Studio tidak langsung dibuka ketika lokasi Keisha muncul.
Pegawai dievakuasi melalui kedai seberang. Maira menyerahkan kunci dan denah ruang bawah, lalu menunggu bersama mereka. Ia tidak masuk untuk membuktikan tempat itu miliknya.
Tim menemukan pintu ruang bawah terkunci dari dalam. Kamera serat dimasukkan melalui saluran. Keisha terbaring di dekat meja dengan tangan terikat, tetapi dadanya bergerak. Tidak terlihat orang lain atau kabel peledak.
Dokter taktis melihat darah mengering di pelipis dan meminta pembukaan dipercepat. Petugas tetap memeriksa gagang, lantai, serta kemungkinan perangkap sebelum memotong engsel. Waktu tambahan empat menit dicatat agar keputusan keselamatan dapat diaudit setelahnya.
Keisha ditemukan terikat memakai kabel mesin wajah. Simpul berada di depan tubuh dan mungkin dapat dibuat sendiri, tetapi cedera kepala berasal dari benda tumpul dengan sudut yang tidak dapat ia capai mudah. Tidak ada kesimpulan sebelum pemeriksaan medis.
Di saku seragamnya terdapat kartu memori bertuliskan jika aku berbohong, lihat versi mesin. Keisha tampaknya menyiapkan rekaman untuk melindungi keterangannya atau menawar posisi.
Petugas membuka setelah bahan berbahaya dinyatakan aman. Keisha sadar, mengalami luka kepala ringan, dan dibawa ke rumah sakit dalam penjagaan. Keping G tidak berada di tubuhnya.
Lantai di bawah meja memiliki panel baru. Di dalamnya terdapat perangkat pencetak pelapis wajah, daftar pelanggan, serta wadah token kosong. Satu saluran sempit menuju gang belakang terbuka. Seseorang pergi sebelum tim tiba.
Daftar pelanggan memakai kode, tetapi ukuran wajah dan tanggal pesanan dapat dibandingkan. Ada cetakan untuk pejabat catatan sipil, staf bank, petugas keamanan, serta tiga orang keluarga Adiprana. Beberapa wajah mungkin dipakai untuk uji, bukan kejahatan yang sudah terjadi. Nadia meminta setiap dugaan diperiksa melalui akses nyata.
Mesin menyimpan limbah polimer dari produksi terakhir. Warna kulit cocok Maira. Cetakan dibuat pagi itu dari pemindaian resolusi lebih tinggi daripada data catatan sipil yang ditemukan sebelumnya. Sumbernya kemungkinan kamera ruang rapat saat Maira menolak hak suara palsu.
Dengan demikian, penampilan publik Maira dalam proses koreksi justru dicuri untuk membuat wajah baru. Pengadilan diminta mengaburkan rekaman berikutnya tanpa menghalangi berita acara.
Keisha meminta pengacara dan pemeriksaan medis sebelum memberi keterangan. Setelah dokter mengizinkan, ia mengaku menanam pembaca di tas serta mengirim koper lewat laundry. Ia mengatakan hendak menyerahkan G kepada Gita, tetapi Damar memerintahkannya kembali ke studio untuk menghancurkan cetakan wajah.
'Mengapa kembali setelah meminta perlindungan?' tanya Nadia.
'Dia mengirim video adik saya masuk sekolah. Saya pikir kalau mesin hancur, dia kehilangan alat untuk mendekati keluarga saya.'
'Anda sudah melihat ancaman yang sama dipakai kepada Hadi dan Mira.'
'Ya. Saya tetap menurut.'
Keisha mengatakan seorang berwajah Galih menunggunya di ruang bawah. Ia tahu itu pelapis karena tepi leher terangkat. Sosok tersebut mengambil keping G, memukulnya ketika ia mencoba merebut kembali, lalu keluar melalui saluran.
Jejak darah pada panel hanya milik Keisha. Sidik pelaku tertutup sarung tangan. Kamera gang memperlihatkan tubuh pendek dengan wajah Galih, sehingga Galih sendiri kembali tidak cocok ukuran.
Data di bawah lantai memisahkan penggunaan identitas Gendis. Gita memakai Gendis pertama untuk menyusup dan membuat audit bayangan. Aditya memakai kredensialnya dua kali untuk mengambil bukti. Keisha memakai wajah Gendis di gudang pemakaman dan beberapa pengiriman, setelah dilatih Damar.
Waktu penggunaan disusun pada dinding digital. Gita hadir selama empat bulan awal dan meninggalkan pesan peringatan kepada Lestari. Aditya memakai akun tiga tahun kemudian, terutama untuk membuka arsip yang dikunci Damar. Keisha mengambil alih setelah kecelakaan dan menghubungkan pengadaan medis.
Ada lima akses yang tidak cocok satu pun. Tinggi tubuh lebih pendek dari Gita, tidak memiliki cedera bahu Keisha, dan terjadi ketika Aditya berada dalam tahanan. Nama Gendis masih dipakai pengguna keempat atau catatan tubuh sengaja dimanipulasi.
Nadia tidak mengganti judul penyelidikan menjadi empat Gendis. Bukti yang ada baru menunjukkan identitas belum selesai dipetakan, bukan jumlah pasti orang.
Tiga orang melakukan tindakan berbeda dalam satu identitas.
Gita mengancam Mira dan mengubah sistem tanpa kewenangan. Aditya mencuri serta memalsukan verifikasi. Keisha mengambil liontin, memasang pembaca, dan membantu pemicu Proyek Janda. Damar membiayai serta menekan mereka. Pemisahan itu tidak mengecilkan jaringan; justru menunjukkan bagaimana satu nama membuat tanggung jawab mudah kabur.
Gunawan mengenali suara Keisha sebagai kurir Gita Kusuma. Siska mengenali tinggi Gita asli sebagai petugas di rumah sakit, tetapi waktu kunjungannya berbeda: Gita datang siang untuk berbicara dengan Lestari, sedangkan Keisha mengambil liontin malam hari.
Gita mengakui kunjungan siang. Lestari menyerahkan token M kepadanya untuk diperiksa, lalu meminta dikembalikan sebelum malam. Gita mengembalikan. Ia pergi saat Lestari masih sadar. Catatan dokter dan kamera mendukung.
Gita dan Ratih diperbolehkan berbicara melalui video setelah keduanya setuju. Percakapan direkam hanya pada bagian verifikasi dan tidak dibagikan kepada keluarga lain.
'Kau hidup,' kata Ratih.
'Dan kau memakai namaku.'
'Ya.'
Ratih tidak menjelaskan sebelum diminta. Gita mengatakan ia belum siap mendengar seluruh alasan. Ia hanya ingin Ratih menghentikan semua rekening serta akta Gita yang masih dipakai. Ratih setuju memberi kuasa koreksi, meski pengacaranya memperingatkan konsekuensi pidana.
'Aku tidak memaafkanmu hari ini,' kata Gita.
'Aku tidak meminta itu hari ini.'
Mereka mengakhiri panggilan tanpa janji bertemu. Hidup kembali secara hukum tidak memulihkan dua puluh delapan tahun sebagai saudari.
Maira menerima garis waktu lengkap. Ia kini tahu ibunya bertemu Gita pada hari terakhir dan tetap tidak memanggilnya. Luka itu tidak ditujukan kepada Gita sebagai pengganti semua orang lain.
'Apakah Ibu meninggalkan pesan?' tanya Maira melalui Nadia.
Gita menjawab dalam rekaman resmi. 'Dia bilang dua anaknya harus berhenti mewarisi rasa takut kami. Saya terlambat melakukan bagian saya.'
Maira tidak membalas melalui penyidik. Pesan ibunya tidak otomatis menjadi permintaan maaf yang cukup.
Pengejaran keping G berpindah ke bengkel Damar. Bengkel telah disegel sejak penahanan, tetapi satu dinding palsu belum tercantum pada denah. Gita memberi ukuran ruangan. Di balik dinding ditemukan pembaca utama dan catatan sebelas proyek janda.
Keping G tidak ada. Namun pembaca mencatat penggunaan terakhir lima belas menit setelah Keisha diselamatkan. Operator mengaksesnya dari kantor direksi hotel melalui jalur analog Kamar 408.
Hotel sedang dikunci polisi. Semua orang yang berada di lantai direksi dicatat. Galih, Rendra, dua auditor, enam petugas, dan Laras berada di ruang berbeda dengan saksi.
Pemeriksaan kartu menunjukkan satu akses petugas kebersihan dipakai saat pemiliknya berada di lantai bawah. Kartu mungkin digandakan melalui mesin Keisha. Lorong linen tidak memiliki kamera karena aturan privasi staf, tetapi sensor beban lift mencatat satu troli naik lebih berat tiga puluh kilogram daripada saat turun.
Tidak ada orang hilang dari daftar lantai. Pelaku mungkin masuk bersembunyi dalam troli dan keluar melalui poros layanan Kamar 408. Rendra memerintahkan poros ditutup setelah forensik, bukan sebelum jejak diambil.
Laras mengaku pernah memakai poros semasa hotel baru dibangun. Ia menunjukkan tuas mekanis yang tidak ada pada denah renovasi. Pengetahuan itu membantu, tetapi juga menegaskan betapa banyak akses keluarga tidak pernah masuk prosedur resmi.
Terminal mengaktifkan kamera satu detik. Gambar menampilkan seorang perempuan berwajah Maira memasukkan keping G.
Pada detik yang sama, Maira berada di kedai depan studio bersama dua puluh pegawai dan kamera berita.
Pelaku tidak hanya memakai wajahnya untuk hak suara.
Ia mulai memakai tubuh palsunya untuk mengambil alih seluruh perkara.