Hari ketiga tiba terlalu cepat.
Malam itu, sebuah mobil van hitam menjemput mereka di depan sasana. Plontos bertato leher itu yang menyetir, senyum liciknya tak berubah. "Naik, Om Juara. Bos pengen ketemu kamu."
Bima dan Arga masuk. Sepanjang perjalanan, kota berubah dari jalan-jalan ramai menjadi kawasan gudang tua di pinggir pelabuhan. Bau laut bercampur karat dan sampah. Akhirnya van berhenti di depan sebuah gudang besar yang dari luar tampak terbengkalai, tapi dari dalam terdengar gemuruh ratusan suara.
Mereka masuk. Dan dunia berubah.
Di tengah gudang, sebuah ring tinju dikelilingi ratusan orang. Bukan ring resmi—tanpa wasit yang benar, tanpa medis, tanpa aturan. Asap rokok mengepul ke langit-langit. Uang berpindah tangan di mana-mana. Di atas ring, dua lelaki saling menghantam tanpa ampun, wajah mereka penuh darah, dan kerumunan bersorak setiap kali tulang beradu dengan daging.
Arga menelan ludah. "Mas..."
"Tenang," kata Bima pelan, meski matanya waspada. "Tetap di belakang aku."
Plontos membawa mereka ke ruang VIP di lantai dua, sebuah ruangan dengan kaca menghadap ring. Di sana, seorang lelaki paruh baya duduk di kursi kulit, mengenakan setelan mahal, jari-jarinya penuh cincin emas. Wajahnya tenang, hampir ramah, dan justru itu yang membuatnya terlihat berbahaya.
"Bima Aditya," kata lelaki itu, berdiri menyambut. "Si Palu Garuda. Suatu kehormatan. Nama saya Pak Broto. Saya pemilik tempat ini."
"Saya cuma mau lunasin utang anak ini," kata Bima langsung. "Berapa pun, kita cari cara."
Broto tersenyum, duduk kembali. "Tujuh puluh juta. Itu uang besar buat tukang pel sasana." Ia menyesap minuman dari gelas kristalnya. "Tapi saya orang yang fleksibel. Saya punya tawaran yang jauh lebih menarik daripada sekadar uang receh anak ini."
Ia mencondongkan tubuh.
"Saya mau kamu bertarung. Di ring saya."
Bima membeku. "Saya udah pensiun."
"Pensiun?" Broto tertawa. "Palu Garuda nggak pernah pensiun. Dia cuma sembunyi. Dengar, Bima. Reputasi kamu masih hidup di dunia bawah tanah. Mantan juara nasional yang membunuh lawannya di ring resmi—orang-orang akan bayar mahal buat lihat kamu bertarung lagi. Sangat mahal."
"Saya bilang—"
"Satu pertandingan." Broto mengangkat jari. "Kamu menang, utang anak ini lunas. Nol. Bersih. Dan saya kasih kamu bonus, cukup buat memperbaiki sasana tua itu." Ia menyandar. "Kamu kalah... yah, anak ini yang bayar utangnya. Dengan cara dia bertarung di sini, setiap minggu, sampai lunas. Atau sampai mati. Mana yang lebih dulu."
Hening. Di bawah, kerumunan meraung saat seorang petarung jatuh tersungkur, tak bergerak.
Bima menatap Arga. Bocah itu pucat, tubuhnya gemetar. Tiga hari latihan tak cukup. Anak itu takkan bertahan satu ronde pun di neraka ini.
"Lawan saya siapa?" tanya Bima.
Mata Broto berkilat. Ia tahu ia sudah menang.
"Nanti kamu tahu. Tapi tenang, saya jamin pertarungan yang setimpal." Ia mengulurkan tangan. "Jadi, gimana, Palu Garuda? Mau naik ring sekali lagi?"
Bima menatap tangan itu. Lalu menatap Arga. Lalu, jauh di dalam ingatannya, ia melihat wajah Reza, tersenyum, berkata, *Bima tetap saudaraku.*
Ia tak ingin naik ring lagi. Setiap serat dalam tubuhnya menjerit menolak. Tapi bocah ini—bocah keras kepala yang mengingatkannya pada dirinya sendiri belasan tahun lalu—tak punya siapa-siapa selain dirinya.
Bima menjabat tangan Broto.
"Saya naik ring," katanya. "Tapi kalau saya menang, anak ini nggak pernah kamu sentuh lagi. Selamanya."
Broto tersenyum lebar. "Tentu saja. Saya orang yang menepati janji." Ia menoleh ke plontos. "Siapkan pertandingan minggu depan. Palu Garuda kembali ke ring."
Saat mereka keluar dari gudang itu, Arga mencengkeram lengan Bima. "Mas, kamu nggak harus lakuin ini. Ini salah saya—"
"Diam dan dengar," potong Bima, suaranya keras. "Mulai besok, latihan ganda. Bukan cuma kamu yang harus siap. Aku juga." Ia menatap bocah itu dalam gelap. "Tiga tahun aku lari dari ring. Sekarang ring yang ngejar aku. Mungkin emang udah waktunya aku berhenti lari."