Latihan Bima sendiri jauh lebih brutal daripada apa pun yang ia berikan ke Arga.
Setiap pagi sebelum subuh, ia berlari lima belas kilometer dengan rompi pemberat. Setiap siang ia menghabiskan jam-jam di depan samsak yang dulu cuma ia jahit, kini ia hantam sampai jahitannya lepas lagi dan ia jahit lagi dan ia hantam lagi. Tubuhnya yang tiga tahun terlelap pelan-pelan bangun, otot-otot lama mengingat kembali tugasnya, kecepatan yang sempat tumpul mulai terasah.
Pak Darto memegang pad untuknya, dan lelaki tua itu meringis menahan getaran setiap pukulan Bima mendarat.
"Astaga," gumamnya. "Kamu masih punya itu. Palu yang dulu."
"Aku berkarat, Pak," kata Bima, napasnya stabil. "Refleks aku turun. Kecepatan aku turun. Tiga tahun itu mahal."
"Tapi kamu masih lebih jago dari siapa pun di gudang itu."
Bima tak menjawab. Ia tahu satu hal yang Pak Darto tak tahu: di tinju bawah tanah, teknik bukan satu-satunya yang menentukan. Di sana tak ada aturan. Tak ada wasit yang menghentikan saat lawan jatuh. Tak ada batas ronde. Yang ada hanya kemauan untuk menghancurkan dan ketahanan untuk dihancurkan.
Sore itu, Arga mengamati Bima berlatih shadow boxing. Gerakan lelaki itu seperti tarian—mengalir, presisi, mematikan. Kombinasi pukulan keluar begitu cepat sampai udara terdengar berdesir.
"Mas," kata Arga. "Boleh tanya?"
Bima berhenti, mengelap keringat. "Hm."
"Reza Mahendra. Petinju yang... yang katanya mati di ring lawan kamu." Arga ragu. "Itu beneran?"
Bima terdiam. Untuk waktu yang lama, ia tak menjawab. Lalu ia duduk di tepi ring, menatap kosong.
"Dia sahabatku," kata Bima akhirnya. "Kami latihan di sasana ini, dua puluh tahun lalu. Dua bocah miskin yang nggak punya apa-apa selain mimpi jadi juara. Kami berjanji, siapa pun yang sampai puncak duluan, bakal narik yang lain ikut naik."
Ia menatap tangannya.
"Final kejuaraan nasional. Aku lawan dia. Dua sahabat di ring yang sama, memperebutkan satu sabuk. Kami berdua tertawa sebelum bel berbunyi. Dia bilang, 'Jangan ditahan, Bim. Pukul aku kayak aku lawan beneran. Aku mau menang dari versi terbaik kamu.'" Suara Bima bergetar. "Jadi aku pukul. Versi terbaik aku. Ronde kesembilan, hook kanan. Pukulan terbaik dalam hidupku."
Ia menutup wajahnya dengan tangan.
"Dia jatuh. Dan dia nggak bangun. Selamanya."
Arga terdiam, tak tahu harus berkata apa.
"Dokter bilang ada pembuluh darah lemah di otaknya. Bisa pecah kapan saja. Tapi yang memecahkannya adalah pukulanku." Bima menurunkan tangan, matanya merah. "Tiga tahun aku tanya ke diriku sendiri tiap malam: kalau pukulanku nggak sesempurna itu, apa dia masih hidup? Kalau aku menahan sedikit aja?"
"Tapi dia minta versi terbaik kamu," kata Arga pelan.
"Itu yang bikin lebih sakit." Bima berdiri, mengusap wajahnya. "Karena aku ngasih dia persis apa yang dia minta. Dan itu yang membunuhnya."
Hening menggantung di antara mereka.
"Tapi sekarang aku naik ring lagi," lanjut Bima, suaranya mengeras. "Bukan buat tebus dosa. Dosa itu nggak bisa ditebus. Tapi buat satu hal: supaya kamu nggak ngalamin apa yang aku alami. Supaya kamu nggak jadi orang yang jatuh, atau orang yang bikin jatuh." Ia menatap Arga tajam. "Itu sebabnya kamu harus jadi kuat. Bukan biar menang. Tapi biar kamu punya pilihan. Aku dulu nggak punya pilihan selain mukul sekeras-kerasnya. Aku mau kamu punya."
Arga mengangguk, ada sesuatu yang baru di matanya. Rasa hormat. Dan pengertian.
"Mas," katanya. "Aku bakal latihan sampai mati."
Bima hampir tersenyum. "Jangan sampai mati. Cukup sampai kamu hampir mati. Itu baru namanya latihan." Ia mengambil pad. "Ayo. Combination. Kali ini kita tambah uppercut."
Malam menjelang, dan di sasana tua itu, dua jiwa yang patah pelan-pelan menempa diri menjadi sesuatu yang lebih tajam dari sebelumnya.