Tiga hari setelah lamaran, sebuah portal bisnis memuat foto cincin Maira.
Foto itu diambil saat ia membayar kopi. Judulnya menyebut pewaris Adiprana akan menikahi janda yang pernah mengguncang Nawasena. Tidak ada wartawan yang bertanya apakah Maira pernah menyetujui dua sebutan itu.
Ningsih menemukan berita tersebut lebih dulu dan mengirim tautan tanpa tangkapan layar. Maira membaca satu paragraf, lalu menutupnya. Jari yang memakai cincin terasa berat sesaat, bukan karena ia menyesali jawaban kepada Rendra, melainkan karena dunia kembali mencoba menulis status sebelum ia menyelesaikan dokumennya sendiri.
Rendra menelepon dari proyek perpustakaan.
'Aku baru melihat beritanya. Aku bisa meminta bagian hukum mengirim keberatan.'
'Bagian hukum siapa?'
Rendra terdiam. 'Benar. Bukan perusahaan. Kau ingin melakukan apa?'
Maira memilih mengirim permintaan koreksi melalui pengacaranya. Ia tidak menuntut berita lamaran dihapus. Portal itu wajib mengganti istilah janda dengan namanya dan mencantumkan bahwa pernikahan belum berlangsung. Bila foto tetap dipakai, sumber serta hak keberatan harus ditulis.
Portal memperbaiki judul sore itu. Permintaan wawancara datang setelahnya. Maira menolak semua. Rendra pun tidak memberi keterangan terpisah yang dapat menjadikannya penerjemah keputusan Maira.
Keesokan harinya, portal mengirim bukti bahwa foto diperoleh dari agen lepas. Agen tersebut tidak menyimpan lokasi atau waktu pengambilan setelah keberatan diterima. Maira meminta catatan penghapusan, bukan nama fotografer untuk dipermalukan. Pengacaranya juga mengirim panduan singkat kepada pengelola kebun agar staf tahu siapa yang boleh mengambil gambar. Pencegahan itu dibayar dari anggaran acara mereka sendiri, bukan sumber daya perusahaan.
Ningsih mengusulkan cincin dilepas sementara agar tidak memancing perhatian. Maira menolak, lalu mengakui ia sempat mempertimbangkannya. Ia tidak ingin keputusan memakai atau melepas benda kembali dibuat oleh ketakutan terhadap sistem. Hari berikutnya ia pergi tanpa cincin karena sedang memakai bahan kimia restorasi. Dua keputusan yang berbeda itu sama-sama miliknya.
Kebocoran tersebut mempercepat satu pembicaraan yang belum selesai: bagaimana mereka menghadapi perhatian setelah menikah. Mereka duduk di meja dapur dengan daftar yang pernah ditempel di lemari. Rendra tidak akan memakai foto pernikahan untuk profil kelompok arsitek. Maira tidak berkewajiban menghadiri rapat keluarga Adiprana. Pernyataan publik, bila diperlukan, harus disetujui dua orang dan hanya berisi hal yang memang milik bersama.
'Kalau orang bertanya apakah kau memaafkan keluargaku?' tanya Rendra.
'Aku akan bilang pertanyaannya salah. Menikah denganmu bukan putusan banding untuk mereka.'
'Kalau mereka bertanya apakah aku menyelamatkanmu?'
'Jawab bahwa aku punya pengacara yang lebih galak daripada kau.'
Rendra tertawa. Ketegangan di bahunya turun, tetapi ia tetap menuliskan jawaban serius di bawahnya: tidak ada narasi penyelamatan.
Seminggu kemudian, dua pengacara membawa versi final perjanjian pranikah ke ruang rapat kecil di perpustakaan. Tidak ada perwakilan keluarga atau perusahaan. Dokumen itu menyatakan aset sebelum perkawinan tetap terpisah, rekening bersama dibatasi untuk kebutuhan yang disepakati, dan utang usaha tidak berpindah tanpa persetujuan tertulis.
Studio Aksara Pulih beserta seluruh arsip klien tetap milik Maira. Rendra tidak memperoleh akses kerja, suara pengelolaan, atau hak memakai data studio. Saham Rendra dan kewajiban yang melekat padanya tetap menjadi miliknya. Bila saham itu menghasilkan pembagian, penggunaan untuk rumah bersama harus diputuskan setiap kali, bukan dianggap otomatis.
Bagian keputusan medis memberi mereka hak mendampingi, bukan menguasai. Daftar orang yang dapat menerima informasi tetap ditentukan masing-masing. Bila salah satu tidak mampu memberi keputusan, surat kehendak medis berlaku lebih dahulu daripada pendapat pasangan.
Klausul perpisahan tidak memuat hukuman karena mengakhiri hubungan. Barang bersama dinilai, deposit rumah dibagi, dan masing-masing mendapat waktu pindah yang wajar. Tidak ada larangan berbicara tentang pengalaman pribadi. Kerahasiaan hanya berlaku pada data klien, kesehatan, serta dokumen yang sejak awal bukan milik bersama.
Pengacara Maira menunjuk halaman terakhir. 'Kalian sudah menerima salinan dua puluh satu hari. Apakah ada tekanan untuk menandatangani hari ini?'
'Tidak,' jawab Maira.
'Tidak,' jawab Rendra.
'Apakah salah satu meminta saya mempercepat karena tanggal acara?'
Maira menoleh kepada Rendra. Tanggal kebun tersedia sebulan lagi, tetapi undangan belum dikirim.
'Tidak,' kata mereka hampir bersamaan.
Maira menandatangani lebih dahulu pada salinannya. Rendra menandatangani salinan terpisah. Kedua pengacara bertukar dokumen untuk pemeriksaan, lalu memberikan masing-masing satu salinan asli. Tidak ada tepuk tangan.
Maira memperhatikan dua tanda tangan pada lembar pengesahan. Nama mereka berdampingan, tetapi tidak ada panah yang mengubah satu menjadi milik yang lain. Ia menyimpan dokumen di tas sendiri.
Sesudah rapat, mereka berjalan ke kebun perpustakaan. Pengelola menunjukkan jalur dari dua pintu menuju area tengah. Satu jalur sedikit lebih panjang karena melewati pohon tua. Rendra mengusulkan ia mengambil jalur panjang agar mereka tiba bersamaan. Maira mengingatkan bahwa upacara tidak perlu gagal jika salah satu datang lebih lambat.
'Aku tahu,' katanya. 'Aku hanya sedang menghitung langkah.'
'Berhenti menghitung aku.'
Rendra mengangguk. 'Baik. Kita datang dengan kecepatan masing-masing.'
Mereka memilih tanggal tanpa mengumumkannya ke media. Undangan dikirim kepada empat puluh dua orang. Setiap undangan menyebut nama Maira Savitri dan Rendra Adiprana dengan ukuran huruf sama. Tidak ada nama orang tua di bagian atas, tidak ada logo Nawasena, dan tidak ada permintaan hadiah.
Bima menerima undangan melalui pengawas. Kehadirannya diizinkan selama ia tidak mendekati Maira tanpa persetujuan. Ia membalas bahwa ia akan datang bersama Aira dan duduk di tempat yang ditentukan. Maira membaca jawaban itu dua kali sebelum berkata ya. Ia tidak mencabut larangan umum; ia membuat izin khusus untuk ruang, jam, dan tujuan tertentu.
Laras meminta satu kursi tambahan untuk penasihat keluarga. Rendra menolak. Maya meminta tidak ditempatkan di meja kehormatan karena memang tidak ada meja kehormatan. Nadia menawarkan membantu menjaga pintu dari wartawan, tetapi Maira memilih petugas kebun yang biasa menangani acara.
Daftar tamu diperiksa untuk memastikan tidak ada orang yang masih terikat perkara atau larangan kontak. Pengacara menemukan satu pegawai lama yang diundang rekan Rendra sebagai pendamping. Orang itu pernah menjadi saksi administratif, tetapi tidak terlibat pelanggaran. Maira diberi pilihan dan menyetujui setelah membaca ringkasan, bukan setelah didesak menjaga kesopanan.
Mereka juga menetapkan bahwa foto kelompok tidak wajib. Setiap tamu mendapat penanda kecil untuk memilih boleh difoto, hanya boleh dari belakang, atau tidak boleh sama sekali. Fotografer menghafal warna penanda dan diuji saat latihan. Bagi Maira, pengaturan itu sama pentingnya dengan bunga atau makanan.
Dua hari sebelum tanggal yang dipilih, Maira mengalami mimpi tentang kamar 408. Ia bangun dengan napas pendek dan melihat cincin di mangkuk samping tempat tidur. Rendra terjaga, tetapi tidak menyentuhnya.
'Kau ingin aku di sini atau keluar sebentar?' tanyanya.
'Di sini. Jangan bicara dulu.'
Mereka duduk sampai napas Maira teratur. Pagi harinya, ia menelepon konselor, lalu pergi bekerja. Ia tidak membatalkan pernikahan karena mimpi. Ia juga tidak menganggap mimpi itu ujian yang harus dikalahkan.
Malam terakhir sebelum upacara, mereka tidur di rumah yang sama dan kamar yang sama. Tidak ada larangan bertemu pengantin. Maira memeriksa pakaian, akta, dan salinan perjanjian. Rendra memeriksa prakiraan hujan serta akses kursi roda. Setelah semua selesai, keduanya meletakkan daftar di meja.
'Besok kita masih boleh berhenti,' kata Rendra.
'Ya.'
'Besok kita juga boleh lanjut.'
Maira mematikan lampu. 'Itu yang kupilih sekarang.'