Maira memeriksa surat persetujuan Lestari di ruang bukti pengadilan. Tekanan pena, arah tarikan, serta kebiasaan mengulang titik pada huruf i cocok dengan tulisan ibunya. Tidak ada tanda tangan ditempel atau dijiplak.
'Ibu berada di Rumah Purnama malam itu,' katanya.
Kirana tidak menjawab lebih dari yang tercantum dalam dokumen. Ia mengatakan Aira akan memberi keterangan setelah perlindungan lokasi disetujui. Nadia meminta surat asli disita sementara dan pengadilan mengabulkan.
Maira kembali ke studio untuk mencari kalender lama Lestari. Pada tahun ledakan, ibunya menandai enam hari dengan huruf P kecil, selalu berdekatan dengan perjalanan Semarang. Hari terakhir bertepatan dengan pemindahan Bima.
Di belakang kalender terdapat kuitansi bahan konservasi atas nama Ratna Kusuma. Barang yang dibeli bukan kain buku, melainkan kertas larut air yang biasa dipakai memindahkan tulisan rapuh tanpa merusak permukaan.
Lestari mungkin membantu Ratih menyelamatkan register, atau mengajarkan cara memindahkan tanda tangan. Keahlian yang diwariskan kepada Maira juga dapat dipakai untuk menyembunyikan asal dokumen.
Di dalam kotak kalender, Maira menemukan tiket kereta atas nama Ratna Kusuma dan catatan pendek tulisan Lestari: jangan biarkan mereka memakai tanda tanganku lagi. Tanggalnya satu hari setelah pemindahan Bima.
Catatan itu tidak menjelaskan siapa mereka. Namun kalimat tersebut menunjukkan Lestari menyadari tanda tangannya pernah dipakai di luar izin, mungkin pada formulir mobil Galih atau dokumen lain yang belum ditemukan.
Maira menyerahkan tiket serta catatan kepada Nadia. Ia membuat salinan pribadi melalui prosedur resmi, bukan menyembunyikannya karena merasa itu peninggalan keluarga.
Sore itu, teknisi berhasil memulihkan sebelas menit rekaman kamera ambulans. Nadia mengundang Maira, Rendra, serta pengacara masing-masing untuk melihat salinan yang sama. Tidak ada pihak mendapat kesempatan memilih bagian lebih dahulu.
Gambar pertama memperlihatkan halaman Rumah Purnama. Waktunya dua belas menit setelah Rendra keluar untuk menelepon dokter. Yosa duduk di kursi pengemudi mengenakan seragam biru. Lestari berdiri di samping pintu belakang.
Maira mengenali mantel cokelat yang disimpan ibunya sampai meninggal. Rambut Lestari lebih panjang, wajahnya tegang, tetapi tidak ada keraguan tentang identitasnya.
Aira dan Ratih membawa Bima menggunakan kursi roda. Bima sadar. Ia menolak ketika Aira hendak memasang sabuk di dadanya, lalu Lestari membungkuk dan mengatakan sesuatu yang tidak tertangkap mikrofon.
Bima akhirnya mengizinkan mereka mengangkatnya ke ranjang ambulans.
'Rendra tidak terlihat,' kata Nadia.
'Aku berada di sisi timur halaman mencari sinyal,' jawabnya.
Rekaman kendaraan berikutnya memuat suara lebih jelas. Aira meminta Yosa menuju Klinik Seno melalui jalan utara. Ratih memberikan obat penurun demam. Lestari membaca surat persetujuan keras-keras sebelum menandatangani sebagai saksi.
Paraf RA sudah ada saat formulir diletakkan di pangkuannya.
Rekaman memperlihatkan Lestari menggosok bagian paraf dengan ibu jari, seolah menguji tinta. Ia bertanya mengapa Rendra menyetujui bila tidak berada di ruangan. Aira menjawab bahwa sistem hanya membutuhkan nomor aktif, bukan kehadiran pemiliknya.
'Siapa yang menulis itu?' tanya Maira pada layar yang tidak dapat menjawab.
Di rekaman, Bima melihat paraf tersebut dan menyuruh Aira mencoretnya. Aira menolak.
'Kita membutuhkan akses agar gerbang klinik membuka,' katanya. 'Nomor Rendra masih aktif pada sistem medis.'
'Kau memakai namanya tanpa izin,' kata Bima.
'Seperti aku memakai nama Maira agar dapat tetap hidup.'
Bima memalingkan wajah. 'Itu sebabnya semuanya harus dibetulkan, bukan diulang.'
Kalimat itu membuat Maira menahan napas. Bima mengetahui akta tersebut melukai dirinya. Ia berencana memisahkan identitas mereka, tetapi belum sempat melakukannya.
Tujuh menit perjalanan berlangsung tanpa gangguan. Kemudian layar navigasi berbunyi. Yosa mengatakan tujuan berubah otomatis. Aira memeriksa perangkat dan menyebut rute baru menuju Grand Adiprana.
'Aku memasukkan Klinik Seno,' katanya. 'Jangan ikuti arah itu.'
Yosa mencoba mengambil jalur keluar, tetapi sebuah mobil hitam memotong ambulans. Kendaraan berhenti keras. Pegangan pintu bergerak dari dalam saat Bima berusaha turun.
Seseorang mengetuk kaca pengemudi tiga kali. Yosa mematikan mikrofon depan, lalu ambulans bergerak kembali menuju hotel.
Rekaman terakhir berasal dari basement laundry. Seorang petugas berseragam biru membuka pintu belakang. Wajahnya berada di luar bingkai, tetapi kancing yang hilang dari lengan kiri cocok dengan kancing dalam ambulans.
'Pasien dipindahkan ke Unit Utara,' katanya.
Aira menolak. Terdengar pergumulan, suara Ratih memanggil nama Bima, dan Lestari berteriak bahwa tujuan sudah disepakati. Kamera dicabut sebelum siapa pun terlihat keluar.
Rendra duduk membeku. Rekaman mendukung bahwa ia tidak berada di ambulans, tetapi sistem hotel serta nomor pegawainya membuat penyergapan mungkin terjadi.
'Siapa mengendalikan Unit Utara?' tanya Nadia.
'Dulu bagian kesehatan karyawan,' jawab Rendra. 'Ruangnya ditutup setelah renovasi.'
'Di bawah wewenang siapa?'
'Direktur keuangan menyetujui anggaran, kepala keamanan mengatur akses, dan kantor CEO menerima laporan. Tiga bagian memiliki jalan masuk berbeda.'
Tidak ada satu jawaban yang langsung menunjuk Galih atau membebaskan Rendra.
Polisi menggeledah Unit Utara malam itu. Di balik ruang cuci ditemukan pintu tanpa nomor yang tertutup lemari logam. Ruangan di dalam memiliki ranjang medis, wastafel, lemari obat, dan kamera yang kabelnya sudah dicabut.
Debu menunjukkan tempat itu lama tidak dipakai, tetapi bekas perekat pada dinding menyisakan empat lembar grafik pasien. Satu potongan label terbaca: Bram Pradana.
Catatan tekanan darah berjalan selama hampir empat bulan setelah Bima dipindahkan dari Purnama. Seseorang merawatnya di bawah hotel sementara dunia menganggapnya mati.
Pada bulan kelima, grafik berhenti. Kolom pemindahan hanya memuat dua angka: 408.
Maira mengikuti lorong servis dari Unit Utara menuju lift laundry. Jalurnya berakhir pada panel belakang kamar 408, panel yang mereka gunakan untuk lolos dari kebakaran.
Di Unit Utara, penyidik menemukan empat set sidik pada lemari obat. Satu milik Yosa, satu Ratih, satu cocok dengan Lestari dari barang pribadinya, dan satu belum dikenal. Tidak ada sidik Rendra atau Galih yang dapat dipastikan.
Kamera ruangan pernah merekam ke server lokal, tetapi disknya dicabut. Dudukan penyimpanan memiliki goresan baru, mungkin dari orang yang memakai lift beberapa jam sebelumnya. Penggerak lift atas nama Bima datang untuk mengambil sesuatu yang polisi belum tahu.
Dalam saluran pembuangan ditemukan potongan gelang pasien bertuliskan B. Pradana serta tanggal masuk enam minggu setelah ledakan. Tanggal keluar tidak ada. Serat perban cocok dengan perban pada foto Purnama.
Rendra berdiri di pintu selama pemeriksaan dan tidak melangkah masuk sebelum diizinkan. Ketika melihat grafik empat bulan, ia menutup mata sebentar.
'Aku mencarinya di kota lain sementara dia berada di bawah hotelku,' katanya.
'Hotel bukan tubuhmu,' jawab Maira. 'Kau tidak dapat mengaku sebagai seluruh bangunan saat ingin menyalahkan diri, lalu hanya satu orang saat diminta bertanggung jawab.'
Rendra menatapnya. 'Apa bedanya?'
'Tanggung jawabmu adalah keputusan yang kaubuat dan sistem yang kaubiarkan. Cari itu dengan tepat. Jangan mengambil kesalahan orang lain hanya karena terdengar seperti penyesalan.'
Ia mengangguk. Untuk pertama kali, Maira tidak sedang membela Rendra. Ia sedang menjaga agar penyelidikan tidak kembali memilih satu nama untuk menanggung semua tindakan.
Di sisi dalam dinding, tertutup jelaga baru, terdapat goresan kalimat yang dibuat dengan ujung logam.
Maira, kalau kau menemukan ini, jangan biarkan mereka memakai kematianku untuk menghapus Aira lagi.
Di bawah tulisan itu ada tanggal delapan belas bulan lalu.
Ahli tulisan menganggap goresan konsisten dengan tangan Bima yang melemah pada foto, tetapi dinding harus dipotong untuk pemeriksaan tekanan dan usia noda. Maira meminta seluruh panel dilepas, bukan sekadar kalimatnya, agar jelaga serta lapisan cat tetap menjadi konteks.
Di sudut panel ada empat garis pendek yang dibuat setiap minggu. Jumlahnya enam belas, cocok dengan empat bulan grafik pasien. Garis terakhir berhenti setengah, seperti pembuatnya terinterupsi.
Tidak ada pesan yang menyatakan ke mana Bima pergi. Hanya bukti bahwa seseorang hidup cukup lama untuk menghitung waktu di ruangan tanpa nama.
Bima masih hidup setidaknya enam bulan setelah ia dipindahkan dari Rumah Purnama.