"Berhenti!" Suara Broto memotong deru kerumunan.
Pertarungan terhenti. Bima dan Gento membeku di tengah ring, napas tersengal. Broto melangkah naik ke matras, perlahan, tangannya di saku, ekspresinya tak lagi tersenyum. Ada Jagur di belakangnya, dan lima centeng lain, dan sesuatu yang dingin di udara.
"Pertarungan yang menarik," kata Broto pelan, berjalan mengelilingi keduanya. "Tapi aku sudah lama di bisnis ini. Aku tahu bedanya orang yang bertarung untuk menang... dan orang yang bertarung untuk mengulur waktu." Ia berhenti, menatap Bima. "Apa yang kalian tunggu, Bima? Polisi?"
Bima merasakan darahnya membeku.
Broto memberi isyarat. Salah satu centeng menyeret Sinta ke tengah ruangan, merebut ponselnya, melemparkannya ke lantai beton — layar pecah. "Wartawan kecil ini merekam dari tadi," kata Broto. "Pengawalku melihatnya sepuluh menit lalu." Ia menatap balkon, ke arah para bos sindikat yang kini berdiri gelisah. "Tenang, Tuan-tuan. Rekamannya sudah kami amankan."
"Bima!" teriak Sinta, meronta di cengkeraman centeng. "Mereka—"
Lalu semuanya runtuh sekaligus.
Pintu gudang menggebrak — tapi bukan aparat. Centeng Broto yang lain, masuk membawa Hendra yang berdarah di pelipis, terhuyung. "Bos! Pria ini menelepon polisi dari luar. Kami sudah urus. Tapi—" Hendra didorong jatuh ke lantai. Rencana Hendra ketahuan. Kontaknya, entah bagaimana, telah dicegat oleh jaringan Sahrul yang punya orang di mana-mana.
Bang Sahrul turun dari balkon dengan tenang, tersenyum pada Broto. "Sudah kubilang, Broto. Si tukang pel ini cerdik. Untung aku punya orang di kantor polisi distrik." Ia menatap Bima dengan rasa kasihan yang menghina. "Kau menolak tawaranku. Sayang sekali. Aku akan senang punya petarung sepertimu. Sekarang aku cuma akan menikmati kehancuranmu."
Broto mengangguk pada centeng-centengnya. "Bocah itu—" ia menunjuk Arga di belakang tali ring, "—tangkap. Yang lain—" matanya menatap Bima dan Gento, dingin, "—beri mereka pelajaran. Buat contoh."
Yang terjadi berikutnya adalah kekacauan.
Gento mengaum, berbalik melindungi keluarganya, menghantam dua centeng sekaligus — tapi mereka lebih banyak, bersenjata pemukul besi, dan setelah pertarungan panjang staminanya habis. Ia tumbang di bawah hujan pukulan, melindungi kepala ibunya yang menjerit dengan tubuhnya sendiri.
Bima melompat dari ring menuju Arga, tapi tiga centeng menghadangnya. Ia bertarung — bertarung seperti tiga tahun lalu, seperti seorang juara nasional, jab dan hook menjatuhkan dua orang. Tapi mereka terus datang. Sebuah pemukul besi menghantam rusuknya, dan ia mendengar sekaligus merasakan sesuatu retak. Napasnya tersedot keluar. Ia jatuh berlutut.
"Coach!" Arga meronta di tangan centeng yang menyeretnya.
Bima memaksa diri berdiri — *capek itu pilihan, berdiri* — dan mengangkat tangan kanannya, hook kanan terakhir, pukulan terbaik dalam hidupnya, menghantam rahang centeng terdekat sampai lelaki itu tumbang. Tapi saat tangan itu mendarat, saat seluruh tenaganya tertumpah, sebatang pemukul besi turun dari samping dan menghantam tepat di lengan bawah kanannya.
Bunyi itu.
Bunyi yang berbeda dari semua yang pernah Bima dengar. Bukan tulang lawan. Tulangnya sendiri. Nyeri menyambar seperti petir, membakar dari pergelangan hingga bahu, dan tangan kanannya — tangan Palu Garuda, tangan yang membunuh Reza, tangan yang menahan diri di hadapan Gento — terkulai di sisi tubuhnya dengan sudut yang salah.
Bima jatuh. Lututnya menghantam beton dingin. Dunia mengabur.
Dari kejauhan ia mendengar Sinta menjerit namanya. Ia mendengar Arga meraung, diseret menjauh ke kegelapan gudang. Ia mendengar Gento mengerang. Ia mendengar Broto, di suatu tempat di atas semua kekacauan, berkata dengan suara yang nyaris menyesal:
"Lihat, Bima. Inilah yang terjadi kalau orang sepertimu mencoba melawan dunia sepertiku. Kau membangun sasana, kau mengumpulkan bukti, kau menyatukan orang. Dan dalam satu malam, semuanya—" jentikan jari, "—lenyap."
Lalu ponsel Broto berbunyi. Suara di seberang. Wajah Broto berubah — kabar buruk. Pak Darto, yang menonton siaran gelap dari ranjang rumah sakitnya entah bagaimana, atau yang mendengar kabar dari seseorang — kambuh. Jantungnya. Syok.
Bima, dari lantai, dengan tangan kanan yang patah dan rusuk yang retak, hanya bisa menatap langit-langit gudang yang berkarat. Lampu sorot membakar matanya. Air mata mengalir ke pelipisnya, bercampur darah dan keringat.
Arga ditahan Broto. Sinta dipukuli. Gento tumbang. Hendra berdarah. Jagur—di suatu tempat dalam kekacauan—mulai dicurigai membelot. Pak Darto sekarat di rumah sakit. Dan tangan kanannya, satu-satunya senjata yang ia punya, patah di lantai beton yang dingin.
Malam paling kelam. Semua yang ia bangun, runtuh dalam satu malam.
Bima menutup matanya. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia tak mendengar suara Reza. Hanya kegelapan.