Pada bingkai terakhir, tangan perempuan itu masuk ke cahaya. Di jari manisnya ada cincin berlian yang pernah diperlihatkan Selena kepada Maira sebagai cincin pertunangan dari Bima.
Nadia menghentikan video sebelum siapa pun menyebut nama Selena sebagai kesimpulan. Cincin produksi khusus dapat memiliki salinan, gambar dapat dibalik, dan orang lain dapat memakainya.
Selena dipanggil ke ruang pemeriksaan pagi berikutnya. Ia membawa cincin berlian di dalam kotak beludru yang sama seperti saat mendatangi arsip keluarga. Benda itu tidak hilang.
Ahli perhiasan memeriksa nomor mikro pada bagian dalam. Cincin Selena adalah asli, dibuat satu buah. Goresan kecil pada sisi batu cocok dengan pantulan video Sagara.
Rekaman juga memperlihatkan noda gelap di bawah dudukan batu. Pada cincin asli, ahli menemukan sisa lumpur kaya besi yang umum di pesisir Sagara. Selena tidak pernah melaporkan cincin jatuh atau dipinjamkan.
Tanggal video berada dalam periode ketika ia masih memimpin pernyataan publik bahwa tidak ada bukti Bima selamat. Keterangan lamanya kini diperiksa sebagai kemungkinan penyesatan, bukan sekadar urusan pribadi.
'Cincin ini pernah berada di sana,' kata Nadia. 'Apakah bersama Anda?'
Selena tidak menjawab selama hampir satu menit. Ia lalu meminta pengacaranya keluar karena ingin memberi keterangan tanpa merundingkan setiap kalimat.
'Aku datang ke Sagara delapan belas bulan lalu,' katanya.
Rendra menutup mata. Maira tidak terkejut lagi oleh rahasia baru; ia hanya lelah melihat orang menunggu sampai bukti mengucapkan setengah cerita mereka.
Selena menerima pesan suara Bima empat bulan setelah ledakan. Pesan itu memakai panggilan pribadi yang tidak pernah muncul di media dan meminta ia membawa cincin sebagai bukti identitas. Ia diperintahkan datang tanpa keluarga atau polisi.
'Aku mengira seseorang mempermainkanku,' katanya. 'Tetapi jika ada kemungkinan Bima hidup, aku tidak sanggup mengabaikannya.'
Di Sagara, Selena bertemu Bima di ruang yang sama dengan video. Luka bakarnya sudah membaik. Bima meminta maaf karena menikahi Aira memakai nama Maira dan mengakui pertunangan mereka tidak dapat diteruskan.
'Dia mengakhiri hubungan kalian?' tanya Maira.
'Dia mengatakan hubungan kami sudah berakhir saat dia memilih kebohongan tanpa memberitahuku. Aku membencinya, tetapi dia benar.'
Bima tidak meminta Selena menunggu. Ia bahkan menyuruhnya mengumumkan pembatalan pertunangan bila sudah aman. Selena menolak karena pengumuman tanpa tubuh atau penjelasan akan membuat dewan bertanya mengapa ia tahu lebih banyak daripada polisi.
'Aku membiarkan publik terus menyebutku tunangan yang berduka karena posisi itu memberiku kendali atas berita,' katanya. 'Kesedihanku nyata. Manfaatnya juga nyata.'
Nadia mencatat bahwa Selena memperoleh perpanjangan kontrak PR dan suara informal dalam keluarga selama masa itu. Keuntungan tidak otomatis membuktikan ia merencanakan hilangnya Bima, tetapi harus masuk penilaian motif.
Selena tidak mengaku sebagai korban tunggal. Ia mendengarkan Bima menjelaskan bahwa daftar identitas Purnama akan dijual kepada pembeli aset. Bima ingin memindahkan bukti sebelum fasilitas diterjang banjir.
Perempuan yang dipanggil Ayu berdiri di balik kamera. Ia meminta Selena memasukkan tangan ke bingkai sambil memakai cincin agar rekaman membuktikan seseorang dari kehidupan lama Bima hadir.
'Jadi tangan itu tanganmu,' kata Nadia.
'Ya. Tetapi aku bukan Ayu. Bima berbicara kepada perempuan di belakangku.'
Selena hanya melihat bayangan Ayu pada pintu kaca. Tubuhnya sedang, rambut tertutup kain medis, dan suaranya sengaja direndahkan. Aroma minyak cengkih memenuhi ruangan, bau yang juga digunakan Lestari pada perekat konservasi.
Sebelum pergi, Bima memberikan kartu penyimpanan dan meminta Selena menyerahkannya kepada wartawan jika ia tidak menghubungi dalam tujuh hari. Ayu menahan Selena di gerbang, menunjukkan foto Maira di studio serta Aira di rumah sewa, lalu mengambil kartu itu.
'Mengapa kau diam sesudahnya?' tanya Maira.
'Aku takut mereka membunuh kalian. Dan aku takut perusahaan hancur jika diketahui kami menyembunyikan pasien.' Selena menatap tangannya. 'Ketakutan pertama nyata. Ketakutan kedua membuatku lebih mudah memilih diam.'
Ia menyimpan cincin kembali setelah pertemuan dan tidak memberi tahu siapa pun bahwa Bima hidup. Ketika Rendra akhirnya mengatakan hal yang sama setelah Rumah Purnama ditemukan, Selena tetap menunggu sampai video memaksanya.
Rendra menatapnya. 'Kau menuntutku menyerahkan semua rahasia sementara menyimpan ini.'
'Ya. Aku munafik saat mengatakan itu.'
Pengakuan tersebut tidak membatalkan tuntutannya kepada Rendra. Dua orang dapat melakukan kesalahan serupa tanpa salah satunya berubah benar.
Nadia menahan cincin sebagai bukti sementara. Debu di sela dudukan batu mengandung serat karpet Sagara dan garam laut. Waktu menempel tidak dapat ditentukan, tetapi cerita Selena mendapat dukungan fisik.
Selena juga menyerahkan kunci kuningan kecil yang diberikan Bima. Selama ini ia menyimpannya di ruang aman kantor PR. Labelnya bertuliskan M-3 dan nomor dua belas.
Rendra mengenali M-3 sebagai Marina Tiga, dermaga layanan yang dahulu memasok Sagara. Kunci itu kemungkinan membuka loker penumpang.
'Bima bilang di dalamnya ada cara mengetahui Ayu bukan satu orang,' kata Selena. 'Aku tidak pernah pergi karena kartu penyimpanan diambil dan aku takut sedang diarahkan ke jebakan lain.'
'Kau dapat menyerahkan kunci kepada polisi,' kata Maira.
'Aku tahu. Aku memilih tidak melakukannya.'
Selena mengundurkan diri dari seluruh penanganan media perkara. Ia menyerahkan arsip korespondensi, telepon lama, serta akses penyimpanan tanpa meminta kekebalan. Perusahaan menunjuk juru bicara independen yang dilarang memakai kisah cinta Bima sebagai kampanye reputasi.
Rendra tidak membela atau menghukumnya di depan publik. Ia memberikan keterangan bahwa dirinya dan Selena sama-sama menyimpan bukti pada waktu berbeda. Tanggung jawab masing-masing akan dinilai berdasarkan informasi yang dimiliki saat memilih diam.
Laras meminta bertemu Selena, tetapi perempuan itu menolak untuk sementara. Ia tidak ingin pengakuan hukum berubah menjadi percakapan keluarga yang berakhir dengan permintaan menjaga nama Adiprana.
Setelah pemeriksaan, Selena meminta bicara berdua dengan Maira. Nadia tetap berada di balik kaca dan pintu tidak dikunci.
'Apakah kau membenciku karena melihat Bima hidup?' tanya Selena.
'Aku tidak mengenalnya. Aku marah karena kau tahu akta itu dibuat oleh Aira dan tetap membiarkan orang menuduhku.'
'Aku tidak tahu namanya saat itu. Bima hanya berkata saudari Lestari.'
'Kau tetap tahu perempuan dalam video bukan aku.'
Selena menerima koreksi itu. 'Benar.'
Maira tidak menawarkan perdamaian. Ia hanya berkata bahwa keterangan Selena akan dinilai bersama bukti, sama seperti semua orang lain.
Polisi membuka Marina Tiga sore itu. Loker nomor dua belas masih terkunci dan tidak tercantum pada daftar pengelola. Kunci Selena membukanya.
Di dalam terdapat paspor atas nama Bram Pradana, peta jalur pesisir, dan akta kepemilikan sebuah kapal layanan.
Nama pemilik kapal tercetak jelas: Maira Savitri.
Di bawah akta ada polis asuransi yang menunjuk Studio Aksara Pulih sebagai alamat korespondensi. Premi dibayar dari rekening Nawasena, tetapi satu pemberitahuan pernah dikirim ke studio dan ditandatangani Danu. Ia memasukkannya ke map bank tanpa memberi tahu Maira.
Dokumen tersebut memperpanjang rantai keputusan Danu. Setelah penjualan data, ia menerima tanda bahwa identitas Maira digunakan pada aset nyata dan tetap menyimpannya.
Tanda tangannya sama dengan contoh yang dijual Danu kepada Nawasena dua tahun lalu.