Kantor bantuan hukum pesisir tetap beroperasi saat pertemuan disiapkan.
Malik tidak mengusir klien atau menyamar sebagai pegawai. Direktur kantor diberi tahu ada saksi berisiko dan memilih satu ruangan yang memiliki pintu keluar ke halaman. Pengacara independen disediakan bagi perempuan yang mengaku Gita.
Nadia datang sebagai penyidik identitas. Malik memantau dari ruang lain karena perkara token terhubung koordinat Narto. Maira tidak hadir. Ia tidak memiliki hak melihat seseorang hanya karena orang itu mungkin memegang jawaban tentang kelahirannya.
Pukul sepuluh, perempuan berkerudung memasuki kantor dengan tongkat. Ia melepas penutup wajah di hadapan pengacara dan kamera yang telah disepakati. Bekas luka melintang pada alis kiri. Usianya mendekati Ratih, tubuhnya lebih kecil, dan tangan kirinya gemetar ringan.
'Nama lahir saya Gita Kusuma,' katanya. 'Negara menyebut saya mati dua puluh delapan tahun lalu.'
Sidik jarinya tidak ada dalam basis data modern. DNA cepat cocok sebagai saudari Ratih dan berbeda dari Ratih sendiri. Bekas patah tulang pada lengan sesuai surat medis klinik lama. Tiga jawaban masa kecil diverifikasi oleh pemegang terpisah.
Gita membawa gigi geraham dalam kotak kecil. Menurutnya, Ratih mematahkan gigi itu ketika mereka bertabrakan saat bermain. Dokter gigi keluarga mencatat pencabutan dan bentuk akarnya. Benda diperiksa sebagai pendukung, bukan pengganti sampel hidup.
Ahli wajah membandingkan struktur tulang dengan foto sebelum kebakaran. Usia, luka, dan operasi mengubah sebagian bentuk, tetapi titik rahang serta jarak mata konsisten. Suaranya tidak dipakai sebagai bukti utama karena seluruh perkara telah menunjukkan betapa mudah suara disalin.
Gita memilih nama itu untuk berita acara sementara. Pengacara menjelaskan ia dapat meminta pemulihan catatan sendiri tanpa otomatis mengambil kembali dokumen Ratih. Dua saudari tidak harus kembali berebut satu identitas untuk membuktikan keduanya hidup.
Hasil itu memberi keyakinan tinggi, bukan kekebalan. Nadia membacakan hak dan menanyakan apakah Gita bersedia menyerahkan sampel penuh. Ia setuju.
Gita mengaku bekerja dengan Lestari setelah kebakaran untuk menemukan anak yang identitasnya dijual. Ia mengambil keping G dari brankas Laras karena kantor Hadi telah memakai persetujuan tanpa bertemu pasien. Bersama Lestari, ia menambahkan catatan audit agar setiap perubahan meninggalkan jejak.
Selama dua tahun pertama, mereka berhasil memulihkan tiga akta. Gita mendatangi keluarga dengan nama samaran, sedangkan Lestari memperbaiki kertas yang terbakar. Mereka berhenti ketika seorang ayah menjual kembali identitas sementara anaknya untuk membayar utang. Gita ingin menyerahkan semua kepada polisi; Lestari takut Maira serta Aira ditemukan jaringan.
'Kami bertengkar malam terakhir,' kata Gita. 'Saya menuduh Lestari memilih anaknya sendiri di atas anak lain. Dia menjawab saya juga memilih Ratih dengan bersembunyi.'
Keduanya benar tentang ketakutan masing-masing dan tetap gagal membawa bukti ke lembaga yang aman. Gita hidup berpindah kota, membantu beberapa pasien, sambil membiarkan penetapan kematiannya melindungi jalan keluar.
'Mengapa mengganti keping dengan persetujuan kantor CEO?' tanya Nadia.
'Saya tidak menggantinya untuk memberi kuasa. Saya membuat jalur bayangan yang mencatat siapa mencoba mengganti. Terminal Galih dipilih karena semua persetujuan keluarga melewatinya.'
'Jalur itu kemudian menerima persetujuan palsu.'
'Karena Damar menemukan pembacanya dan menyalin kode.'
Gita mengakui memakai identitas Gendis Kurnia selama empat bulan untuk masuk sekretariat Adiprana. Ia menggunakan wajah Gina Karunia tanpa izin keluarga. Tujuannya mengumpulkan bukti, tetapi ia tetap mengambil nama orang mati dan menakut-nakuti pegawai Mira agar tidak membuka penyamarannya.
Ia memilih wajah Gina karena mengira tidak ada keluarga yang akan mencari. Ketika Nadia mengatakan anak angkat Gina menyimpan foto jam ibunya, Gita menunduk lama.
'Saya menjadikan kesepian orang lain sebagai izin,' katanya.
'Apakah keluarga Gina tahu Anda di sini?' tanya pengacaranya.
'Belum.'
Nadia menawarkan proses mediasi hanya jika keluarga menginginkan. Gita harus menghadapi tuduhan penggunaan identitas meski bukti yang dibawanya membantu korban lain. Menyerahkan diri sekarang dicatat sebagai kerja sama, bukan penghapusan empat bulan penyamaran.
'Foto anak Mira berasal dari saya,' katanya. 'Saya tidak berniat menyentuh anaknya. Ancaman tetap ancaman.'
Pengakuan itu dicatat sebagai tindakan Gita. Nadia tidak memujinya karena tujuan investigasi.
Gita mengatakan ia meninggalkan identitas Gendis setelah mengetahui Damar memindahkan pasien melalui Unit Utara. Ia menghapus aksesnya, tetapi Damar mempunyai salinan wajah, suara, dan kredensial. Sesudah itu sedikitnya dua orang memakai Gendis.
Salah satunya Aditya ketika mengambil kartu Narto. Aditya telah mengaku memakai kredensial, meski tubuh pada kamera mudah dibedakan. Yang lain perempuan muda dengan cedera bahu yang bekerja untuk vendor medis: Keisha.
'Keisha bersama Anda di perahu?' tanya Nadia.
'Ya. Dia meminta perlindungan dan membawa keping G.'
'Di mana dia sekarang?'
'Saya tidak tahu. Dia turun lebih dulu setelah melihat motor Damar.'
Gita menyerahkan foto keping G yang diambil pagi itu. Nomor goresannya cocok tanda terima lama. Keping tersebut masih asli, tetapi cangkangnya pernah dibuka dan dipasang pemancar.
Menurut Keisha, Damar memerintahkannya menanam pembaca di fasilitas Bima. Ia menurut karena Damar memiliki bukti bahwa ia memakai identitas pasien dalam pengadaan. Setelah sinyal aktif, ia menyadari sistem tidak hanya memantau Bima. Ia membaca daftar sebelas proyek lain dan takut dirinya akan dibuat mati setelah pekerjaan selesai.
Keisha pernah menjadi pasien klinik pesisir setelah kecelakaan kerja. Vendor membayar operasinya dengan syarat ia memakai akta pasien yang tidak pernah kembali. Damar kemudian menunjukkan akta palsu itu setiap kali membutuhkan akses. Keisha menerima gaji besar dan beberapa kali merekrut orang lain, jadi posisinya tidak hanya sebagai korban pemerasan.
Gita memperlihatkan pesan Keisha yang menawarkan daftar proyek sebagai imbalan identitas baru. Gita menolak membuatkan nama dan hanya menawarkan pengacara. Pertemuan di gudang berlangsung tegang. Keisha akhirnya menyerahkan foto G, tetapi mempertahankan keping asli sebagai jaminan.
'Saya mengerti mengapa dia takut menyerahkan satu-satunya benda yang membuat orang mau mendengar,' kata Gita. 'Saya juga hidup begitu puluhan tahun. Itu tidak membuat cara kami aman.'
'Apakah Keisha memasang alat di tas dokter?' tanya Nadia.
'Dia bilang iya.'
'Itu keterangan Anda tentang pengakuannya, belum pengakuan dia.'
'Benar.'
Gita memberikan alamat bengkel tempat Damar biasa mengubah token. Ia menolak menyebut dirinya sepenuhnya korban. Selama bertahun-tahun ia mengumpulkan bukti tanpa menyerahkannya karena takut Ratih dihukum atas nama yang dipinjam.
Alamat bengkel dilengkapi sketsa ruangan dan kode pintu lama. Malik mengirim tim untuk mengawasi sebelum menggeledah, supaya orang di dalam tidak kabur melalui saluran sungai. Pembelian listrik menunjukkan mesin masih aktif malam sebelumnya.
Gita juga menyerahkan buku kecil berisi tanggal ketika Gendis dipakai setelah ia berhenti. Ia mengenali setidaknya dua gaya tulisan dan tiga ukuran sarung tangan. Catatan itu menjadi dasar memisahkan pengguna, tetapi beberapa halaman dibuat dari ingatan bertahun-tahun kemudian dan harus dibandingkan dengan log.
'Saya melakukan pada Ratih apa yang orang lain lakukan pada anak-anak klinik,' katanya. 'Saya memutuskan dia lebih aman tanpa tahu saya hidup.'
Nadia bertanya mengapa surat pertemuan mengetahui pertanyaan Ratih sebelum ditulis. Gita terkejut melihat mikrofon map. Ia mengaku menerima jawabannya dari Keisha melalui pesan. Keisha berarti memiliki akses ke siaran mikrofon dan mungkin bekerja dengan pemasangnya sebelum berbalik.
Ponsel sekali pakai Gita diserahkan. Pesan terakhir Keisha masuk enam menit sebelumnya.
Aku membawa G ke tempat semua wajah dibuat. Kalau aku tidak keluar, buka lantainya.
Lokasi yang menempel pada pesan adalah Studio Aksara Pulih.