Penjaga pantai menemukan Karang Hening sebagai pulau kecil dengan dermaga kayu dan bekas klinik lapangan. Penduduk menyebutnya tempat singgah korban kekerasan, bukan pusat perdagangan. Mereka mengenal Yosa, Ratih, dan seorang pasien laki-laki bernama Bram.
Bram datang menggunakan tongkat, tinggal tiga malam, lalu membantu memperbaiki radio. Foto kelompok dari masa itu memperlihatkan Bima di belakang dua belas orang. Wajahnya lebih kurus, tetapi bekas luka serta bentuk telinga cocok.
Foto dibuat oleh kamera sekolah pulau dan tersimpan pada kartu asli. Bayangan matahari, data lensa, serta kesaksian tiga warga mendukung waktunya. Tidak ada jejak penyuntingan wajah.
Selena dan Rendra mengenali kemeja Bima, tetapi pengenalan keluarga bukan dasar utama. Ahli membandingkan bekas luka dengan foto medis Purnama dan menemukan pola yang sama.
Dua belas orang tersebut bukan muatan gelap yang dibawa untuk dijual. Mereka pasien Purnama yang ingin keluar dari identitas perlindungan setelah Nawasena mulai memakai nama mereka untuk rekening dan aset.
Sebagian sudah ditemukan oleh tim pengacara. Mereka tinggal dengan nama pilihan, bekerja, dan tidak ingin muncul di media. Nadia mengambil keterangan secara terpisah agar satu cerita tidak membentuk ingatan yang lain.
Semua menyebut Bima membantu mereka turun di Karang Hening. Tidak seorang pun melihat siapa mengambil Savitri Dua setelahnya. Mereka mendengar mesin menyala menjelang subuh, saat Bima sedang tidur di klinik.
Satu penumpang mengingat Bima marah ketika mengetahui akta kapal memakai nama Maira. Ia meminta Yosa menyiapkan koreksi, lalu menulis pesan suara di kabin. Penumpang lain mendengar Bima bertengkar dengan Harun tentang kapan bukti harus diserahkan.
Kesaksian mereka dibuat sebelum pengakuan Harun dipublikasikan, sehingga pertengkaran tersebut memiliki nilai lebih kuat daripada cerita yang menyesuaikan berita.
'Pesan darurat mengatakan kapal dibawa tanpa izinnya,' kata Maira. 'Jadi dia tetap di pulau?'
'Setidaknya sampai pesan dikirim,' jawab Nadia.
Pada siang keempat, Bima pergi dengan perahu nelayan menuju daratan selatan. Ia membawa satu tas, perekam, dan daftar pembeli identitas. Seorang saksi ingat perempuan bertudung menunggunya di dermaga daratan, tetapi tidak melihat wajah.
Catatan tersebut menempatkan Bima hidup empat belas bulan lalu. Jejak berikutnya belum ada.
Sementara penyidik mencari rute perahu, otoritas maritim memanggil Maira sebagai pemilik terdaftar Savitri Dua. Ada dugaan pelanggaran manifest, pemakaian pelat kapal lain, dan perjalanan tanpa transponder.
Maira datang bersama pengacara, membawa laporan pencurian identitas, transaksi Danu, dan akta dari loker. Ia tidak meminta Rendra menggunakan hubungan perusahaan untuk menghentikan pemeriksaan.
'Saya tidak pernah membeli, menaiki, membayar, atau mengoperasikan kapal itu,' katanya. 'Nama saya dipakai. Saya tetap bersedia membantu menentukan siapa yang memakai.'
Pemeriksa membandingkan tanda tangan akta dengan contoh dari studio. Secara visual sama, tetapi metadata menunjukkan persetujuan dilakukan dari perangkat Danu. Token sidik berasal dari berkas yang ia jual.
Danu memberikan keterangan tambahan. Nawasena membayar dirinya untuk membuka tautan verifikasi pada komputer studio. Ia mengira sedang menguji sistem. Tautan sebenarnya mengirim persetujuan kapal menggunakan sesi Maira yang masih aktif.
'Anda tidak membaca nama aset?' tanya pemeriksa.
'Layar hanya menunjukkan sampel pelatihan.'
'Dan ketika pembayaran besar masuk, Anda tidak meminta salinan kontrak lengkap.'
'Tidak.'
Maira dibebaskan dari kewajiban pelaporan sementara, tetapi kepemilikan belum dapat dicoret sampai kapal diperiksa. Catatan publik diberi penanda sengketa agar utang atau pelanggaran baru tidak otomatis menempel padanya.
Ia meminta salinan penanda dikirim kepada kantor pajak serta lembaga kredit. Pengalaman rekening studio menunjukkan koreksi pada satu sistem tidak otomatis bergerak ke tempat lain.
Otoritas menyarankan pengumuman publik agar calon kreditur berhati-hati. Maira menyetujui pengumuman terbatas tentang pencurian identitas, tetapi menolak rincian penumpang dan jalur kapal. Melindungi namanya tidak membutuhkan membuka orang lain.
Selama status sengketa, setiap transaksi Savitri Dua harus disetujui kustodian. Dengan begitu pelaku tidak dapat lagi memakai keterlambatan hukum sebagai izin baru.
Perubahan administratif itu lebih berguna daripada pernyataan simpati. Ia mencegah identitas palsu terus menghasilkan akibat saat perkara berjalan.
Tiga hari kemudian, nelayan menemukan Savitri Dua kandas di teluk berbatu. Nama kapal telah dicat ulang menjadi Ayu Laut, tetapi nomor rangka cocok. Lambung rusak, mesin hilang, dan kabin dibakar sebagian.
Maira hadir hanya setelah kendaraan aman. Sebagai konservator, ia diminta memeriksa dokumen basah dalam kotak kedap. Ia memakai sarung tangan dan bekerja di bawah kamera penyidik.
Air asin telah membuat beberapa tinta mengalir. Maira tidak memisahkan halaman dengan paksa. Ia membuat ruang lembap, menunggu serat lentur, lalu mengangkatnya satu per satu. Proses lambat tersebut menjaga urutan dokumen, sesuatu yang dapat hilang bila semua lembar segera dijemur.
Nomor halaman menunjukkan satu bagian sengaja diambil sebelum kapal dibakar. Daftar pembeli tidak lengkap; tiga lembar tengah hilang. Pelaku perusakan mungkin mencari nama tertentu, bukan memusnahkan seluruh arsip.
Pada tepi sobekan ditemukan serat sarung tangan biru yang sama dengan perlengkapan Unit Utara. Laboratorium belum menghubungkannya dengan orang tertentu.
Kotak berisi dua belas kartu identitas lama, masing-masing dicoret pemiliknya. Di sampingnya ada formulir permintaan pemulihan nama. Sebelas sudah ditandatangani orang yang turun di Karang Hening. Formulir kedua belas milik Bram Pradana.
Pada kolom nama yang diminta, Bima menulis Bima Adiprana.
Ia tidak ingin terus hidup sebagai Bram.
Di kabin, darah lama cocok dengan Bima dan dua pasien. Tidak ada jumlah yang menunjukkan kekerasan besar. Obat mabuk laut, makanan kering, dan jaket penyelamat mendukung perjalanan evakuasi.
Kompartemen bawah menyimpan sesuatu berbeda: tiga puluh paspor kosong, alat cetak cap, dan daftar harga identitas. Barang itu tidak tercatat pada foto kapal di Karang Hening. Seseorang memakai kapal setelah dua belas penumpang turun untuk mengangkut perlengkapan perdagangan.
Daftar harga membedakan identitas berdasarkan akses: rekening, perjalanan, properti, dan hubungan keluarga. Nama Maira berada pada kategori properti serta pasangan, dengan catatan sudah digunakan. Aira berada pada kategori tanpa akta, calon penerima.
Catatan itu menunjukkan pembeli jaringan memandang keduanya sebagai fungsi, bukan manusia. Maira meminta halaman tidak ditunjukkan kepada Aira tanpa pendamping karena bahasa tersebut dapat melukai, tetapi tidak meminta bukti disembunyikan darinya.
Sidik pada alat cetak cocok dengan Nita dan Yosa. Yosa mengakui pernah membawa mesin, tetapi mengatakan kotak seharusnya diserahkan kepada polisi melalui Bima. Nita menyangkal pernah naik kapal; sidiknya dapat berasal dari kantor Nawasena.
Sekali lagi, lokasi benda tidak otomatis menjelaskan niat setiap orang yang menyentuhnya.
Di bawah papan lantai, Maira menemukan potongan sampul buku yang dijahit Lestari. Rongganya menyimpan kartu suara tahan air. Rekaman dibuat Bima di Karang Hening.
'Maira, kapal ini memakai namamu. Aku baru tahu setelah melihat akta. Danu memberikan pintu, tetapi orang lain memilih membukanya. Aku akan menyerahkan daftar dua belas orang dan membetulkan kepemilikan setelah mereka aman.'
Bima berhenti untuk batuk. Lalu suaranya kembali.
'Aira ingin saham karena mengira uang membuat namanya nyata. Jangan lawan dia dengan menghapusnya. Tetapi jangan serahkan namamu agar dia merasa utuh.'
Rekaman berakhir dengan suara seseorang memanggil dari luar kabin. Bima menjawab satu nama.
'Sebentar, Ayu.'
Analisis suara luar menunjukkan penutur laki-laki, bukan perempuan.
Alias Ayu juga dipakai lelaki yang berada di Karang Hening saat kapal kemudian dicuri.