Hujan turun tipis pada pagi pernikahan.
Pengelola kebun memindahkan sebagian kursi ke bawah atap kaca, tetapi tidak menutup dua pintu masuk. Daun basah membuat warna hijau lebih gelap. Di tengah jalur terdapat meja kayu kecil untuk akta, dua pena, dan kotak tempat cincin.
Maira bersiap di ruang baca bersama Ningsih dan Aira. Pakaiannya berwarna gading dengan garis biru tua pada lengan, cukup sederhana untuk dikenakan lagi. Tidak ada kerudung yang menutupi wajah. Rambutnya ditata oleh Ningsih setelah mereka menonton petunjuk dua kali dan gagal sekali.
'Miring,' kata Aira.
'Kepalamu yang miring,' jawab Ningsih.
Maira melihat mereka melalui cermin dan tertawa. Suara itu membuat ruangan terasa seperti tempat biasa, bukan ruang tunggu keputusan besar.
Aira memakai cincin lamanya pada rantai di dalam pakaian, bukan di jari. Ia dan Bima masih tinggal terpisah. Mereka datang bersama, tetapi mempunyai kendaraan pulang masing-masing. Maira tidak bertanya kapan keadaan itu akan berubah.
Di sisi lain kebun, Rendra bersiap bersama Malik dan seorang rekan arsitek. Bima tiba lebih awal, melapor kepada petugas pengawas melalui aplikasi, lalu duduk di kursi baris ketiga. Ia tidak masuk ke ruang persiapan Rendra sampai Rendra sendiri mengundangnya.
Kedua saudara itu berjabat tangan. Bima memberi sebuah buku kosong yang dijilidnya di bengkel.
'Bukan buku keluarga,' katanya. 'Kalian isi sendiri.'
Rendra menerima tanpa membuka halaman pertama. 'Terima kasih sudah mengikuti batasnya.'
Bima memahami yang dimaksud bukan hanya aturan pengawas. Ia mengangguk dan kembali ke kursinya.
Laras datang tanpa rombongan. Maya membawa payung sendiri. Nadia dan Malik tidak memakai seragam. Para pekerja studio duduk bersama beberapa pengelola Ruang Pulih. Tidak ada korban yang diperkenalkan berdasarkan nomor proyek. Pagi mengirim kartu dari tokonya, sedangkan Senja dan Biru memilih tidak terlibat. Pilihan ketiganya dibacakan kepada siapa pun.
Ketika waktunya tiba, Maira berdiri di pintu timur. Rendra berada di pintu barat. Mereka dapat saling melihat melintasi kebun. Petugas pencatat bertanya sekali lagi melalui pendamping masing-masing apakah keduanya ingin masuk.
Maira menjawab ya.
Ia berjalan tanpa diantar. Ningsih dan Aira mengikuti beberapa langkah di belakang, lalu mengambil kursi. Dari pintu seberang, Rendra juga berjalan sendiri. Jalurnya lebih panjang dan ia tiba beberapa detik setelah Maira. Tidak seorang pun menganggap keterlambatan itu pertanda buruk.
Mereka berdiri berhadapan, tidak di depan keluarga mana pun. Petugas menjelaskan bahwa akta hanya mencatat keputusan hari itu. Ia tidak memindahkan kepemilikan nama, tubuh, pekerjaan, atau masa lalu.
Rendra membaca janjinya dari selembar kertas.
'Aku tidak berjanji selalu tahu cara menjagamu. Aku berjanji bertanya, mendengar jawaban, dan menerima ketika jawabanmu bukan yang kuharapkan. Aku akan mengingat bahwa cinta tidak memberiku kunci untuk setiap pintumu.'
Maira memegang kertasnya sendiri, tetapi tidak melihatnya ketika berbicara.
'Aku tidak berjanji melupakan siapa dirimu ketika kita bertemu. Aku memilih hidup bersamamu karena kau berhenti meminta masa lalu menjadi alasan untuk memiliki masa depanku. Aku akan berkata ya saat ya, tidak saat tidak, dan belum saat aku belum tahu.'
Hujan mengetuk atap kaca. Tidak ada musik yang menutupi jeda setelah janji.
Petugas bertanya kepada Maira dengan nama lengkapnya. Ia menjawab tanpa suara bergetar. Pertanyaan yang sama diberikan kepada Rendra. Setelah keduanya menyatakan setuju, mereka menandatangani akta pada ruang masing-masing.
Kolom nama setelah perkawinan tetap Maira Savitri. Kolom Rendra tetap Rendra Adiprana. Status baru tercatat tanpa menghapus identitas lama. Petugas memperlihatkan layar sebelum menyimpan.
'Periksa setiap huruf,' kata Maira.
Rendra mendekat, tetapi tidak membaca untuknya. Maira memeriksa namanya, nomor identitas, tanggal, serta kode akses. Semuanya benar. Rendra memeriksa bagiannya. Baru setelah itu mereka menekan persetujuan pada perangkat yang berbeda.
Cincin dipasang setelah petugas meminta izin. Rendra mengulurkan tangan dan menunggu. Maira mengangguk. Ketika gilirannya, Maira bertanya meskipun Rendra sudah mengulurkan jari.
'Boleh?'
'Boleh.'
Mereka berciuman singkat. Tepuk tangan terdengar tanpa aba-aba.
Tidak ada sesi penyerahan saham atau pidato tentang penyatuan dua keluarga. Laras memberi ucapan selamat setelah Ningsih. Ia memeluk Rendra, lalu bertanya kepada Maira apakah berjabat tangan cukup. Maira memilih pelukan singkat. Laras tidak menahannya lebih lama.
Maya menyerahkan hadiah berupa laporan bahwa seluruh akses keluarga pada data perkawinan telah dinonaktifkan. Hadiah itu tidak dibungkus. Maira memeriksa nomor audit dan mengucapkan terima kasih. Setelahnya Maya memberikan mangkuk keramik buatan sendiri untuk tempat cincin. Keduanya tertawa karena hadiah kedua terasa jauh lebih cocok untuk sebuah pernikahan.
Nadia memberi pena yang pernah dipakai menandatangani koreksi pertama Maira. Tintanya sudah habis dan ujungnya rusak, tetapi Maira menerimanya sebagai benda sejarah. Ia tidak memakai pena itu pada akta baru. Masa depan tidak harus ditulis dengan alat yang sama seperti perjuangan lama.
Bima menunggu sampai Aira memastikan jalur kosong. Ia berdiri dua meter dari Maira.
'Selamat,' katanya. 'Aku tidak akan mengambil waktumu.'
'Terima kasih sudah datang sesuai kesepakatan.'
Itu seluruh percakapan mereka. Tidak ada permintaan maaf tambahan pada hari pernikahan. Bima kembali ke kursinya dan kemudian makan bersama Aira di meja yang sama dengan Malik.
Hidangan berasal dari katering koperasi pekerja lama Nawasena. Mereka dibayar penuh, bukan diminta menyumbang demi sejarah. Kue kecil dihias dua garis yang bertemu di tengah tanpa melebur menjadi satu. Ningsih menyebut simbol itu terlalu serius, lalu mengambil potongan terbesar.
Saat hujan berhenti, para tamu berjalan di kebun. Nadia menunjukkan kepada Maira foto pintu timur yang terbuka. Ia menawarkan menghapus jika Maira tidak suka. Maira meminta salinan resolusi penuh untuk album pribadi dan versi tanpa wajah untuk pengelola kebun.
Tidak ada wartawan di luar. Satu fotografer portal mencoba meminta konfirmasi melalui pesan, dan pengacara membalas bahwa informasi catatan sipil akan tersedia menurut prosedur biasa. Maira tidak perlu bersembunyi, tetapi ia juga tidak wajib mempertontonkan hari itu.
Menjelang sore, petugas menyerahkan dua salinan akta. Maira menyimpan miliknya dalam map biru. Rendra menyimpan miliknya dalam tas berbeda. Buku kosong pemberian Bima diletakkan di antara mereka untuk dibawa pulang.
Di halaman pertama, Maira menulis tanggal dan satu kalimat: hari ini tidak ada seorang pun menyerahkanku.
Rendra membaca setelah Maira mempersilakan. Di bawahnya ia menulis: hari ini aku datang dari pintuku dan bertemu denganmu di tengah.
Mereka pulang ke rumah sewaan, bukan hotel milik keluarga. Tidak ada kamar khusus pengantin. Di depan pintu, Rendra mengeluarkan kunci sendiri. Maira melakukan hal yang sama, lalu tertawa ketika keduanya mencoba membuka bersamaan.
'Kau dulu,' kata Rendra.
'Tidak. Hitung tiga.'
Pada hitungan ketiga, satu kunci berputar. Pintu terbuka dari luar karena mereka memilih pulang, dan nanti tetap dapat dibuka dari dalam oleh siapa pun yang ingin pergi.