Mereka mengitari satu sama lain perlahan.
Gento maju lebih dulu — harus maju, karena keluarganya menonton dengan plester di mulut dan teror di mata. Pukulan pertamanya mendarat di lengan Bima, keras, tapi Bima merasakannya: Gento menahan sedikit. Tidak cukup untuk dilihat Broto. Cukup untuk dirasakan Bima.
"Kamu nahan," bisik Bima saat mereka saling kunci di tengah ring, tubuh menempel, napas bercampur. Kerumunan mengira mereka bergulat.
"Kamu juga," balas Gento, suaranya tertelan deru penonton. "Aku nggak mau lukai kau, Palu. Tapi mereka—"
"Aku tahu." Bima mendorong lepas, melompat mundur dengan footwork yang mengalir, memberi tontonan. Pukulan Gento melayang melewati telinganya, dekat tapi disengaja meleset oleh keduanya. "Dengar. Kita main panjang. Kita bikin mereka kira ini pertarungan sungguhan. Sementara itu—" ia menunduk dari ayunan kidal, menempel lagi, "—Sinta merekam semua. Bos-bos itu, taruhan, sandera. Maya bawa data. Cuma butuh waktu."
Gento menghantam rusuk Bima — pukulan asli ini, karena seorang centeng Broto mendekat dan ia harus meyakinkan. Bima merintih, tapi memutar tubuhnya menyerap sebagian besar daya. Ia membalas dengan jab cepat ke wajah Gento — dikontrol, hanya cukup untuk membuat darah di alis raksasa itu, hanya cukup untuk tontonan.
"Berapa lama?" geram Gento di antara serangan.
"Sampai aparat sampai. Hendra ngabarin mereka." Bima menari mundur, mengelilingi Gento, membuat lelaki besar itu berputar dan menghabiskan stamina — kebiasaan lama, naluri lama, melelahkan lawan. Tapi kali ini bukan untuk menang. Untuk mengulur. "Kamu tahan napas, jangan boros. Kita berdua perlu bertahan."
Dari sudut ring, Broto mengamati dengan mata menyipit. Sesuatu mengganggunya. Pertarungan ini terlihat sengit — pukulan beterbangan, darah mengalir, kerumunan meraung — tapi ada yang tidak beres dalam ritmenya. Terlalu... terkoreografi. Ia melihat Bima berbisik. Melihat Gento mendengar.
Di sudut yang lain, Sinta menggerakkan ponselnya pelan, menyapukan kamera ke balkon, merekam wajah-wajah bos sindikat, layar taruhan, sandera yang terikat. Jantungnya berdebar. Di sampingnya, Hendra menatap ponselnya sendiri, menunggu balasan dari kontaknya di komisi dan aparat. *Sebentar lagi,* pesannya berbunyi. *Mereka di jalan. Ulur waktu.*
Di ring, Bima dan Gento menari kematian palsu mereka. Bima jatuh sekali, sengaja, berguling, bangkit — memberi Broto kepuasan, memberi waktu mengalir. *Capek itu pilihan, berdiri,* batinnya, sambil benar-benar memilih bangkit. Gento mengejar, lambat, menahan, keduanya bermandi keringat dan darah tipis, dua petarung yang patah menemukan martabat aneh di tengah pertunjukan yang dipaksakan pada mereka.
"Kenapa kau tahan pukulanmu malam itu?" Gento bertanya lagi, di antara serangan, pertanyaan yang sama yang membawanya ke sasana. "Yang dulu. Yang bisa bunuh aku."
Bima menyerap pukulan ke bahu, lalu mendekat, berbisik di telinga raksasa itu di tengah deru kerumunan: "Karena tinju bukan soal membunuh. Aku pernah membunuh. Aku nggak mau ada yang jatuh lagi karena tanganku. Termasuk kamu."
Sesuatu pecah di dalam Gento. Bukan tulang. Sesuatu yang lebih dalam. Mata raksasa itu basah lagi, dan ia mengangguk samar.
Bima melihat strateginya: ia harus kalah secara taktis. Kalau ia mengalah perlahan, jatuh meyakinkan, Broto akan terlena, akan turun ke ring untuk merayakan kemenangannya, akan membuka kartunya di depan kamera tersembunyi Sinta — mengakui sandera, mengakui kontrak, mengakui semuanya, di hadapan rekaman yang akan menjeratnya. Bima akan mengorbankan kemenangan fisik untuk memancing pengakuan.
Rencana yang rapuh. Rencana yang bergantung pada timing aparat, pada Sinta yang tak ketahuan, pada Broto yang terlena.
Bima mulai melambat. Mengizinkan pukulan Gento mendarat lebih sering. Membiarkan dirinya terdesak ke tali ring, seperti tiga tahun lalu di ring nasional, seperti malam ia melawan Gento yang pertama. Punggungnya menyentuh tali. Ia membiarkan lututnya gemetar, kelelahan yang setengah palsu setengah nyata.
"Ulur lagi sedikit," bisiknya pada Gento. "Lalu jatuhkan aku. Pelan. Biar Broto turun."
Tapi di sudut ring, Broto sudah berdiri. Matanya menyipit menjadi celah. Tangannya mengisyaratkan pada Jagur. Dan di balkon, Bang Sahrul tersenyum tipis — senyum seseorang yang melihat lebih banyak dari yang seharusnya.
Sesuatu telah salah. Broto mencium pengkhianatan.