Bus reyot itu menurunkan mereka di mulut jalan desa yang masih basah embun. Fauzan turun lebih dulu, memanggul tas ransel hitam yang resletingnya sudah ditambal benang nilon, lalu menunggu ayahnya yang turun pelan-pelan sambil memegangi pegangan pintu. Kaki Pak Sahal sedikit pincang sejak bertahun-tahun jongkok memperbaiki sepatu orang. Di tangan kanannya tergantung kantong kresek berisi sepasang sandal jepit baru, masih ada label harganya.
"Itu buat kamu pakai sehari-hari," kata Pak Sahal, menyerahkan kresek itu. "Sandalmu yang lama sudah tipis."
Fauzan menerimanya tanpa bicara. Sepanjang lima jam perjalanan dari kampung pesisir, ayahnya nyaris tak banyak omong. Hanya menatap ke luar jendela, sesekali menghela napas seperti orang yang menelan sesuatu yang pahit. Fauzan kira mereka akan ke rumah saudara. Ayahnya bilang ada urusan penting di Jawa bagian dalam, dekat gunung. Fauzan tidak pernah ke gunung. Ia hanya kenal laut, pasir, dan bau amis jaring yang dijemur.
Di pertigaan, sebuah gapura batu menyambut mereka. Di atasnya terbentang tulisan yang dicat hijau: Pondok Pesantren Tahfizh Darul Hidayah. Di bawahnya ada kalimat Arab yang Fauzan tidak bisa baca. Dari balik tembok terdengar suara orang mengaji bersahut-sahutan, ratusan suara anak laki-laki melagukan ayat yang sama, naik turun seperti ombak. Fauzan berhenti melangkah.
"Kita mau ke mana, Pak?"
Pak Sahal tidak menjawab. Ia merapikan kerah bajunya yang sudah kusut, lalu berjalan masuk ke arah pos jaga. Fauzan mengikuti, perutnya mulai terasa aneh. Ada firasat yang tidak enak, seperti waktu ia masih kecil dan ibunya mengajaknya ke puskesmas tapi tidak bilang akan disuntik.
Seorang santri muda di pos jaga menyalami ayahnya dengan takzim, lalu mempersilakan mereka duduk di kursi plastik di bawah pohon mangga. Pak Sahal duduk. Fauzan tetap berdiri.
"Pak," suara Fauzan turun jadi setengah bisikan. "Ini pondok. Kenapa kita ke pondok?"
Ayahnya menatap tanah. Lama. Lalu, dengan suara yang dipaksa tenang, ia berkata, "Kamu yang akan tinggal di sini, Le."
Fauzan merasa ada batu jatuh ke dalam dadanya. "Tinggal?"
"Menghafal Qur'an. Sampai khatam."
Dunia di sekeliling Fauzan tiba-tiba terasa miring. Suara tadarus yang tadi terdengar merdu kini menjelma jadi bunyi yang asing dan mengancam. Ia menatap ayahnya, menunggu kalimat itu dibatalkan, menunggu ayahnya tertawa dan bilang ini cuma gurauan. Tapi Pak Sahal tidak tertawa. Tangannya yang penuh kapalan dan noda lem itu meremas-remas lutut sendiri.
"Kenapa baru ngomong sekarang?" Suara Fauzan bergetar. "Kenapa nggak dari rumah, Pak?"
"Karena kalau Bapak ngomong dari rumah, kamu nggak akan mau ikut."
Jujur sekali, dan justru itu yang membuat Fauzan ingin marah sekaligus menangis. Ia membayangkan ibunya di rumah, yang melepas keberangkatannya dengan menyelipkan bekal nasi di tasnya. Apa ibu tahu? Apa semua orang tahu kecuali dirinya?
"Aku nggak hafal apa-apa," kata Fauzan. "Aku cuma lulus SD, itu pun mengulang. Aku nggak bisa baca Arab cepat. Aku nggak—"
"Bapak tahu."
"Terus kenapa—"
"Karena Bapak punya utang." Suara Pak Sahal pecah sedikit di ujungnya. Ia mengusap wajah dengan telapak tangan kasar. "Bukan utang uang. Utang budi. Dulu, waktu kamu masih bayi, usaha Bapak hampir habis. Orang nggak ada yang mau benerin sepatu lagi, semua beli baru yang murah. Bapak hampir jual rumah. Yang nolong Bapak waktu itu Kiai pondok ini. Beliau kasih modal, nggak minta dibalikin. Bapak waktu itu bernazar di depan beliau, Le. Bapak bilang, kalau Allah kasih Bapak anak laki-laki, anak itu akan Bapak masukkan ke sini, akan menghafal Qur'an sampai khatam, sebagai tanda terima kasih."
Fauzan terdiam. Angin menggugurkan satu daun mangga ke pangkuannya.
"Itu nazarmu, Pak," katanya akhirnya, pelan. "Bukan nazarku."
Kalimat itu menggantung di udara. Pak Sahal tidak membantah. Ia hanya menunduk lebih dalam, dan untuk pertama kalinya Fauzan melihat punggung ayahnya tampak begitu kecil, begitu tua. Marah yang tadi membuncah di dadanya jadi tertahan di tenggorokan, berubah jadi sesuatu yang lebih sakit, sesuatu yang tidak punya nama. Ia ingin berteriak bahwa ini tidak adil. Bahwa ia bukan barang yang bisa dijanjikan. Tapi ia juga melihat tangan ayahnya gemetar, dan ia tahu, kalau ia menolak sekarang, ayahnya akan menanggung malu seumur hidup di hadapan orang yang pernah menyelamatkannya.
Santri muda tadi kembali, mengabarkan bahwa pengurus sudah siap menerima. Pak Sahal berdiri, merapikan tas Fauzan di bahu anaknya sendiri, seolah dengan begitu ia bisa menebus sedikit dari apa yang sedang ia ambil.
"Bapak nggak punya apa-apa buat diwariskan ke kamu, Le," bisiknya. "Cuma ini. Kata orang, hafalan Qur'an itu warisan yang nggak bisa dicuri maling, nggak bisa kebakaran, nggak bisa kena rob."
Fauzan tidak menjawab. Di kampungnya, rob memang sering naik ke rumah-rumah saat air laut pasang, membawa pergi apa saja. Mungkin ayahnya benar. Tapi saat ini, yang Fauzan rasakan hanyalah bahwa sesuatu sedang diambil darinya, bukan diberikan.
Mereka berjalan ke ruang tamu kantor. Di gerbang dalam, Pak Sahal berhenti. Ia tidak diizinkan masuk lebih jauh; wali santri hanya sampai sini. Ia memandang anaknya lama, lalu mengulurkan tangan. Bukan memeluk, hanya bersalaman, canggung, seperti dua orang asing yang baru kenal. Telapak tangan ayahnya kasar dan dingin.
"Yang rajin, Le," katanya. Suaranya hampir tidak terdengar. "Maafkan Bapak."
Fauzan ingin menjawab. Ingin sekali. Tapi yang keluar dari mulutnya hanya anggukan kaku. Ayahnya berbalik dan berjalan pincang menuju jalan, kantong kreseknya sudah pindah ke tangan Fauzan. Sekali, dua kali, Fauzan menunggu ayahnya menoleh. Tapi punggung itu terus menjauh, makin kecil, lalu hilang di tikungan.
Di belakang Fauzan, gerbang pondok masih berdiri kokoh, dan suara ratusan anak mengaji terus mengalir tanpa henti, sama sekali tidak peduli bahwa baru saja ada satu anak lagi yang ditinggal di ambangnya, memegang sepasang sandal jepit baru dan janji yang bukan miliknya.