Sidik tidak lengkap hanya memuat sebelas titik kecocokan. Jumlah itu cukup sebagai arah pencarian, belum cukup untuk memastikan orang yang sama tanpa pembanding lebih baik.
Nadia memeriksa riwayat Gendis Kurnia sebagai identitas, bukan langsung sebagai perempuan tertentu. Nomor pajaknya dibuat melalui kantor Hadi, rekening gajinya di bank bayangan, dan alamatnya rumah kosong milik Nawasena Properti. Seluruh jejak dirancang agar tampak sah selama pemeriksaan dangkal.
Foto pasien meninggal yang dipakai bernama Gina Karunia. Kesamaan inisial memungkinkan tanda tangan GK bertahan meski nama berubah. Gina adalah pasien Purnama yang benar-benar meninggal karena penyakit paru empat tahun lalu. Keluarganya tidak tahu wajahnya dipakai setelah kematian.
Nadia menemui keluarga melalui pendamping. Mereka menyerahkan foto dan sampel tanpa diminta membuktikan kesedihan. Catatan kematian Gina sah. Jadi Gendis adalah orang lain yang memakai wajah serta datanya.
Kamera kantor tiga tahun lalu terlalu buram untuk wajah, tetapi memperlihatkan kebiasaan Gendis menulis dengan tangan kiri dan mengetuk meja dua kali sebelum duduk. Enam mantan pegawai mengingat ia jarang bicara, selalu memakai sarung tangan tipis, dan sangat memahami jalur kantor CEO.
Satu pegawai bernama Mira menyimpan pesan Gendis karena percakapan mereka pernah berubah menjadi ancaman. Gendis meminta kata sandi arsip pendiri. Ketika Mira menolak, foto anaknya di halte sekolah dikirim tanpa kalimat. Mira melapor kepada kepala sif, lalu dipindahkan ke cabang luar kota atas alasan kinerja.
Galih menandatangani pemindahan itu. Ia mengatakan laporan yang diterimanya hanya menyebut perselisihan pegawai, tanpa foto ancaman. Salinan surel menunjukkan lampiran hilang sebelum sampai kepadanya. Malik memeriksa siapa yang menghapus, tetapi juga menanyakan mengapa Galih tidak pernah berbicara langsung dengan Mira.
'Saya mempercayai rantai manajemen,' katanya.
'Rantai yang berada di bawah akun Anda sendiri,' kata Malik.
Mira mendapat perlindungan dan pemulihan catatan kerja. Kesaksiannya tidak dipakai sebagai umpan untuk memancing Gendis tanpa persetujuannya.
Galih mengaku merekrut Gendis atas rekomendasi Damar.
'Mengapa nama itu tidak muncul ketika kami meminta semua staf yang punya akses?' tanya Malik.
'Dia kontrak pengarsipan, bukan sekretariat tetap.'
'Dia memakai terminal Anda.'
'Saya baru melihatnya dari log sekarang.'
Malik menunjukkan surel yang memperingatkan akses malam. Galih meneruskan surel kepada Damar dengan kalimat urus orangmu, lalu tidak memastikan akun ditutup.
'Saya pikir Damar memakai tenaga tambahan untuk audit marina.'
'Anda terus memilih tidak tahu setelah tanda peringatan muncul.'
Galih tidak membantah. Ia mungkin bukan Gendis, tetapi kelalaiannya memberi identitas palsu tempat bekerja di pusat kuasa.
Gendis menerima pembayaran resmi selama empat bulan. Dana kemudian dipindahkan ke Teduh Akhir dan rekening Gunawan. Gunawan mengaku perempuan kurir yang mengambil liontin memiliki cara berjalan sama dengan Gendis pada rekaman lama. Ia tidak pernah melihat wajah asli.
Analisis gerak dilakukan oleh dua ahli yang tidak diberi nama tersangka. Keduanya menemukan kemiripan pada panjang langkah, ayunan tangan kiri, dan kebiasaan menahan bahu kanan. Tingkat kecocokan sedang, bukan identifikasi. Cedera bahu dapat dibuat atau ditiru.
Pada satu rekaman gudang, perempuan itu lupa mengetuk meja dan justru menyentuh kusen tiga kali. Aditya mengenali gerak tersebut sebagai sinyal lama pengguna alat wajah: tanda bahwa kamera aktif. Itu menunjukkan ia terlatih dalam jaringan, tetapi belum menjawab apakah orang yang sama memakai identitas Gendis selama bertahun-tahun.
Damar menolak menjawab tentang perekrutan setelah diperlihatkan rekaman. Pengacaranya mengatakan seluruh pembayaran adalah jasa audit. Malik menambahkan dugaan penghalangan dan pemerasan Aditya berdasarkan pesan yang sudah diverifikasi, sementara identitas Gendis tetap diselidiki terpisah.
Aditya memeriksa pelapis yang ditemukan di unit penyimpanan. Polimer dibuat dengan resep awalnya, tetapi tepi mata dipotong memakai alat presisi yang hanya dimiliki dua bengkel. Satu bengkel milik Damar sudah disegel. Bengkel kedua berada di bawah Studio Aksara Pulih saat masih dikelola Danu.
Danu mengatakan ruang itu disewakan kepada teknisi bernama Gendis selama tiga bulan. Maira tidak pernah tahu karena Danu membuat perjanjian lewat perusahaan pribadinya. Pembayaran sewa masuk ke rekening yang ia sembunyikan dari pembukuan studio.
'Apa kau pernah melihat wajahnya?' tanya Nadia.
'Selalu berbeda sedikit,' jawab Danu. 'Saya pikir dia sedang menguji riasan film.'
'Kau menyewakan ruang di bawah tempat kerja tunanganmu kepada orang yang membuat wajah palsu.'
'Saya butuh uang.'
Alasan itu konsisten dengan pengkhianatan Danu sejak awal, tetapi belum membuktikan ia mengetahui target akhir.
Ruang bawah studio diperiksa. Di balik panel akustik ditemukan cetakan wajah Ratih, Maira, Lestari, dan Galih. Cetakan Maira dibuat dari foto catatan sipil. Cetakan Lestari memuat detail yang hanya mungkin diambil dari pemindaian dekat di rumah sakit.
Cetakan Galih memperlihatkan alasan namanya muncul pada sejumlah akses malam. Pemakai pelapis dapat menyamar sebagai dirinya untuk memasuki kantor atau menyetujui barang. Namun Galih juga berkali-kali membiarkan kartu dan kata sandinya dipakai staf. Bukti wajah palsu tidak otomatis menghapus kelalaiannya atau kemungkinan ia bekerja sama.
Maira meminta cetakan wajahnya ditutup sebelum pegawai studio masuk. Bukan karena malu, melainkan karena salinan tubuhnya tidak perlu menjadi tontonan. Nadia menyusun protokol pemusnahan setelah persidangan, dengan satu contoh terenkripsi dipertahankan hanya bila pengadilan memerlukan.
Cetakan Lestari membuat Maira berhenti lebih lama. Wajah ibunya tampak seperti kulit kosong tanpa mata. Ia ingin menghancurkannya, lalu memilih membiarkan petugas memasukkannya ke kantong bukti. Keputusan yang tertunda beberapa menit tetap keputusan.
Pada meja terdapat bekas dudukan tiga token. Serpihan logam cocok bagian G yang hilang. Gendis pernah mempunyai ketiga keping atau membuat salinannya di sana.
Satu buku jadwal selamat dari pembersihan. Kode pertemuan GK muncul sejak empat tahun lalu, sebelum Damar mempekerjakan Gendis di Adiprana. Kode itu kemungkinan dipakai jaringan, bukan hanya nama orang. Beberapa entri bertepatan dengan kunjungan Ratih, Damar, dan Galih secara terpisah. Tidak ada satu hari yang menempatkan mereka bersama.
Maira membaca daftar dari ruang atas setelah bukti diamankan. Studio yang dibangun ibunya dan diperluas bersama Danu memiliki ruang kerja rahasia tepat di bawah kakinya. Ia marah kepada Danu, tetapi juga kepada kebiasaan semua orang menganggap bangunan miliknya dapat dipakai tanpa sepengetahuannya.
Ia meminta teknisi memetakan seluruh lantai, saluran, dan akses. Pegawai diberi hasilnya. Tidak ada lagi kamar yang hanya diketahui pemilik lama.
Peta menemukan pintu sempit menuju saluran air yang berakhir di gang belakang. Danu membangunnya saat renovasi dan menagih sebagai perbaikan drainase. Kamera tetangga menunjukkan seseorang keluar lewat sana pada malam ancaman terhadap Lestari setahun lalu.
Sosok itu membawa map biru dan mengenakan wajah Galih. Pada waktu yang sama, Galih berbicara di konferensi yang disiarkan langsung dari Surabaya. Rekaman membebaskannya dari kehadiran fisik malam itu, tetapi membuktikan wajahnya sudah dipakai sebelum Bima dinyatakan mati.
Di dinding ruang bawah, cahaya ultraviolet menampilkan nomor telepon yang sudah dihapus. Nomor itu milik rumah peristirahatan Laras, tetapi ditulis sebelum Laras pindah ke sana. Di sampingnya terdapat jadwal pemberian obat Bima di Unit Utara.
Gendis menghubungkan klinik lama, studio, kantor CEO, pemakaman, dan tempat Bima ditahan.
Nadia mengirim ciri kebiasaan tubuhnya ke seluruh tim. Perawat Siska mengenali ketukan dua kali dari petugas administrasi palsu. Aira juga mengingat seorang perempuan Purnama yang melakukan hal sama sebelum memasuki kamar pasien.
'Dia dipanggil Bu Gita,' kata Aira. 'Ratih selalu pergi ketika perempuan itu datang.'
Ratih akhirnya meminta wawancara ulang.
'Gita bukan nama saya dalam jaringan,' katanya. 'Itu nama saudari saya.'