukan karena penumpangnya gendut, tapi karena rodanya belum dilumasi. Kamu cuma kurang lumasan, Zan. Sekarang sudah dilumasi."
Fauzan tertawa, tawa yang sudah lama tak keluar dari dadanya. Tapi di tengah tawa itu, matanya jatuh ke buku kedua yang tergeletak di samping buku hafalan. Buku Pesanan. Halaman terakhirnya penuh: tiga pasang sepatu sekolah hak copot, satu sepatu kerja yang solnya menganga, dua sandal jepit pejabat desa yang minta dijahit ulang. Pak Kasdi menitipkannya kemarin lewat tukang sayur yang lewat pondok, dan tumpukan itu menunggu di kotak kayu di bawah ranjangnya.
Senyumnya memudar sedikit.
Karena begini kenyataannya: setiap sore, setelah zuhur, ada dua setengah jam yang dijadwalkan Ustaz Farid untuk reparasi. Tetapi pesanan tak pernah cukup diselesaikan dalam dua setengah jam. Selalu ada satu sepatu yang lemnya belum kering, satu jahitan yang harus diulang, satu sol yang harus dipres semalaman dengan batu bata. Dan setiap kali ia melebihkan waktu sedikit demi sedikit, waktu itu dicuri dari tempat lain. Bukan dari tidur, kali ini ia berusaha menjaga tidurnya. Tapi dari hafalan.
Pagi ini ia lancar karena tadi malam ia sempat mengulang. Tetapi tadi malam ia hampir tak sempat, karena harus mengepres dua sol sekaligus dan menunggu lemnya mengeras. Hafalan baru terasa seperti pintu yang akhirnya terbuka, dan justru di saat pintu itu terbuka, ada tangan lain yang menariknya untuk tidak masuk.
Ia duduk di tepi ranjang dan memandang dua buku itu berdampingan. Buku Hafalan dan Buku Pesanan. Dua tubuh dalam satu tubuh. Dua janji dalam satu napas. Ustaz Farid pernah berkata bahwa jadwal itu dibuat justru supaya keduanya muat. Tetapi Ustaz Farid menghitung dengan jam dinding, sementara Fauzan menghitung dengan lem yang tak mau kering tepat waktu dan ibu yang batuknya tak mau menunggu jadwal.
Malam makin larut. Komar sudah tidur, napasnya berat dan teratur. Burhan di ranjang seberang membaca mushaf di bawah senter kecil, bibirnya bergerak tanpa suara. Fauzan menatap langit-langit kamar nomor tujuh, dan untuk pertama kali sejak hasil ujian keluar, ia merasakan kembali bayangan yang familiar itu: bahwa kemajuan yang baru saja ia rebut tidak gratis, bahwa di balik pintu yang terbuka selalu ada lorong yang lebih panjang, dan bahwa ia belum boleh terlalu senang.
Tetapi ia memilih, malam itu, untuk menyimpan rasa senangnya sebentar saja. Hanya sebentar. Ia menutup matanya dan mengulang dalam hati surat yang tadi ia setor dengan lancar, membiarkan iramanya menidurkannya seperti ombak yang dulu menidurkannya di kampung pesisir. Besok lorong panjang itu akan menunggu. Tetapi malam ini, pintu telah terbuka, dan ia ingin merasakan terbukanya pintu itu sedikit lebih lama sebelum lelah datang lagi menjemput.