Bima masih hidup setidaknya enam bulan setelah ia dipindahkan dari Rumah Purnama.
Kesimpulan itu ditulis Nadia sebagai batas bawah, bukan kepastian tentang keadaannya sekarang. Tanggal pada dinding, grafik tekanan darah, dan gelang pasien saling mendukung. Tidak satu pun menjawab siapa yang membuka Unit Utara beberapa jam sebelum polisi datang.
Teknisi lift memeriksa pembaca kartu. Akses atas nama Bima bukan dikirim dari server. Seseorang menempelkan benda fisik yang memuat chip lama keluarganya.
'Bima punya cincin akses,' kata Rendra. 'Bukan cincin safir. Cincin baja dengan lambang hotel. Barang itu tidak ditemukan setelah kapal meledak.'
'Apakah chipnya dapat disalin?' tanya Nadia.
'Model lama bisa, tetapi membutuhkan cincin asli setidaknya beberapa menit.'
Laras mengingat Bima melepas cincin baja saat makan dan sering meninggalkannya di ruang kerja. Galih, staf keamanan, pelayan keluarga, dan Selena pernah memiliki kesempatan menyentuhnya. Kesempatan tidak sama dengan tindakan.
Polisi menyita pembaca lift serta daftar chip yang pernah diterbitkan. Ada dua salinan cadangan yang tidak tercatat. Salah satunya dibuat tiga tahun lalu melalui terminal keamanan lama, sebulan setelah Bima mulai menyelidiki klinik Purnama.
Persetujuan pembuatan memakai akun kepala keamanan Harun Darma. Harun pensiun setelah ledakan dan kini tinggal di Makassar. Ia menjawab panggilan polisi, menyangkal membuat salinan, serta bersedia diperiksa. Akunnya masih aktif delapan bulan setelah pensiun.
Maira memperhatikan pola yang terus berulang: akun hidup lebih lama daripada pekerjaan, nama mati lebih lama daripada tubuh, dan akses bertahan setelah tujuan awalnya berakhir.
Panel bertulisan Bima dibawa ke ruang konservasi sementara di hotel. Maira mendampingi ahli memisahkan jelaga kebakaran baru dari noda lama. Ia menolak permintaan direksi agar kalimat segera difoto untuk pernyataan publik.
Lapisan cat menunjukkan pesan dibuat sebelum kebakaran terbaru, lalu tertutup debu sedikit demi sedikit. Pada lekukan huruf ditemukan sel kulit yang terlalu rusak untuk profil lengkap, tetapi golongan biologisnya konsisten dengan Bima.
Empat garis waktu di sudut panel tidak dibuat sekaligus. Endapan debu di antaranya berbeda, mendukung kebiasaan menghitung minggu. Kalimat terakhir ditulis sesudah garis keenam belas dan sebelum satu lapisan cat tipis sengaja disapukan untuk menyembunyikannya.
'Siapa mengecat panel?' tanya Nadia.
Daftar pemeliharaan mencatat pekerjaan dilakukan Purnama Linen, bukan kontraktor hotel. Surat kerjanya disetujui Nita melalui portal kesehatan. Pelaksana lapangan menulis nama Yosa Mahendra, setahun setelah kematiannya.
Yosa memiliki akses fisik, pengetahuan seragam, dan hubungan dengan Bima. Namun cat yang menyembunyikan pesan dapat berarti ia menolong Bima atau menutup bukti untuk penjaga.
'Kalau panel dibersihkan terlalu cepat, lapisan waktu hilang,' katanya. 'Kalian akan memperoleh kalimat bagus dan kehilangan bukti.'
Direktur operasional baru menerima keputusan itu. Untuk pertama kali, perdebatan di hotel tidak otomatis berakhir pada keinginan keluarga Adiprana.
Di Unit Utara, bekas dudukan disk kamera memberi arah lain. Sekrup bawah memiliki minyak mesin segar. Orang yang mengambil disk membawa obeng bermagnet, lalu menjatuhkan satu serpihan cat merah di lantai.
Cat tersebut berasal dari troli laundry generasi lama. Hotel sudah menjual semua troli merah kepada Purnama Linen setahun lalu, tetapi satu unit masih tercatat hilang dari gudang basement.
Kamera koridor tidak menampilkan wajah pengambil disk karena seseorang memutar lensanya ke dinding. Kamera pintu bongkar muat tetap merekam troli merah didorong menuju sebuah truk linen pukul empat sore.
Waktu pergerakan terjadi sebelas menit setelah direktur operasional mengirim pemberitahuan internal bahwa polisi menuju Unit Utara. Surel itu ditujukan kepada kepala keamanan, hukum, keuangan, dan kantor CEO sementara. Empat puluh satu orang menerima salinan melalui daftar kelompok.
Kebocoran tidak memerlukan peretas. Cukup satu penerima meneruskan kabar kepada Yosa atau orang yang memakai seragamnya.
Nadia memerintahkan semua penerima menyimpan telepon kerja. Ia tidak menyita perangkat pribadi tanpa dasar khusus. Pemeriksaan harus tetap memiliki batas meskipun informasi bocor.
Pendorongnya mengenakan topi serta masker. Tingginya hampir sama dengan Bima. Kaki kirinya menyeret sedikit saat berjalan.
Selena diminta melihat rekaman tanpa diberi tahu dugaan penyidik. Ia menonton tiga kali.
'Bima pernah menyeret kaki kiri setelah cedera selancar,' katanya. 'Tetapi ribuan orang berjalan seperti itu.'
Rendra mengenali kebiasaan lelaki tersebut memegang sisi troli dengan jari kelingking terangkat. Bima melakukan hal sama karena patah jari saat remaja. Nadia mencatat pengenalan keduanya sebagai pendapat keluarga, bukan identifikasi.
Maira memperbesar bayangan tangan pada logam lift. Cincin baja tampak di jari tengah.
'Kalau itu Bima, mengapa dia mengambil disk sebelum polisi datang?' tanya Selena.
'Mungkin dia takut pada polisi,' jawab Rendra.
'Atau seseorang tahu kebiasaan Bima dan ingin kita mengejar hantu lagi,' kata Maira.
Selena meminta video diperlihatkan sekali lagi pada kecepatan normal. Ia mencatat lelaki itu tidak menoleh ketika nama Bima dipanggil oleh pekerja di ujung lorong. Bima biasanya bereaksi cepat pada namanya, bahkan saat sedang marah.
'Mungkin dia sengaja tidak menoleh,' kata Rendra.
'Atau memang bukan dia,' jawab Selena. 'Aku tidak akan menjadikan cara berjalan sebagai pengganti wajah hanya karena ingin dia hidup.'
Untuk pertama kali, keinginan Selena dan disiplin Maira mengarah pada hal sama: menolak kepastian yang belum didukung bukti.
Truk Purnama Linen ditemukan kosong di tempat parkir pasar. Pengemudinya mengaku seorang pekerja pengganti membawa satu muatan tanpa surat jalan, lalu meninggalkan kendaraan dengan kunci masih terpasang. Kamera pasar memperlihatkan troli dipindahkan ke mobil boks abu-abu.
Pelat mobil boks terdaftar atas nama seorang pasien Purnama yang meninggal dua puluh tahun lalu.
Nadia menghubungkan kasus akses hotel dengan penyelidikan Nawasena. Ia meminta pengadilan memperluas penyitaan, tetapi tetap melarang tim menyebut lelaki bertopeng sebagai Bima sebelum ada wajah, sidik, atau DNA.
Pada malam hari, Maira kembali ke studio. Ia menemukan satu surel masuk melalui formulir pelanggan tanpa alamat pengirim. Lampirannya foto disk kamera Unit Utara di atas koran tanggal hari itu.
Ia tidak membuka lampiran pada komputer utama. Salinan dipindahkan ke perangkat pemeriksaan tanpa jaringan, sementara klien studio diberi tahu sistem sedang dirawat. Pengirim mungkin berharap rasa ingin tahu membuat Maira kembali memberi akses ke arsip pribadinya.
Nadia menemukan formulir dikirim memakai identitas seorang pelanggan yang meninggal lima tahun lalu. Alamat surelnya diaktifkan kembali pagi itu. Bahkan untuk mengirim petunjuk, pelaku memilih nama orang yang tidak dapat membantah.
Pesan hanya terdiri atas satu kalimat.
Disk ini bukan milik keluarga Adiprana, tetapi Bima meninggalkan bagian untuk kedua anak Lestari.
Di bawah kalimat ada jadwal reservasi Grand Adiprana untuk tujuh hari kemudian. Kamar dipesan atas nama Bram Pradana, identitas pasien Bima di Unit Utara.
Seseorang berencana kembali ke hotel memakai nama orang yang belum dipastikan hidup atau mati.