Nama Sari terlalu umum untuk menjadi identifikasi.
Malik mencari apakah anak AS-000 pernah mendaftarkan nama itu, tetapi tidak menemukan akta, sekolah, atau rekam medis. Catatan klinik hanya menyebut ia menolak dipanggil nol setelah mulai bicara.
Gita mengenali gambar. Ia mengingat anak yang selalu menggambar empat perempuan: Marlina, Gita, Lestari, dan dirinya sendiri. Huruf S kemungkinan nama yang dipilih anak, bukan nama lahir.
'Kami tetap memanggilnya Nol di register,' kata Gita. 'Bahkan setelah dia bilang namanya.'
'Siapa mengajarinya meniru tulisan?' tanya Malik.
'Marlina menyuruhnya menyalin label obat. Saya menganggap itu permainan.'
Gita menulis pengakuan bahwa ia pernah memakai kemampuan Sari untuk menyalin tanda tangan kepala klinik. Ia tidak tahu anak itu kemudian ditempatkan di ruang arsip. Ketidaktahuan kembali lahir dari tidak pernah bertanya ke mana seseorang pergi.
Peti ke Pulau Halimun diperiksa sampai lapisan kayu. Tabung oksigen kosong memiliki ruang rahasia untuk token serta pelapis wajah. Satu ruang memuat tiket kapal atas nama Maira untuk keberangkatan berikutnya.
Foto tiket bukan wajah Maira. Pelaku memakai wajah Lestari dan sistem tetap menerima karena data ibu serta anak pernah disatukan dalam arsip studio. Kesalahan lama hubungan keluarga berubah menjadi verifikasi perjalanan.
Sistem pelabuhan membandingkan titik wajah tanpa memeriksa usia. Data Lestari tersimpan sebagai kontak keluarga Maira dan diberi bobot tinggi ketika foto utama dianggap buram. Penerus sengaja mengunggah gambar beresolusi rendah agar algoritma mencari kerabat.
Vendor mengatakan fungsi keluarga dibuat untuk membantu lansia yang fotonya berubah. Tidak ada persetujuan pengguna bahwa wajah kerabat boleh menjadi pengganti. Badan pelabuhan menonaktifkan fungsi dan meminta audit seluruh tiket yang lolos melalui kecocokan keluarga.
Dua puluh tiga perjalanan perlu diperiksa. Tidak semua palsu; beberapa penumpang benar-benar salah unggah foto lalu diverifikasi manual. Setiap kasus dinilai tanpa membatalkan perjalanan sah secara massal.
Badan pelabuhan membatalkan tiket tanpa menghapus reservasi. Kursi dipantau, tetapi tidak seorang pun muncul. Di ruang tunggu, petugas menemukan koper dengan pakaian ukuran Maira dan surat seolah ia hendak melarikan diri setelah memalsukan warisan.
Surat memakai tanda tangan baru dari berkas koreksi. Isinya mengaku Maira mengetahui Aira sejak awal dan bekerja sama dengan Bima mengambil saham. Pengakuan palsu disiapkan sebelum disebarkan ke publik.
Kertas berasal hotel Adiprana dan memuat sidik cetak dari Kamar 408. Teks disusun memakai potongan kalimat Maira di sidang, sehingga pilihan katanya terdengar dekat tetapi terlalu legal. Satu istilah, penerima aktif, hanya pernah ia ucapkan kepada pengacara.
Pengacara memeriksa ruang pertemuan lama dan menemukan mikrofon di lampu meja. Perangkat dipasang sebelum penjagaan diperketat. Rekamannya telah dikirim melalui kabel listrik, bukan jaringan yang diaudit.
Maira meminta semua klien yang pernah memakai ruang itu diberi tahu. Percakapan mereka mungkin ikut terekam meski tidak terkait Penerus. Firma hukum setuju melakukan pemberitahuan tanpa menunggu tuntutan.
'Kalau mereka tidak bisa menjadikanku wali, mereka akan menjadikanku pelaku,' kata Maira.
Pengacaranya meminta salinan forensik dan menyiapkan bantahan, tetapi tidak menerbitkan surat sebelum pelaku menggunakannya. Menjawab bukti yang belum publik justru dapat mengungkap apa yang polisi temukan.
Kapal ke Pulau Halimun tetap berangkat. Penumpang diperiksa memakai dokumen normal, bukan digeledah karena wajah mirip Maira. Dua petugas berpakaian biasa mengawasi kursi dan ruang muatan.
Di tengah perjalanan, alarm pada peti arsip berbunyi dari gudang bea yang sudah dijaga. Alat di dalam register mencoba terhubung dengan perangkat di kapal. Sinyal penerima berasal dari loker awak, tetapi lokernya kosong saat dibuka.
Seseorang telah menempelkan penerima di dinding belakang. Kabel menuju kamera penumpang dan mengunduh wajah setiap orang yang berjalan ke dek. Penerus mungkin mencari wajah baru atau memantau siapa yang mengikuti.
Kapten memutus perangkat tanpa mematikan kamera keselamatan lain. Tidak ada alasan mengembalikan kapal dan membahayakan jadwal penumpang. Di Pulau Halimun, tim lokal memeriksa sesuai surat izin.
Aira menawarkan daftar jalur Purnama di pulau. Ia pernah tinggal dua minggu di rumah penampungan dekat dermaga. Nadia menerima peta tertulis dan menolak Aira ikut operasi.
Aira menandai satu rumah sebagai tempat anak tanpa akta belajar menulis nama sementara. Pengajar menyuruh mereka mencoba nama berbeda sampai ada yang cocok dengan dokumen donor. Aira memilih namanya sendiri di sana, tetapi Ratih kemudian menyimpannya tanpa akta.
'Aku tidak ingat siapa yang mengajar,' katanya. 'Dia selalu berada di balik kain.'
Ahli trauma membantu menyusun ingatan tanpa menunjukkan foto tersangka. Aira mengenali suara ketukan dan bau minyak sarung tangan. Detail itu mendekati Saras, tetapi ingatan masa kecil tidak cukup untuk identifikasi.
Kirana memastikan keterangan Aira tidak memengaruhi klaim pernikahannya secara otomatis. Membantu pencarian bukan pembayaran untuk memperoleh saham.
'Aku tahu jalan yang tidak masuk denah,' kata Aira.
'Gambarkan dan jelaskan. Tubuhmu tidak harus menjadi peta.'
Aira menggambar tiga rumah, sumur, dan gudang garam. Ia memberi nama orang yang pernah membantu tanpa menyebut mereka pelaku. Seorang nelayan bernama Umar biasa membawa obat dan mungkin mengenali perahu Penerus.
Umar ditemukan bekerja di pelabuhan. Ia mengenali bentuk perahu dari gudang Purnama Linen sebagai milik Sari, perempuan yang membeli bahan bakar tunai dan tidak pernah menunjukkan wajah sama dua kali.
'Bagaimana Anda tahu orangnya sama?' tanya Malik melalui panggilan.
'Dia selalu menolak sarung tangan karet. Tangannya dibungkus kain berminyak.'
Umar pernah mengantar Sari ke mercusuar tua. Ia mengatakan perempuan itu menyimpan buku orang-orang yang dibuat mati dan berjanji mengembalikan nama mereka setelah satu keluarga besar jatuh.
Umar menerima uang untuk perjalanan dan tahu Sari menggunakan pelat kapal berbeda. Ia tidak pernah melapor karena Sari membiayai obat istrinya. Bantuan itu nyata sekaligus membeli diam.
'Apakah dia pernah membawa orang yang tidak mau ikut?' tanya Malik.
'Dua kali saya melihat penumpang dibius. Dia bilang mereka pasien.'
Umar tetap berangkat. Pengakuannya membuka pemeriksaan pengangkutan tanpa persetujuan. Istrinya tidak dijadikan tersangka karena menerima obat yang tidak tahu sumbernya.
Log bahan bakar Umar menunjukkan perjalanan ke mercusuar tiga hari lalu. Sari membawa satu peti tipis yang dapat memuat register AS-000.
Rumah penampungan di peta Aira sudah kosong. Di dinding terdapat jadwal kapal dan foto studio. Tidak ada jejak baru selain kuitansi makanan dua hari lalu.
Kuitansi menggunakan akun program konsultasi Studio Aksara Pulih. Seseorang mendaftar sebagai korban AS-000 dan meminta sesi dengan Maira minggu berikutnya.
Sistem konsultasi biasanya meminta nomor identitas agar jadwal tidak disalahgunakan. Setelah pengalaman Aira, Maira menambahkan jalur tanpa nomor bagi orang yang belum punya dokumen. Penerus memakai jalur itu secara sah sebagai pemohon, lalu menyisipkan kode pelacak pada lampiran.
Teknisi menghapus kode tanpa menutup jalur anonim. Pengguna berikutnya menerima nomor acak dan berkas dibuka luring. Perlindungan tidak boleh dibatalkan hanya karena satu pelaku memanfaatkannya.
Permintaan sesi memuat pilihan nama kosong. Pada kolom kebutuhan, pemohon menulis pemulihan akta dan penyerahan bukti. Maira membaca sebagai dua proses terpisah: hak memilih nama dapat dilayani, bukti harus diserahkan kepada penyidik.
Nama yang dipakai pada formulir bukan Sari.
Ia menulis: Saya ingin memilih nama saya sendiri di hadapan Maira Savitri.