Akta kepemilikan mencantumkan kapal Savitri Dua, panjang dua belas meter, fungsi layanan medis pesisir. Tanggal pendaftarannya tiga hari setelah Danu menerima pembayaran kedua dari Nawasena.
Nomor identitas, alamat studio, dan tanda tangan Maira tepat. Sidik digital pada berkas berasal dari kartu registrasi biometrik yang hilang saat pembobolan.
'Aku menjadi pemilik kapal tanpa pernah melihat laut dari dekat,' kata Maira.
Nadia menyegel loker. Ia menghubungi otoritas pelabuhan agar kapal ditahan jika ditemukan, tetapi tidak menyebarkan nama Maira sebagai tersangka. Dokumen menunjukkan pencurian identitas yang sudah dilaporkan sebelum kapal terungkap.
Danu diperiksa kembali. Ia mengakui kontrak Nawasena meminta contoh penggunaan tanda tangan pada formulir aset. Ia mengira hanya simulasi pelatihan. Pada halaman kecil yang tidak dibacanya, perusahaan memperoleh izin mengirim contoh ke sistem registrasi uji.
'Tidak ada registrasi uji yang membuat kapal sungguhan,' kata Nadia.
'Saya tahu sekarang.'
'Anda tahu ada perubahan status perkawinan setelah pembayaran kedua dan tetap diam.'
Danu tidak dapat lagi memakai ketidaktahuan awal untuk menjelaskan keputusan berikutnya.
Paspor Bram Pradana memakai foto Bima setelah luka bakar, bukan sebelum ledakan. Nomornya berasal dari paspor seorang pasien Purnama yang meninggal saat bayi. Cap perjalanan menunjukkan Bram meninggalkan Marina Tiga menuju tiga pulau dan kembali dua kali.
Tinta cap pertama asli dari kantor marina. Dua cap berikutnya dicetak memakai alat portabel yang kemudian ditemukan di kapal. Bima mungkin bepergian, tetapi paspor tidak dapat dipakai sendirian untuk membuktikan ia hadir pada setiap perjalanan.
Di sampul paspor ada sidik Bima, Yosa, dan satu orang belum dikenal. Tidak ada sidik Maira. Catatan biometrik pelabuhan menyimpan wajah bertudung pada perjalanan kedua, terlalu buram untuk menentukan Bima atau orang lain.
Perjalanan terakhir tidak memiliki cap kembali.
Peta dalam loker memuat dua belas titik dengan tinta berbeda. Maira memeriksa lipatan dan menemukan setiap titik ditambahkan pada waktu terpisah. Satu garis menghubungkan Sagara dengan pulau kecil bernama Karang Hening.
Pada sisi belakang peta ada tulisan Bima: dua belas orang, dua belas nama yang harus dikembalikan.
'Apakah dua belas termasuk Aira?' tanya Rendra.
'Jangan menebak sebelum daftar ditemukan,' kata Maira.
Rendra menerima teguran. Sejak cuti dari CEO, ia tidak lagi memiliki kantor tetap. Ia membantu penyidik mengenali jalur keluarga hanya jika diminta dan menyerahkan catatan setelahnya.
Otoritas pelabuhan menemukan manifest Savitri Dua dalam arsip cadangan. Kapal melakukan enam perjalanan selama empat bulan. Penumpang ditulis dengan kode, bukan nama. BP muncul pada perjalanan pertama dan terakhir. Pengemudi menggunakan lisensi Yosa.
Setiap perjalanan membawa dua atau tiga pasien dari jaringan Purnama menuju pulau berbeda. Tidak ada barang komersial, tetapi biaya bahan bakar dibayar rekening promosi Adiprana melalui portal Ayu.
Tiga pasien memberi izin agar kode mereka dicocokkan. Mereka membenarkan diangkut untuk keluar dari jaringan, tidak dipaksa. Namun seorang mengatakan biaya pemulihannya kemudian ditagih sebagai utang kepada identitas baru. Perlindungan dan eksploitasi berjalan dalam perjalanan yang sama.
Maira meminta penyidik tidak menyebut semua pelayaran sebagai penyelamatan. Sebagian orang memang diselamatkan, tetapi utang, nama palsu, dan kepemilikan kapal tanpa izin tetap menciptakan kendali baru.
Galih menyatakan tidak pernah melihat nama kapal. Rekap yang ia tandatangani menyebut layanan kesehatan masyarakat. Keterangannya mungkin benar sekaligus menunjukkan betapa mudah biaya disamarkan di bawah kategori yang tampak baik.
Maira meminta salinan dokumen hanya setelah data penumpang disamarkan. Ia tidak ingin nama sementara mereka tersebar karena kapal terdaftar atas dirinya.
Otoritas awalnya menolak karena pemilik biasanya menerima manifest lengkap. Pengacara Maira menjelaskan bahwa status pemilik justru bagian dari penipuan. Hak akses tidak boleh dipakai untuk menembus perlindungan penumpang.
Mereka sepakat kustodian menyimpan daftar utuh, sedangkan Maira menerima kode dan waktu perjalanan. Jika ada bagian yang membutuhkan kesaksiannya, nama hanya dibuka dengan izin orang terkait atau perintah hakim.
Pengaturan tersebut menjadi contoh pertama bahwa memulihkan hak Maira tidak harus mengurangi hak orang lain.
Aira mengikuti perkembangan melalui Kirana. Ia mengaku pernah berada di Savitri Dua sekali untuk memindahkan obat, tetapi bukan salah satu dari dua belas pasien. Bima melarangnya ikut perjalanan terakhir karena seseorang mengawasi semua perempuan berwajah Maira.
'Siapa mendaftarkan kapal?' tanya Maira melalui video.
'Ayu. Aku mengira dia memakai identitas kosong dari buku Purnama. Aku baru tahu namamu setelah Bima menunjukkan akta.'
'Kau tetap naik setelah tahu kapal memakai namaku?'
Aira terdiam. 'Ya.'
'Kapan kau berencana memberitahuku?'
'Setelah semuanya aman.'
Kalimat itu telah digunakan Lestari, Bima, Rendra, Selena, dan kini Aira. Keselamatan masa depan terus dijadikan alasan mencabut persetujuan hari ini.
Kirana menyela bahwa pengakuan Aira dapat memiliki akibat pidana. Aira menjawab ia tidak ingin lagi memperoleh perlindungan dengan menyembunyikan bagian yang merugikan Maira.
Itu kemajuan, meski datang terlambat.
Kunci loker juga membuka lapisan kedua pada kotak logam. Di sana ada tiga kartu video. Kartu pertama memperlihatkan pekerja Purnama yang berbeda dipanggil Ayu pada tiga tanggal. Seorang mengurus obat, seorang pembayaran, seorang kapal.
Wajah mereka ditutup, tetapi tinggi dan suara tidak sama. Ayu Sasmita adalah peran yang dipindahkan, bukan satu perempuan.
Pada video keempat, Bima berbicara kepada seorang Ayu bertubuh lebih tinggi. 'Selena sudah datang. Maira belum tahu. Aira ingin mengambil saham. Kita kehabisan waktu sebelum semua orang memilih kebohongan yang paling menguntungkan.'
Suara Ayu menjawab bahwa dua belas pasien harus keluar sebelum identitas dibuka. Analisis awal menemukan suara itu tidak cocok dengan Selena, Aira, Ratih, atau Nita.
Harun, mantan kepala keamanan, tiba dari Makassar malam itu untuk diperiksa. Ia mengenali kode pergantian Ayu. Menurutnya, setiap bagian jaringan hanya mengenal penghubung dengan nama sama agar satu orang tertangkap tidak membuka keseluruhan.
'Siapa Ayu lapangan terakhir di Sagara?' tanya Nadia.
'Saya tidak pernah melihat wajahnya. Pesannya datang memakai token keluarga.'
'Keluarga siapa?'
'Adiprana.'
Harun menyerahkan kartu akses lama yang ia simpan setelah pensiun. Log lokalnya memuat tiga token: Galih, Rendra, dan sebuah token pendiri yang tidak memiliki nama pengguna.
Kartu tersebut disimpan melanggar aturan pemusnahan akses. Harun mengaku takut jika menyerahkannya, jalur perlindungan Ratih akan tertutup. Ia tidak pernah meminta persetujuan pasien yang namanya dipakai untuk mempertahankan jalur itu.
Nadia menyita seluruh perangkat Harun. Salah satunya memuat daftar perintah yang tidak ia akui. Ahli belum dapat memastikan apakah perangkat diretas atau Harun kembali menyembunyikan bagian cerita.
Token pendiri berada di bawah kendali Laras sebelum kebakaran klinik tiga puluh tahun lalu.
Namun catatan menunjukkan token itu digunakan dari kapal Savitri Dua empat belas bulan lalu, ketika Laras berada di rumah sakit Jakarta.